Tak Sanggup Atasi Krisis, Kepala Bank Sentral Mesir Pecat Diri Sendiri

Kamis, 18/08/2022 11:20 WIB
Pemadaman listrik kerap terjadi di Mesir akibat krisis energi (Picture Allience)

Pemadaman listrik kerap terjadi di Mesir akibat krisis energi (Picture Allience)

Mesir, law-justice.co - Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi menerima pengunduran diri Tareq Amer, yang mulai bertugas sejak 2015 dan akan tetap menjabat sampai tahun depan, surat kabar pemerintah Al-Ahram melaporkan. Tetapi masih belum ada kabar siapa yang akan menggantikan posisinya di Bank Sentral.

Mesir sedang menghadapi masa-masa sulit ekonomi. Sementara itu dilaporkan, nilai tukar mata uang Mesir jatuh lagi dan mencapai nilai tukar terendah kedua dalam catatan sejarahnya. Devaluasi terburuk terjadi pada musim dingin 2016, yang dalam statistik tercatat sebagai devaluasi terburuk dalam sejarah Mesir.

Awal tahun ini, pemerintah Mesir telah mendevaluasi mata uangnya sebesar 14%, ketika para investor asing menarik dolar keluar dari pasar setelah invasi Rusia ke Ukraina. Awal pekan ini, layanan berita keuangan Bloomberg mengisyaratkan bank sentral negara itu, mungkin akan mencoba melakukan hal yang sama lagi.


30 juta orang di bawah garis kemiskinan


Sebagai pengimpor gandum terbesar di dunia, Mesir telah terpukul sangat parah oleh perang antara dua pemasok utamanya - Rusia dan Ukraina - yang membuat harga bahan pangan global melonjak. Harga beberapa bahan makanan bahkan telah meningkat sebanyak 66 persen, mendorong inflasi ke kisaran 15 persen.

Sekitar 30 juta dari 103 juta penduduk Mesir, sekarang hidup di bawah garis kemiskinan, dengan lebih banyak lagi yang hidup dalam ancaman bahaya kelaparan, menurut angka Bank Dunia. Lembaga pemeringkat Moody`s menurunkan prospek Mesir dari stabil menjadi negatif, dengan alasan meningkatnya risiko kerusuhan sosial yang dipicu oleh anjloknya standar hidup.

Cadangan devisa telah turun dari USD 41 miliar pada Februari menjadi USD 33,1 miliar saat ini. Kemerosotan terus terjadi, meskipun ada dukungan dari sekutu dekat Arab Saudi yang mendepositokan lima miliar dolar di bank sentral pada akhir Maret.

Konsekuensi utama lain dari perang Ukraina terhadap keuangan Mesir, adalah penurunan tajam turis Rusia dan Ukraina. Hal ini berdampak besar pada industri pariwisata Mesir, sektor ekonomi yang masih dalam masa pemulihan dari pandemi COVID-19. Pihak berwenang Mesir sedang dalam pembicaraan dengan Dana Moneter Internasional IMF terkait dana talangan baru, karena utang publik telah mencapai 90 persen dari PDB.


Pemadaman listrik


Serangkaian langkah-langkah penghematan baru dilakukan, antara lain jalan-jalan, lapangan kota, toko-toko dan mal akan tanpa penerangan listrik setelah jam 11 malam. Suhu maksimum untuk AC di pusat perbelanjaan dan toko juga dibatasi hingga 25 derajat Celcius, sebelumnya di bawah 20 derajat Celcius.

Menurut Perdana Menteri Mesir Mustafa Madbouly, rencana penghematan gas terbaru akan mengikuti skema sederhana dan langsung. Dengan memotong 15% dari konsumsi listrik domestik, lebih banyak gas alam dapat dihemat.

"Pengumuman pemerintah Mesir datang di tengah puncak "musim pendinginan", ketika ekspor gas biasanya turun drastis karena permintaan domestik meningkat," kata Alice Gower, direktur geopolitik dan keamanan di biro konsultan Azure Strategy yang berbasis di London.

Hingga saat ini, 60% dari produksi gas alam domestik negara itu telah digunakan untuk menghasilkan listrik bagi publik Mesir. Jika rencana Madbouly diterapkan sepenuhnya, itu bisa menghemat dan menabung hingga sekitar 174 juta meter kubik gas per hari.

 

(Devi Puspitasari\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar