Arief Gunawan, Pemerhati Sejarah

Saat Oligarki Atur Pemilu 2024: Rp 110 Triliun untuk Capres Boneka

Minggu, 22/05/2022 13:54 WIB
Ilustrasi Pakaian Dinas Mewah. (Liputan6).

Ilustrasi Pakaian Dinas Mewah. (Liputan6).

Jakarta, law-justice.co - Bung Hatta melakukan rangkaian kampanye pemilu adil dan bersih. Pagi hari tepat saat pelaksanaan Pemilu 1955, tanggal 29 September, seperti dimuat koran Indonesia Raya, Bung Hatta berkata:

“Jangan mau ditakut-takuti, datanglah memilih dengan hati yang tenang. Tusuk tanda gambar yang saudara sukai, dan jangan katakan pada orang lain. Gunakanlah hak memilih anggota DPR yang akan datang itu dengan memilih orang yang dapat saudara percaya untuk memikul tanggungjawab yang tidak ringan itu...”.

Pemilu 1955 yang dipuji oleh banyak kalangan karena dinilai demokratis ternyata tak luput dari beberapa insiden.

Meski skala insiden yang terjadi tergolong minimal bila dibandingkan Pemilu 2019 yang banyak memakan korban nyawa wong cilik dan menyisakan pembelahan di masyarakat.

Buku “Sejarah Pemilu yang Dihilangkan: Pemilihan Umum dalam Kemelut Politik Indonesia Tahun 1950-an” yang ditulis Faishal Hilmy Maulida, antara lain melaporkan peristiwa tertangkapnya pemilih yang dua kali mencoblos di Wonosari, Jogja, pencurian surat suara yang dilakukan petugas keamanan percetakan negara, tewasnya seorang warga keturunan Tionghoa bernama Theng Thong Lien saat antre mencoblos akibat peluru nyasar polisi yang lupa mengunci senapan, hingga kendala distribusi yang menyebabkan pemilu di sejumlah daerah tak dapat dilaksanakan sesuai jadwal.

Pemungutan suara yang dilakukan pada 29 September ini dapat terselenggara di sekurang-kurangnya 85 persen dari lebih kurang 95. 532 TPS, dan diselesaikan seluruhnya pada 29 November 1955.

Dilaporkan, lebih dari 39 juta orang Indonesia datang ke TPS.

Sebanyak 37.785.299 atau 87, 65 persen dari 43.104 orang yang terdaftar sebagai pemilih memberikan suara secara sah.

Pelaksanaan pemilu ini berlangsung dalam suasana perekonomian yang morat-marit, dimana harga-harga kebutuhan seperti minyak tanah, gula pasir, garam, beras, dan sayuran, melambung tinggi.

Situasi ini tak urung mengundang protes keras dari partai-partai politik kepada pemerintah pada masa itu supaya segera menurunkan harga-harga.

Secara anggaran Pemilu 1955 juga cukup berat, karena sebelumnya, pada bulan April 1955, diselenggarakan pula Konferensi Asia-Afrika. Sebuah perhelatan internasional dengan biaya besar.

Di sisi lain situasi sosial pada masa itu tidak pula cukup kondusif, dimana di beberapa daerah mulai muncul bibit-bibit ketidakpuasan terhadap pemerintah pusat.

Tingginya tingkat buta huruf di masyarakat juga merupakan persoalan tersendiri.

Yang cukup melegakan dibolehkannya TNI/Polri untuk ikut memilih dan dipilih ternyata tak sampai mengundang konflik.

Selain itu tidak ada pula laporan bahwa kotak suaranya dibikin dari kardus dengan cara digembok dan anggota KPU-nya korupsi!

Apa sebab Pemilu 1955 dinilai berhasil?

Sebabnya karena animo masyarakat yang baru 10 tahun menghirup udara kemerdekaan terhadap demokrasi sedemikian tinggi.

Bagi para penyelenggara negara pada masa itu pemilu ini adalah perwujudan janji dari rencana semula yang akan dilaksanakan pada tahun 1946.

Pemilu 1955 adalah yang pertama dan terakhir di era Orde Lama karena Pemilu 1959 yang dijanjikan gagal dilaksanakan.

Sukarno memberlakukan Dekrit, 5 Juli 1959, dan menjalani Demokrasi Terpimpin (sampai tahun 1965) dengan membubarkan semua hasil Pemilu 1955.

Bila Pemilu 1955 menyisakan bonae memoriae (ingatan baik), maka Pemilu 2019 mewarisi memoria passionis, yaitu ingatan buruk akibat peristiwa-peristiwa pahit, duka cita, dan lumuran darah di dalamnya, yang menyebabkan trauma berkepanjangan dalam diri bangsa ini.

Karena petualangan kekuasaan dan kepentingan oligarki demi mempertahankan presiden boneka.

Trauma seperti ini tampaknya berpotensi terulang lagi pada Pemilu 2024 yang akan datang.

Anggaran sebesar Rp 110,4 triliun yang dicanangkan untuk pemilu yang mencakup pilpres dan pilkada serentak merupakan angka yang sangat fantastis di tengah ambruknya perekonomian nasional, maraknya korupsi, semakin dalamnya ketidakadilan, dan menurunnya indeks demokrasi di negeri ini.

Kwalitas pemimpin seperti apa yang akan didapat oleh mayoritas rakyat dari biaya pemilu yang melonjak sekitar 431 persen dari pemilu sebelumnya itu? Antara lain dengan tetap memakai kotak suara yang dibikin dari kardus yang digembok?

Presiden seperti apa yang akan dihasilkan ketika Mahkamah Konstitusi sampai hari ini masih mempertahankan presidential treshold 20 persen, yang menutup peluang bagi figur berintegritas, memiliki track record berupa prestasi, dan punya kemampuan problem solver, untuk memimpin negeri ini?

Jawabnya: yang akan muncul dari pemilu berbiaya fantastis seperti itu adalah pemimpin-pemimpin boneka dan presiden boneka, yang mengabdi kepada kepentingan oligarki dan bersujud ke Beijing. Persis seperti saat ini.

Bangsa ini akan kembali mengulangi sejarah buruk, terperangkap dalam siklus malapetaka yang tak berkesudahan. Bukankah ungkapan lama juga berkata: hanya keledai yang jatuh pada lubang yang sama?

Apa sebab demikian?

Sebabnya karena sosok-sosok capres saat ini modalnya hanya pencitraan dan naik dari hasil manipulasi lembaga-lembaga survei berbayar dengan modal dari oligarki yang pada gilirannya akan melahirkan utang budi.

Maka lumrah apabila tokoh nasional Dr Rizal Ramli di dalam akun twitter-nya belum lama ini mempertanyakan pula apakah dari pemilu yang demikian akan dihasilkan pemimpin-pemimpin hebat atau hanya pemimpin-pemimpin kelas boneka yang bermodalkan pencitraan berbayar melalui pollsterRp dan mediaRp.

Pertanyaan ini bukan untuk dilamunkan namun sepatutnya menggerakkan kesadaran bahwa bangsa dan negeri ini sedang dalam bahaya nyata, karena berpotensi kembali terperangkap dalam malapetaka yang sama seperti delapan tahun terakhir ini.

Setengah tubuh bangsa ini ibarat telah masuk ke dalam gigitan naga oligarki, akibat mental budak elite kekuasaannya sendiri. Yang berkuasa seperti raksasa berkaki lempung, dan seperti peribahasa Belanda, praat als een kip zonder kop, berbicara seperti ayam tanpa kepala.

Apakah yang akan dikatakan oleh para mahasiswa tokoh pergerakan Budi Utomo, 114 tahun yang lalu, yang hari lahir organisasinya kita peringati hari ini?

Mereka tentu tidak akan menangis.

Patriot sejati tidak akan menangis di dalam kesedihan, ia hanya menangis pada saat gembira, karena cita-citanya tercapai.

Mereka hanya akan berkata:

Wujudkanlah cita-cita Kebangkitan Nasional saat ini agar menjadi kenyataan!

(Tim Liputan News\Editor)

Share:
Tags:




Berita Terkait

Komentar