Mengenal Virus Langya yang Disebut-sebut Lebih Berbahaya dari Covid-19

Sabtu, 13/08/2022 21:00 WIB
Ilustrasi Virus Langya (Pixabay)

Ilustrasi Virus Langya (Pixabay)

Jakarta, law-justice.co - Pandemi Covid-19 sudah berjalan lebih dari tiga tahun dan hingga kini belum juga mereda. Covid-19 melanda hampir semua negara di dunia, termasuk Indonesia.

Sejumlah ilmuwan belum menemukan obat yang benar-benar ampuh untuk mengatasi Covid-19. Salah satu upaya yang bisa dilakukan untuk membentengi diri kita dari virus tersebut adalah dengan melakukan vaksinasi.

Dan kini dunia kembali dikejutkan dengan kemunculan sebuah virus baru setelah pandemi Covid-19. Kali ini, virus itu diketahui bernama Langya yang ditularkan dari hewan.

Virus yang juga bernama Langya henipavirus (LayV) itu diketahui dapat menginfeksi manusia. Virus tersebut telah menginfeksi sekitar 35 orang di China, menurut laporan Taipei Times.

Hal ini pun memunculkan kekhawatiran mengenai potensi bahwa LayV akan berkembang menjadi pandemi layaknya Covid-19. Namun menurut Epidemiolog dari Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman, kemungkinan virus ini menjadi pandemi masih terlalu kecil lantaran jumlah kasus yang juga masih sedikit.

"Sejauh ini kecil kemungkinan karena data yang ada ini bukan baru ini, ini 2018. Dari 2018 sampai 2021 atau sampai sekarang, 35 orang-an itu terinfeksi. Jadi, lambat dan tidak mudah. Bahkan, belum ada bukti adanya penularan antara manusia, sehingga bagaimana mau jadi ancaman pandemi. Boro-boro pandemi, menjadi epidemi aja nggak gitu," ucapnya kepada detikcom, Jumat (12/8/2022).

"Jadi, ini masih jauh dari kemungkinan menjadi pandemi," sambungnya lagi.

Meski begitu, Dicky mengingatkan bahwa LayV memiliki potensi yang cukup berbahaya seperti virus lainnya. Apalagi, virus ini masih satu keluarga dengan virus nipah yang memiliki angka kematian hingga 70%.

Virus LayV sendiri pertama kali dilaporkan dalam sebuah studi berjudul A Zoonotic Henipavirus in Febrile Patients in China yang dirilis pada pekan lalu. Studi itu membahas soal henipavirus baru yang berhubungan dengan penyakit penyebab demam pada manusia yang teridentifikasi di China.

Henipavirus dapat menyebabkan penyakit parah pada hewan dan manusia dan diklasifikasikan sebagai virus biosafety Level 4 dengan tingkat kematian kasus antara 40%-75%, menurut data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Virus LayV bisa menyebabkan kematian dengan tingkat resiko yang lebih tinggi dari Covid-19. Namun, saat ini tidak ada vaksin atau pengobatan untuk Henipavirus dan satu-satunya pengobatan adalah perawatan suportif untuk menyembuhkan gejala komplikasi.

(Rio Rizalino\Editor)

Share:
Tags:




Berita Terkait

Komentar