Australia Didera Krisis Energi, Indonesia Bisa Jadi Penyelamatnya

Rabu, 15/06/2022 09:55 WIB
Bangunan Ikonik di Australia (Net)

Bangunan Ikonik di Australia (Net)

Jakarta, law-justice.co - Krisis energi disebut telah melanda Australia. Pemadaman listrik kemungkinan akan dilakukan di wilayah pantai Timur, yakni negara bagian Queensland dan New South Wales (NSW), yang merupakan rumah bagi lebih dari 13 juta orang.


Perdana Menteri (PM) Anthony Albanese, yang berasal dari Partai Buruh, menyalahkan krisis energi pada pemerintah sebelumnya, yang dikuasai sembilan tahun oleh Partai Liberal.

"Konsekuensi dari kegagalan pemerintah sebelumnya untuk menerapkan kebijakan energi sedang dirasakan saat ini," kata Albanese kepada wartawan di Brisbane, dikutip dari AFP, Rabu (15/6/2022)


Albanese pun meyakinkan warga bahwa pemerintahannya telah mengantisipasi ini. Pemerintah, tegasnya, tengah mencari cara bagaimana meredakan krisis.

Meski begitu, Menteri Energi Chris Bowen yakin pasokan dalam sistem cukup untuk menghindari pemadaman lebih panjang. Namun, ia membenarkan bahwa Australia akan menghadapi "musim dingin yang berat" dengan suhu rendah, pemadaman PLTU, tekanan geopolitik, dan banjir di wilayah pantai timur.

"Kombinasi yang menciptakan krisis," tulis media Prancis itu mengutipnya.

Australia adalah salah satu dari tiga produsen batu bara dan gas terbesar di dunia. Bahan bakar fosil menyediakan sekitar 71% listrik di mana batu bara mendominasi 51%. Namun saat ini, sekitar seperempat dari pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) di pantai Timur offline karena pemadaman dan pemeliharaan.

Belum lagi serangan Rusia ke Ukraina juga telah menaikkan permintaan ekspor untuk gas Australia. Ini menjadi "boomerang" di dalam negeri karena menghapus potensi surplus untuk membantu mengatasi kekurangan energi domestik.

Krisis pun telah diperburuk dengan cuaca dingin di pantai timur. Ini mendorong otoritas setempat untuk berkampanye meminta rumah tangga untuk menghemat penggunaan energi mereka.

Nasib yang sama sempat dirasakan India, dimana negara ini terancam gelap gulita akibat krisis listrik dan seretnya pasokan batu bara. Delhi pun menjajaki saluran diplomatik dari semua sumber yang tersedia untuk mengimpor batu bara untuk tujuan pencampuran, salah satunya Indonesia.

Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI), Hendra Sinadia membenarkan jika saat ini ada kelebihan permintaan batu bara dari India. Menurut Reuters, ekspor batu bara Indonesia ke India pada bulan Mei pun melonjak hampir 70% dibandingkan April 2022, menjadi 10,85 juta ton.

Namun belum diketahui apakah Australia akan mengikuti jejak India untuk mengimpor batu bara dari Indonesia.

 

(Devi Puspitasari\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar