Tradisi Unik Idul Adha, Ada Arak-arakan Hasil Tani Hingga Hias Ternak

Jum'at, 01/07/2022 10:10 WIB
Tradisi manten sapi untuk perayaan Idul Adha di Pasuruan, Jawa Timur (phinemo)

Tradisi manten sapi untuk perayaan Idul Adha di Pasuruan, Jawa Timur (phinemo)

Jakarta, law-justice.co - Hari Raya Idul Adha selalu dinanti setiap tahunnya. Momen ini diabadikan sebagai peringatan untuk menumbuhkan rasa kasih sayang dan kepedulian terhadap sesama.


Idul Adha identik dengan menyembelih hewan kurban berupa sapi, kambing, atau domba, dan membagikan dagingnya kepada orang-orang yang kurang mampu. Selain itu, tidak jarang juga keluarga akan berkumpul dan mengolah daging kurban bersama.


Indonesia dengan keanekaragaman budayanya memiliki berbagai tradisi untuk merayakan Lebaran Haji ini. Dilansir dari situs Wonderful Indonesia Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), berikut beberapa tradisi unik perayaan Idul Adha di Indonesia.


5 Tradisi Unik Idul Adha di Indonesia


1. Tradisi Apitan, Semarang
Tradisi Idul Adha yang pertama adalah Apitan di Semarang. Tradisi Apitan ini merupakan bentuk rasa syukur atas rezeki berupa hasil bumi yang diberikan oleh Yang Maha Esa.

Di Semarang, tradisi ini biasa diisi dengan pembacaan doa yang dilanjutkan dengan arak-arakan hasil tani dan ternak. Nantinya, hasil tani yang diarak ini akan diambil secara berebutan oleh masyarakat setempat.

Tradisi ini dipercaya menjadi kebiasaan para Wali Songo dulu sebagai bentuk ungkapan rasa syukur di perayaan Idul Adha. Menurut Portal Resmi Pemerintah Kota Semarang, tradisi Apitan juga diramaikan dengan hiburan khas kearifan lokal yaitu pertunjukan wayang.

2. Tradisi Manten Sapi, Pasuruan
Tradisi Manten Sapi adalah tradisi yang dilakukan oleh masyarakat Pasuruan. Tradisi ini adalah bentuk rasa syukur dan penghormatan kepada hewan kurban yang akan disembelih.

Daya tarik dari tradisi ini adalah sapi yang hendak dikurbankan akan didandani atau di-makeup secantik mungkin bak pengantin. Hewan tersebut juga dikalungkan bunga tujuh rupa, lalu dibalut dengan serban, sajadah, dan kain kafan sebagai tanda kecsucian orang yang berkurban.

Setelah didandani, semua sapi akan diarak menuju masjid setempat untuk diserahkan kepada panitia kurban. Setelah disembelih, sapi akan diolah dan disantap bersama-sama.

3. Tradisi Grebeg Gunungan, Yogyakarta
Tradisi Grebeg Gunungan yang dirayakan oleh masyarakat Yogyakarta yang hampir mirip dengan tradisi Apitan dari Semarang. Warga muslim Yogyakarta akan mengarak hasil bumi dari halaman Keraton sampai Masjid Gede Kauman.

Secara spesifik, arak-arakan hasil bumi ini berjumlah 3 buah gunungan yang tersusun dari rangkaian sayur-mayur dan buah. Tidak hanya Idul Adha, tradisi ini dilaksanakan setiap hari besar agama Islam.

Grebeg Syawal dilaksanakan saat Idul Fitri, sedangkan tradisi Grebeg Gunungan dilaksanakan pada perayaan Idul Adha. Masyarakat setempat percaya, apabila berhasil mengambil hasil bumi yang disusun dalam bentuk gunungan, bisa mendatangkan rezeki.

4. Tradisi Gamelan Sekaten, Cirebon
Tradisi Gamelan Sekaten dipercaya merupakan dakwah dari Sunan Gunung Jati sebagai penyebar agama Islam di tanah Cirebon. Tradisi ini disebut tradisi Gamelan Sekaten yang selalu dibunyikan setiap perayaan hari besar agama Islam yaitu, Idul Fitri dan Idul Adha.

Alunan Gamelan yang berada di sekitar area Keraton Kasepuhan Cirebon menjadi penanda perayaan hari kemenangan di Cirebon. Rangkaian Gamelan dibunyikan sesaat setelah sultan Keraton Kasepuhan keluar dari Masjid Agung Sang Cipta Rasa.


5. Tradisi Meugang, Aceh
Tradisi Meugang bagi masyarakat Acehini identik dengan memakan daging sapi atau kerbau bersama yang diolah dengan beraneka ragam masakan. Sejarah Meugang berawal pada masa kerajaan Aceh di mana daging kurban akan dibagikan secara gratis kepada masyarakat.

Sebab itu, tradisi meugang menunjukkan ungkapan syukur atas kemakmuran tanah Aceh dan sampai saat ini tetap dilestarikan untuk menyambut hari-hari besar suci umat islam.

 

(Devi Puspitasari\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar