Terbuka Untuk Rusia, Ancaman Sanksi AS Tak Menakutkan Bagi Turki?

Sabtu, 27/08/2022 11:20 WIB
Presiden Rusia Vladimir Putin bersama Presiden Turki Tayyip Erdogan (Foto: Istimewa)

Presiden Rusia Vladimir Putin bersama Presiden Turki Tayyip Erdogan (Foto: Istimewa)

Turki, law-justice.co - Peringatan Departemen Keuangan AS kepada Turki bahwa sejumlah perusahaan berisiko terkena sanksi jika mereka melakukan bisnis dengan Rusia "tidak ada artinya", kata Menteri Keuangan Nureddin Nebati, Jumat, 26 Agustus 2022.

Meski merupakan anggota NATO, Turki mencoba imbang dalam menanggapi invasi Rusia ke Ukraina dengan mengkritik Moskow sekaligus mengirim senjata ke Ukraina, namun menentang sanksi Barat dan melanjutkan perdagangan, pariwisata dan investasi dengan Rusia.

Beberapa perusahaan Turki telah membeli atau berusaha untuk membeli aset Barat yang keluar dari Rusia, sementara yang lain mempertahankan aset besar di Rusia. Ankara telah mengulangi bahwa sanksi Barat tidak akan berdampak ke Turki.

Departemen Keuangan AS memperingatkan kelompok bisnis terbesar negara itu TUSIAD dan kementerian keuangan bulan ini bahwa entitas dan individu Rusia berusaha menggunakan Turki untuk melewati sanksi Barat.

"Surat kepada kelompok bisnis Turki yang menimbulkan kekhawatiran di kalangan bisnis tidak ada artinya. Kami senang melihat bahwa Amerika Serikat, sekutu dan mitra dagang kami, mengundang bisnisnya untuk berinvestasi dalam ekonomi kami," kata Nebati dalam sebuah tweet.

"Secara terpisah, kami bertekad untuk meningkatkan hubungan ekonomi dan komersial dengan tetangga kami terutama di bidang pariwisata dan berbagai sektor dalam kerangka yang tidak dikenakan sanksi," katanya.

Semua aktor dalam ekonomi Turki terikat pada prinsip-prinsip pasar bebas dan bekerja untuk mendapatkan bagian yang lebih besar dari perdagangan global, tambah Nebati.

Turki, yang memiliki hubungan dekat dan perbatasan Laut Hitam dengan Rusia dan Ukraina, mengatakan sanksi pada Rusia akan merugikan ekonomi yang sudah tegang dan berpendapat bahwa itu difokuskan pada upaya mediasi antara kedua belah pihak.

Kepala kelompok eksportir logam mengatakan bulan ini bahwa permintaan Rusia telah meningkat untuk produk-produk Turki yang tidak dapat lagi bersumber dari Eropa, dan bahwa perusahaan Turki telah menerima pertanyaan dari pengusaha Eropa tentang memasok Rusia melalui Turki.

 

(Devi Puspitasari\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar