Trump Disebut Bisa Cegah Perang Dunia 3, Ternyata ini Alasannya

Sabtu, 20/08/2022 05:37 WIB
Mantan Presiden AS Donald Trump (CNN)

Mantan Presiden AS Donald Trump (CNN)

New York, Amerika Serikat, law-justice.co - Beberapa konflik global silih berganti menghampiri, belum tuntas soal invasi Rusia di Ukraina dan baru-baru ini kasus Taiwan di mana Amerika Serikat mendukung sepenuhnya pulau itu untuk merdeka namun ditentang oleh Cina hingga diprediksi akan ada Perang Dunia 3.

Dan Perang Dunia 3 ini bukan isapan jempol belaka pasalnya saat ini banyak negara yang meningkatkan latihan militernya untuk menghadapi serangan brutal yang bisa saja datang dari mana saja secara tiba-tiba.

Mengenai Perang Dunia 3 yang diprediksi akan pecah, sosok Donald Trump pahlawan dunia ini lah yang akan berhasil mencegah ancaman global ini.


Pasalnya Mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump terus berbicara tentang Presiden Rusia, Vladimir Putin.

Dan bagaimana Donald Trump akan mencegah Perang Dunia 3 jika dirinya masih berkuasa.

Sebagaimana dilansir dari marca, Donald Trump entah bagaimana berpikir bisa meyakinkan Putin untuk menyerah pada rencananya untuk menyerang Ukraina.

Hal itu merupakan sebuah rencana yang telah dirinya rencanakan selama beberapa dekade.

Seluruh konsep Perang Dunia 3 itu adalah salah satu ungkapan paling menakutkan yang bisa didengar di abad ke-21.

Donald Trump yakin bahwa konflik saat ini di mana Vladimir Putin ingin membawa Ukraina kembali sebagai bagian dari Rusia tidak akan terjadi jika dirinya hanya memiliki kesempatan untuk membujuknya dengan pesonanya.

Inilah yang dikatakan Trump tentang tanggapan Biden terhadap Rusia yang dapat menyebabkan Perang Dunia 3.

Ancaman Perang Dunia 3 Sudah di Depan Mata, Iran Pastikan Sudah Dekat ke Ambang Nuklir dan Bom Atom

Belum selesai konflik Rusia Ukraina, dunia kembali digegerkan dengan permasalahan terbaru yaitu Perang Dunia 3.

Ancaman Perang Dunia 3 ini bukan isapan jempol belaka lantaran Iran sudah menegaskan bahwa negara itu sudah mempersiapkan nuklir dan bom atomnya.

Dengan adanya pemberitaan bahwa Iran sudah mendekat kepada ambang nuklir dan bom atom, ancaman Perang Dunia sudah di depan mata.

Sebelumnya, upaya untuk menghentikan Iran mengembangkan senjata nuklir telah menghasilkan titik akhir, yang telah diserahkan oleh mediator UE kepada AS dan Iran untuk disetujui.

Negosiator untuk kedua belah pihak sekarang berkonsultasi dengan pemimpin masing-masing setelah pembicaraan untuk menghidupkan kembali kesepakatan nuklir Iran 2015 yang secara resmi disebut Rencana Aksi Komprehensif Gabungan (JCPOA) yang diselesaikan di Wina pekan lalu.

Kesepakatan penting, yang ditandatangani oleh AS, Iran, Jerman, Prancis, Inggris, Rusia, dan China, ditinggalkan oleh Washington pada 2018 di bawah Presiden Donald Trump saat itu.

Sebagaimana dilansir dari express, di bawah kesepakatan itu, Teheran setuju untuk membatasi program nuklirnya dengan imbalan keringanan sanksi AS yang dirancang untuk melumpuhkan ekonominya.

Iran telah sering memperingatkan kemampuannya untuk mengembangkan nuklir tetapi telah mengklaim program nuklirnya semata-mata untuk tujuan energi.

Pakar nuklir terkemuka, Andrea Stricker telah memperingatkan bahwa Iran menyeret kakinya dalam pembicaraan dengan AS untuk secara diam-diam membuat kemajuan menuju mendapatkan nuklir.

Di lain kesempatan Andrea Stricker memberikan pernyataannya.

"Dalam pandangan saya, mereka menggunakan negosiasi sebagai cara untuk memajukan program nuklir mereka.

Jadi, mereka semakin dekat dengan apa yang kita sebut ambang nuklir,

Dan jika kalian menganggapnya seperti melangkahi satu langkah, itu akan membawa mereka ke jalan terakhir menuju bom atom.

Begitu mereka berada di ambang ini, secara teknis terlihat sangat dekat dengan kemampuan untuk membuat senjata nuklir sehingga mereka mungkin dapat melakukannya sebelum kekuatan asing dapat menghentikannya.

Jadi begitulah cara kami melihat tindakan mereka. Mereka bisa saja menarik pembicaraan untuk membuat kemajuan rahasia.

Terutama dalam program persenjataan nuklir, karena itu adalah salah satu pilar program mereka yang belum mereka capai di awal 2000-an,"ungkap Andrea Stricker dikutip dari express, Jumat (12/8/2022).

Peringatannya tentang Iran datang setelah kepala energi atom negara itu mengklaim Iran dapat membuat senjata nuklir.

Perdana Menteri Israel, Naftali Bennett juga memperingatkan pada bulan Juni bahwa Iran sangat dekat untuk membangun senjata nuklir.

Para ahli telah memperingatkan bahwa Iran telah memperkaya uranium pada tingkat kemurnian lebih dari 60 persen, yang berarti mendekati tingkat tingkat senjata 90 persen.

(Devi Puspitasari\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar