BI Dilema, Antara Mau Naik atau Tidak Suku Bunga

Rabu, 20/07/2022 19:00 WIB
Bank Indonesia. (Liputan6)

Bank Indonesia. (Liputan6)

Jakarta, law-justice.co - Ekspektasi pasar terhadap kenaikan Bank Indonesia 7 Day Reverse Repo Rate (BI 7-DRR) semakin membesar. Bila pada bulan-bulan sebelumnya, pasar melihat BI akan mempertahankan suku bunga rendah maka pendapat tersebut sudah berubah dan kini kian mengarah kepada pengetatan.


Dikutip dari CNBCIndonesia Rabu (20/7/2022), Gubernur Perry Warjiyo dan anggota Anggota Dewan Gubernur lain dijadwalkan menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG) Juli 2022 pada hari ini dan besok (20-21 Juli 2022). Konsensus pasar terbelah sama kuat di antara yang memperkirakan kenaikan dan yang mempertahankan suku bunga acuan.

Dari 14 institusi yang terlibat dalam pembentukan konsensus tersebut, tujuh memproyeksi BI akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 bps menjadi 3,75% pada bulan ini. Sementara tujuh lainnya memperkirakan BI tetap mempertahankan BI 7-DRR sebesar 3,5%.

Jika BI menaikkan suku bunga maka kenaikan tersebut akan menjadi pertama kalinya dalam kurun waktu 3,5 tahun lebih. Sebagai catatan, terakhir kali kubu MH Thamrin mengerek suku bunga acuan adalah pada November 2018 atau 44 bulan yang lalu.

Saat itu, BI menaikkan suku bunga acuan sebesar 35 bps dari 5,75% menjadi 6% untuk mengantisipasi kebijakan ketat bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve (The Fed).

Sementara itu, jika BI tetap mempertahankan suku bunga acuan maka BI-7DRR sebesar 3,5% akan bertahan selama 18 bulan terakhir. Level 3,5% adalah suku bunga acuan terendah dalam sejarah Indonesia.

Ekonom ataupun lembaga yang memproyeksi kenaikan suku bunga acuan melihat faktor inflasi menjadi alasan utama kenaikan. Tren kenaikan suku bunga acuan di tingkat global juga menjadi alasan lain mengapa BI-7DRR perlu dinaikkan.


Inflasi Indonesia menembus 0,61% (month on month/MoM) pada Juni, melesat dibandingkan yang tercatat pada Mei yakni 0,40%. Secara tahunan (year on year/yoy), inflasi pada Juni juga menembus 4,35%. Catatan tersebut adalah yang tertinggi sejak Juni 2017 atau dalam lima tahun terakhir. Sementara itu, inflasi inti tercatat 2,63% (yoy), tertinggi sejak Mei 2020.

"Core inflation masih terjaga namun dengan headline inflation yang sudah berada di atas batas atas target BI, kurs rupiah yang tertekan serta tren suku bunga global yang terus meningkat maka BI diperkirakan akan mulai menaikkan suku bunga acuannya," tutur ekonom BNI Sekuritas Damhuri Nasution.

Gubernur BI Perry Warjiyo, bulan lalu, memperkirakan inflasi tahun ini akan mencapai 4,2%, sedikit di atas range BI di kisaran 2-4%. Namun, dia menegaskan BI tidak akan terburu-buru menaikkan suku bunga acuan karena pemerintah tidak menaikkan harga BBM dan tarif dasar listrik untuk kelompok tidak mampu. Kebijakan tersebut diyakini akan meredam laju inflasi tahun ini.


Ekonom Bank Mandiri Faisal Rachman juga melihat BI mulai menaikkan suku bunga acuan pada bulan ini karena faktor inflasi serta kebijakan agresif The Fed. The Fed akan menggelar rapat bulanan Federal Open Market Committee (FOMC) pada pekan depan (26-27 Juli 2022).

"Alasan kenaikan karena faktor inflasi yang kami lihat masih persisten tinggi di Juli 2022, Rupiah yang tertekan, dan kemungkinan Fed Fund Rate (FFR) pada Juli nanti yang akan dinaikkan lebih agresif," ujarnya.

Sebagian besar ekonom yang memperkirakan kenaikan BI-7DRR menjadikan stabilitas rupiah sebagai salah satu faktor. Tren kenaikan suku bunga acuan di tingkat global sementara di sisi lain BI masih memberlakukan kebijakan dovish menjadi salah satu penyebab investor asing meninggalkan Indonesia. Derasnya capital outflow membuat rupiah tertekan.
Namun, ekonom Bahana Sekuitas Putera Satria Sambijantoro mengatakan kinerja rupiah cukup baik di tengah menguatnya dolar AS. Rupiah bahkan menguat dalam dua hari terakhir di tengah kencangnya ekspektasi kenaikan suku bunga acuan The Fed serta lonjakan inflasi AS.

"Rupiah cukup tahan terhadap rally dolar AS dan sinyal dovish Gubernur BI. Kondisi ini mencerminkan jika BI sebenarnya sama sekali tidak behind the curve," tutur Satria dalam laporan berjudul Swimming against the tightening tide.


Nilai tukar rupiah menguat 0,05% terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ke Rp 14.975/US$ pada perdagangan Selasa (19/7/2022). Sepanjang tahun ini, rupiah memang melemah 4,84% terhadap dolar AS. Namun, pelemahan rupiah masih lebih kecil dibandingkan ringgit Malaysia (6,3%) atau baht Thailand (9,2%).


Satria mengatakan BI kemungkinan akan memilih untuk menjaga momentum pertumbuhan dengan mempertahankan suku bunga acuan. "BI akan menghindari kebijakan yang bisa membunuh permintaan domestik," tuturnya.

Sementara itu, ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan surplus besar pada neraca perdagangan juga akan membantu kinerja transaksi berjalan sehingga tekanan kepada nilai tukar bisa berkurang. Sebagai catatan, neraca perdagangan membukukan surplus sebesar US$ 5,09 miliar. Secara keseluruhan, surplus pada semester I-2022 menembus US$ 24,89 miliar. Pencapaian tersebut adalah yang tertinggi sepanjang sejarah.

"Neraca transaksi berjalan pada kuartal II-2022 diperkirakan tercatat surplus. Surplus neraca transaksi berjalan Indonesia sejak kuartal III-2021 yang ditopang oleh tren kenaikan harga komoditas mengindikasikan bahwa kondisi keseimbangan eksternal tetap solid sehingga tetap akan mendukung stabilitas rupiah," tutur Josua kepada CNBC Indonesia.

Dia menambahkan faktor lain yang membuat BI akan mempertahankan suku bunga pada bulan ini adalah inflasi yang masih terjaga. Laju kencang inflasi Indonesia lebih dipengaruhi oleh faktor supply. Inflasi akan melandai jika supply kembali normal.

Sebagai catatan, sepanjang tahun ini, lonjakan inflasi Indonesia lebih disebabkan kelompok volatile seperti bahan pangan dan harga diatur pemerintah.

"Inflasi inti yang merupakan proxy dari inflasi fundamental belum menunjukkan peningkatan yang signifikan," tutur Josua, kepada CNBC Indonesia.
Josua menambahkan

 

(Devi Puspitasari\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar