Gonta Ganti Kebijakan Konversi, Dulu Gencar ke Gas Kini ke Listrik

Kamis, 22/09/2022 19:30 WIB
Pekerja saat bongkar muat tabung Gas Elpiji 3 Kg Subsidi di salah satu agen gas di Jakarta Pusat, Senin (19/9/2022). Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif mengungkapkan keseriusan pemerintah dalam melakukan program konversi kompor gas berbahan LPG 3 kg menjadi kompor listrik atau kompor induksi. foto:coky

Pekerja saat bongkar muat tabung Gas Elpiji 3 Kg Subsidi di salah satu agen gas di Jakarta Pusat, Senin (19/9/2022). Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif mengungkapkan keseriusan pemerintah dalam melakukan program konversi kompor gas berbahan LPG 3 kg menjadi kompor listrik atau kompor induksi. foto:coky

Jakarta, law-justice.co - Pemerintah tengah gencar-gencarnya mengampanyekan konversi penggunaan kompor berbahan bakar elpiji diganti dengan kompor listrik maupun kompor induksi.


Dilansir dari Kompas.com, Kamis (22/9/2022) Pemerintah bahkan akan membagi-bagikan secara gratis paket lengkap kompor listrik seharga Rp 1,8 juta untuk ratusan ribu kepala keluarga dalam program tersebut.

Jika berhasil, program konversi kompor listrik ini juga diharapkan bisa jadi solusi masalah kerugian PLN akibat kelebihan pasokan atau oversupply listrik PLN, terutama untuk jaringan Jawa-Bali, seiring banyaknya pembangkit baru yang terus dibangun.

Sementara secara terpisah, PLN sendiri juga giat mengampanyekan konversi kompor listrik. Setelah Solo dan Denpasar, DKI Jakarta akan menjadi sasaran pilot project konversi elpiji 3 kg ke kompor induksi berikutnya.

PLN akan membagikan 10.000 unit kompor induksi kepada warga ibu kota mulai bulan Oktober mendatang. Perusahaan setrum negara itu juga memberikan sejumlah insentif untuk peningkatan daya para pelanggannya.

Terkait kebutuhan daya kompor induksi yang sangat besar, PLN akan menambah daya listrik keluarga penerima manfaat agar bisa menggunakannya.

Apa kabar proyek jargas?

Kampanye konversi elpiji ke kompor listrik seakan jadi ironi saat proyek pembangunan jaringan gas (jargas) untuk pelanggan rumah tangga belum optimal.


Melalui sambungan jargas, masyarakat diharapkan mau beralih dari elpiji diganti dengan menggunakan gas alam melalui pipa distribusi.

Sebagai informasi saja, pasokan gas alam sangat melimpah di Indonesia yang justru diekspor ke luar. Sebaliknya, elpiji merupakan bahan bakar yang selama ini harus diimpor sehingga berdampak negatif pada neraca perdagangan.

Melimpahnya gas alam di Indonesia tidak bisa dimanfaatkan dengan optimal lantaran kurangnya infrastruktur pipa gas.

Dikutip dari Kontan, misalnya saja, proyek jargas yang menggunakan dana APBN 2009-2020 tidak berjalan mulus. Nilai lost opportunty ditaksir mencapai Rp 1 miliar per tahun akibat jargas yang sudah terbangun ternyata tidak terpakai.

Pembangunan jargas dalam APB 2009-2020 yang meliputi 17 provinsi telah mencapai total 537.496 sambungan rumah (SR), namun menyisakan 108.976 SR yang belum terpakai.

Penggunaan dana APBN dalam pembangunan pipa jargas SR ini lantaran nyaris tidak ada pihak swasta yang tertarik.

Alasannya, alokasi gas yang disalurkan ke SR terbilang kecil dibandingkan konsumsi pelanggan industri, sehingga secara hitungan ekonomi tidaklah menguntungkan.

Masalah lainnya, yakni masalah pasokan gas yang naik turun. Terlebih pembangunan infrastrukturnya cukup mahal.

Hal serupa juga terjadi pada kendaraan berbahan bakar gas, di mana pemerintah awalnya juga gencar membangun SPBG. Namun kini arah angin berubah, di mana pemerintah kini ganti giat mengampanyekan stasiun pengisian listrik umum (SPLU) untuk mobil listrik.

Hingga saat ini, cukup banyak SPBG yang sudah terlanjur dibangun juga tercatat mangkrak.


Konversi minyak tanah ke elpiji


Di era Presiden SBY, upaya konversi minyak tanah ke elpiji juga jadi kontroversi. Ini karena pemerintah lebih memilih penggunaan elpiji yang harus diimpor ketimbang memanfaatkan gas alam Indonesia.

Sejatinya, sebelum muncul konversi minyak tanah ke elpiji, sempat muncul pula rencana konversi dari minyak tanah ke batu bara. Belakangan, konversi penggunaan gas batu bara juga kembali mengemuka beberapa tahun belakangan ini.

Gagasan konversi minyak tanah ke batu bara yang saat itu sudah mulai dikampanyekan tiba-tiba dibatalkan begitu saja.

Kala itu, Wakil Presiden Jusuf Kalla, medio 2006, tiba-tiba menyatakan bahwa konversi ke batu bara diganti ke elpiji. Pergantian konversi secara tiba-tiba sempat membuat masyarakat kebingungan.

Penggunaan elpiji ketimbang minyak tanah memang memiliki sejumlah kelebihan seperti harga yang lebih murah maupun dari sisi kepraktisan dan kebersihan.

Saat awal-awal konversi minyak tanah ke elpiji, minyak tanah mulai hilang dari pasaran yang memicu banyak protes masyarakat.

 

(Devi Puspitasari\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar