Sepi Penumpang, LRT Dianggap Salah Buat Rute Tanpa Dilengkapi Kajian

Jum'at, 12/08/2022 07:30 WIB
Calon penumpang Light Rail Transit (LRT) Jakarta memindai kartu saat memasuki Stasiun Velodrome, Rawamangun, Jakarta Timur, Kamis (24/3). Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengusulkan kepada DPRD DKI Jakarta terkait penetapan tarif integrasi transportasi Transjakarta, MRT dan LRT Jakarta sebesar Rp 10.000 untuk menghemat biaya perjalanan pengguna transportasi umum di Jakarta. Robinsar Nainggolan

Calon penumpang Light Rail Transit (LRT) Jakarta memindai kartu saat memasuki Stasiun Velodrome, Rawamangun, Jakarta Timur, Kamis (24/3). Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengusulkan kepada DPRD DKI Jakarta terkait penetapan tarif integrasi transportasi Transjakarta, MRT dan LRT Jakarta sebesar Rp 10.000 untuk menghemat biaya perjalanan pengguna transportasi umum di Jakarta. Robinsar Nainggolan

Jakarta, law-justice.co - Sudah 2,5 tahun beroperasi, pengguna LRT Jakarta masih relatif sepi dan jauh dari target awal.

Bahkan manajemen LRT Jakarta masih harus menggelar berbagai kegiatan promosi guna menarik minat pengunjung untuk menggunakan moda kereta ringan itu.

Pengamat tata kota dari Universitas Trisakti Nirwono Joga menilai, masih sepinya peminat LRT Jakarta ini disebabkan kajian awal terkait penentuan rute yang tidak tepat.

"Sejak awal rute/koridor LRT tidak didukung kajian target penumpang yang tepat, dari mana dan mau kemana mereka, harusnya disesuaikan dengan kebutuhan mobilitas warga apakah membutuhkan LRT atau tidak," kata Nirwono, Dikutip dari Kompas, Jumat (12/8/2022)


Nirwono menilai rute LRT Jakarta yang membentang dari Kelapa Gading sampai ke Velodrome Rawamangun tidak strategis untuk menjaring banyak penumpang.

Rute itu juga terlalu pendek, dengan panjang total 5,8 kilometer.

Rute/koridor LRT harusnya merupakan jalur yang memiliki target banyak penumpang. Istilahnya jalur daging, bukan tulang, misal melewati kawasan permukiman, perkantoran, sekolah, pusat perbelanjaan, sehingga kehadiran LRT memang dibutuhkan oleh masyarakat," kata dia.

Nirwono pun menilai pemerintah harus melakukan penataan ulang kawasan di sepanjang koridor LRT guna menarik lebih banyak warga ibu kota yang mau menggunakan moda transportasi itu.

Penataan itu misalnya bisa dilakukan dengan merevitalisasi trotoar dan JPO dari kawasan permukiman ke stasiun LRT terdekat.

Selain itu, integrasi juga bisa dilakukan dari stasiun ke seluruh bangunan perkantoran atau pusat perbelanjaan.

"Terakhir, integrasi antara stasiun dengan halte bus Transjakarta juga harus terus dimaksimalkan," ujar Nirwono.


Nirwono pun menekankan bahwa sepinya LRT Jakarta ini harus menjadi bahan evaluasi terhadap seluruh rute LRT yang sedang dan akan dibangun pemerintah.

"Jika tidak menjanjikan, maka sebaiknya rute LRT yang masih dalam tahap rencana ditunda/dibatalkan, sedangkan yang sudah terlanjur dibangun harus segera dicarikan sumber-sumber calon penumpang LRT tersebut," katanya.

PT LRT Jakarta sebelumnya mengakui masih berupaya menggenjot jumlah penumpang, salah satunya melalui wahana Train to Apocalypse bekerjasama dengan Pandora Box.

Train to Apocalypse terinspirasi dari film Train to Busan yang dirilis tahun 2016. Pengguna atau warga disuguhkan wahana hiburan teatrikal menghadapi zombi di stasiun hingga gerbong.

GM Corporate Secretary LRT Jakarta Sheila Maharshi menuturkan, Train to Apocalypse merupakan kolaborasi dengan industri kreatif dan hiburan guna promosi perusahaan dan meningkatkan jumlah penumpang.

”Kami tidak menetapkan target tertentu. Memang tujuannya selain promosi perusahaan juga kenaikan penumpang,” tutur Sheila, Rabu (10/8/2022).


Saat ini rata-rata penumpang LRT Jakarta yang melayani rute Velodrome (Rawamangun) sampai Pegangsaan Dua (Kelapa Gading) hanya berkisar 1.400-1.500 orang setiap harinya.

Padahal, sejak awal ditargetkan jumlah penumpang mencapai 7.000 orang.

Acara seperti Train to Apocalypse, kata dia, diharapkan bisa memantik minat warga menjajal LRT Jakarta.

Bahkan, LRT Jakarta sudah beberapa kali berkolaborasi dengan industri kreatif dan hiburan.

Kegiatannya berlangsung di stasiun atau gerbong, seperti peragaan busana dalam rangka peluncuran salah satu merek busana lokal, kegiatan pekan kebudayaan dengan Korea Culture Center, bermain musik di kereta, pertunjukan barongsai, dan hiburan di kereta dalam rangka Natal dan Tahun Baru.

Sheila pun memastikan bahwa wahana zombi yang dihadirkan itu mengedepankan faktor keamanan dan keselamatan penumpang sehingga tidak mengganggu operasional.

”LRT Jakarta senantiasa memastikan tidak ada dampak dalam operasional layanan sehingga pelayanan bagi pengguna jasa tetap berjalan normal,” ujarnya.

 

(Devi Puspitasari\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar