Fakta Mengerikan Karoshi di Jepang, Kerja Sampai Mati Tanpa Cuti

Jum'at, 12/08/2022 08:10 WIB
Pekerja kantoran di Jepang (Japan Station)

Pekerja kantoran di Jepang (Japan Station)

Tokyo, Jepang, law-justice.co - Fakta karoshi tidak terlepas dari Jepang sebagai negara yang memiliki citra kerja tinggi dan penduduk gila yang kerja sepertinya benar-benar ada. Selain memiliki watak tak mudah menyerah, penduduk negara ini juga terkait dengan lamanya waktu bekerja bahkan hingga menyebabkan kematian.
Fenomena banyaknya pekerja di negara Jepang yang meninggal dunia karena kelelahan bekerja ini disebut dengan Karoshi.


Fenomena banyaknya pekerja di negara Jepang yang meninggal dunia karena kelelahan bekerja ini disebut dengan Karoshi.

Fenomena karoshi di Jepang menjadi isu yang sangat hangat dalam beberapa tahun terakhir. Pemerintah di Jepang pun melakukan berbagai cara agar hal ini tidak terus terjadi di negara matahari terbit tersebut. Lalu apa saja fakta di balik fenomena Karoshi ini? Simak ulasan yang dirangkum dari berbagai sumber sebagai berikut.

1. Kasus Pertama pada Tahun 1969
Karoshi pertama kali terjadi pada tahun 1969. Waktu itu, seorang pria berusia 29 tahun, sudah menikah, bekerja di departemen pengiriman surat terbesar di Jepang. Dia meninggal karena timbulnya serangan di kantornya. Biro Kompensasi Pekerja Kementerian Tenaga Kerja Jepang menganggap bahwa kerja berlebihan adalah penyebab kematian pria tersebut.

2. Takut Dipecat
Banyak hal yang menyebabkan para pekerja di Jepang rela bekerja sangat keras. Mereka biasanya takut dipecat jika bekerja dengan tidak maksimal.

Alhasil para pekerja pun bekerja dengan lebih agar terlihat produktif di depan atasannya. Dengan lebih produktif mereka berharap bisa naik gaji atau karier lebih tinggi. Sayangnya, banyak yang tidak peduli lagi dengan faktor kesehatan.

Lebih parah lagi, alih-alih ingin terlihat lebih maju dibanding pegawai lain, terkadang apa yang dilakukan pegawai jepang ini malah sia-sia. Pihak perusahaan seringkali tidak memberi ketidakseimbangan sesuai dengan pengorbanan para pegawai. Ada yang rela melakukan lembur meski pada akhirnya tidak dibayar.

3. Penyebab Meninggal karena Sakit
Dalam tahun-tahun berikutnya, karoshi menjadi fenomena yang semakin dikenal di Jepang, terutama di kalangan pekerja kera putih atau yang dikenal "salary men". Penyebab dari karoshi biasanya serangan jantung dan stroke.

4. Bisa Menuntut Uang Ganti Rugi
Penduduk Jepang yang memiliki anggota keluarga yang meninggal karena Karoshi, dapat mengajukan ganti rugi pada perusahaan tempat orang tersebut bekerja. Pemerintah Jepang sudah menetapkan parameter untuk penduduk yang meninggal karena karoshi.

Dalam kasus bunuh diri, seseorang bisa mengklaim kompensasi karoshi jika korban bekerja sedikitnya 160 jam lembur dalam satu bulan atau lebih dari 100 jam lembur tiga bulan berturut-turut.

Pada Desember 2015, pengelola Watami, sebuah jaringan restoran ternama di Jepang, harus membayar kompensasi sebesar 130 juta yen untuk keluarga Mina Mori (26) yang bunuh diri karena terlalu banyak bekerja lembur.

Mori bunuh diri pada Juni 2008, hanya dua bulan setelah bekerja di Watami. Dalam masa kerja yang singkat itu, dia dipaksa bekerja panjang sehingga hanya memiliki sedikit waktu untuk istirahat.

5. Upaya Pemerintah Jepang
Untuk mengatasi masalah seperti ini, pemerintah Jepang. Biasanya dalam satu bulan hanya boleh sampai maksimal 30 jam saja.

Selain yang dilakukan oleh pemerintah, perusahaan besar otomotif di Jepang juga mulai memperhatikan kesehatan dari para pegawainya. Mereka menyuruh pekerja pulang setelah pukul 19.00 atau pulang lebih awal jika memiliki anak kecil di rumah. Strategi ini terbukti menurunkan angka karoshi meski tidak signifikan.

Nah, itu 5 fakata mengenai fenomena pekerja Jepang yang banyak meninggal karena ambisi kerja yang tinggi. Kamu kalau lelah berkerja, istirahat sejenak ya. Sayangi diri kamu dari hal-hal yang terkecil!

 

(Devi Puspitasari\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar