WHO Bakal Akhiri Pandemi, Apa Kabar Ekonomi Indonesia?

Senin, 19/09/2022 21:20 WIB
Menteri Keuangan Sri Mulyani (VOI)

Menteri Keuangan Sri Mulyani (VOI)

Jakarta, law-justice.co - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut pandemi Covid-19 segera berakhir. Pandemi menyebabkan tekanan terhadap ekonomi dunia, Indonesia merupakan sedikit negara yang pulih dengan cepat.

Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual menilai ekonomi Indonesia sudah pulih dari pandemi. Pada kuartal ketiga tahun ini, pertumbuhan bahkan diramal mencapai 6%. "Terutama karena realisasi pertumbuhan ekonomi yang rendah pada kuartal ketiga tahun lalu," kata David, dikutip dari Katadata, Senin (19/9/2022).

Menteri Keuangan Sri Mulyani menyebut ekonomi Indonesia sudah bangkit dari pandemi sejak tahun lalu. Level Produk Domestik Bruto (PDB) Riil Indonesia tahun lalu sudah mencapai 1,6% di atas level 2019 atau sebelum pandemi.


Pemulihan ekonomi berlanjut tahun ini. Perekonomian domestik berhasil tumbuh 5,23% sepanjang semester pertama 2022. Realisasi paruh pertama tahun ini bahkan sudah 7,1% di atas level sebelum pandemi. Pemulihan ekonomi Indonesia menjadi yang paling kuat setelah Cina dan India di dalam kelompok negara G20.

"Kalau dilihat dari kinerja pemulihan ekonomi Indonesia, dibandingkan negara-negara di Grup G20 ataupun ASEAN, Indonesia termasuk perekonomian yang pulih secara relatif cepat dan tinggi," kata Sri Mulyani dalam dalam rapat kerja dengan Badan Anggaran (Banggar) DPR RI, Selasa (30/8).

Pada semester pertama tahun ini, beberapa negara belum pulih, misalnya Italia masih 0,2% di bawah level 2019. Mexico masih 1,7% lebih rendah, Thailand 2,7% hingga Jepang masih 2,9% di bawah level normal.

David memperkirakan pertumbuhan ekonomi tahun ini bahkan lebih tinggi dari tahun lalu yakni mencapai 5%-5,3%. Jika tidak meleset, ini merupakan realisasi pertumbuhan di kisaran 5% untuk pertama kalinya setelah terakhir kali 2019 mencapai 5,02%.


Namun, pemulihan masih belum sepenuhnya merata. Meski PDB sudah melampaui level pra pandemi, sejumlah sektor masih mengalami yang disebut scarring effect alias luka memar akibat pandemi.

"Misalnya industri penerbangan yang sepertinya baru sekitar 60-70% dari posisi sebelum pandemi, akomodasi dan perhotelan juga belum pulih meskipun cashflow-nya kini sudah mulai bagus, sementara yang lain sudah lebih tinggi dari pra pandemi," kata David.

Meskipun pandemi tampaknya akan berakhir, tapi tantangan Indonesia kini mulai beralih. David menyebut risiko ekonomi Indonesia sekarang beralih ke pengetatan pasar keuangan global. Siklus pengetatan moneter terutama di negara-negara maju telah meningkatkan risiko di investasi portofolio.

Bank sentral AS, The Fed sudah mengerek suku bunga 225 bps dalam empat pertemuan terakhir. Sebelum The Fed mengumumkan kenaikan bunga, volatilitas di pasar keuangan sebetulnya sudah meningkat sejak akhir tahun lalu seiring sentimen tapering off The Fed yang sudah bergulir kencang.

"Perlambatan ekonomi global juga harus kita waspadai, karena mungkin ekonomi dunia ke depan tidak akan sekuat sekarang, pertumbuhannya terpengaruh kenaikan suku bunga dan harga energi tinggi," kata David.

Sri Mulyani dalam beberapa kesempatan sebetulnya berulang kali mengingatkan, risiko ke depan akan bergeser dari pandemi ke sejumlah permasalah. Inflasi tinggi mendorong pengetatan likuiditas dan kenaikan suku bunga. Perlambatan ekonomi kemudian menciptakan stagflasi, yakni kombinasi perekonomian yang stagnan dan inflasi tinggi.

Selain itu, banyak negara juga berjuang dengan masalah penumpukan utang dan kini dihadapkan pada risiko krisis utang global. Pandemi dua tahun terakhir memaksa banyak negara terpaksa berhutang untuk menjaga masyarakat dan perekonomiannya.

Kondisi menimbulkan risiko krisis utang, akibat penumpukan utang terjadi di tengah suku bunga naik atau biaya utang makin mahal.

 

(Devi Puspitasari\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar