Harga Barang-barang Ini Siap Naik Usai Rupiah Tembus 15 Ribu

Kamis, 07/07/2022 08:04 WIB
Harga daging sapi naik usai nilai tukar rupiah tembus Rp15 ribu per dolar AS (Robinsar Nainggolan)

Harga daging sapi naik usai nilai tukar rupiah tembus Rp15 ribu per dolar AS (Robinsar Nainggolan)

Jakarta, law-justice.co - Dampak merosotnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kian terasa dengan naiknya harga sejumlah barang. Sekjen Asosiasi Pengusaha Importir Daging Indonesia (ASPIDI) Suhandri memprediksi, harga daging bisa melambung melampaui Rp115.000 per kg. Harga tersebut adalah untuk harga acuan daging impor.
Saat ini, kata dia, harga acuan daging impor adalah Rp95.000 per kg untuk sapi dan Rp80.000 per kg untuk kerbau.

"Dan yang harus diantisipasi adalah, dalam 2-3 bulan ke depan terpaksa harus dilakukan impor. Dimana, karena adanya penyakit mulut dan kuku (PMK), banyak ternak yang diduga sakit sehingga dipotong sekarang," kata Suhandri, Kamis (7/7/2022).

Akibatnya, lanjut dia, yang seharusnya alur pasokan berjalan setiap bulan, karena potong paksa menjadi terkonsentrasi di satu bulan saja.

"Saat ini, pasokan banyak. Karena banyak lokal terpaksa dipotong, artinya dalam 2-3 bulan ke depan kita harus impor. Sementara dolar naik terus," kata Suhandri.

Selain daging, sejumlah komoditas bahan pokok penting lain juga terancam akibat pelemahan rupiah, terutama terhadap dolar AS.

Setelah mengalami lonjakan harga akibat efek perang Rusia-Ukraina, sejumlah komoditas berpotensi alami kenaikan harga karena mata uang Negeri Paman Sam tersebut. Diantaranya adalah kedelai dan tepung terigu.

Sebelumnya Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo menyebutkan, selama 15 tahun terakhir, Indonesia bergantung pada pasokan kedelai impor.

Dimana, tahun ini saja, tercatat Indonesia defisit hampir 2,6 juta ton kedelai, dan harus dipenuhi impor. Kebutuhan kedelai di dalam negeri ditaksir mencapai 3 jutaan ton, untuk segmen pangan saja.

Artinya, fluktuasi kurs akan sangat berdampak terhadap harga kedelai. Selain itu, tepung terigu juga menjadi komoditas yang rentan terpengaruh kondisi di pasar internasional. Termasuk, penguatan dolar AS.

Pasalnya, gandum yang merupakan asal-muasal tepung terigu tidak ditanam di Indonesia. Sehingga, mengandalkan sepenuhnya pasokan impor.

Selain itu, harga daging ayam dan telur pun terancam alami lonjakan harga. Sebab, harga pakan dilaporkan terus naik. Padahal, pakan adalah salah satu komponen utama pembentuk harga daging maupun telur ayam.

Meski Indonesia memproduksi gula di dalam negeri, namun tetap membuka keran impor setidaknya untuk kurang-lebih 1 juta ton gula impor setiap tahunnya. Baik dalam bentuk gula mentah untuk diolah jadi konsumsi, maupun gula rafinasi untuk kebutuhan industri.

Akibatnya, lonjakan harga gula di pasar internasional menyebabkan harga di dalam negeri melonjak. Memaksa pemerintah menaikkan harga acuan tertinggi di tingkat konsumen. Dari sebelumnya harga gula berkisar Rp12.500 per kg menjadi Rp13.500 per kg.

Artinya, jika dolar AS terus menguat ke atas Rp15.000, bukan tidak mungkin harga gula akan melonjak lagi. Akan berdampak pada harga gula konsumsi dan industri. Dimana, kenaikan harga gula industri tentu akan berdampak pada harga produk makanan dan minuman olahan, seperti syrup maupun makanan ringan (snacks).

Berikut perkembangan harga komoditas tersebut menurut Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok Kementerian Perdagangan (Kemendag) untuk hari Rabu (6/7/2022) dibandingkan 3 Juni 2022.

Berikut rinciannya, data dikutip hari Kamis:

- gula pasir turun Rp100 jadi Rp14.600 per kg
- kedelai impor naik Rp100 jadi Rp14.200 per kg
- tepung terigu naik Rp300 jadi Rp11.900 per kg
- daging sapi paha belakang naik Rp1.400 jadi Rp136.400 per kg
- daging ayam ras turun Rp300 jadi Rp37.100 per kg
- telur ayam ras naik Rp300 jadi Rp29.200 per kg.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Asosiasi Persepatuan Indonesia (APRISINDO) Firman Bakri mengatakan, saat ini industri sepatu di dalam negeri masih mengandalkan sekitar 40% pasokan bahan baku impor. Yang berasal dari China.

Penguatan dolar, kata dia, akan menekan daya saing industri di dalam negeri. Meski saat ini, sepatu asal Indonesia masih terbilang kompetitif.

"Kita adalah eksportir terbesar ketiga untuk sport shoes dan keenam untuk shoes," kata Firman.

(Gisella Putri\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar