Semangat Harkitnas Masih Relevan untuk Indonesia dan Presidensi G20

Sabtu, 21/05/2022 08:58 WIB
Semangat Hari Kebangkitan Nasiona masih relevan dengan situasi Indonesia saat ini (cnnindonesia)

Semangat Hari Kebangkitan Nasiona masih relevan dengan situasi Indonesia saat ini (cnnindonesia)

Jakarta, law-justice.co - Indonesia memperingati Hari Kebangkitan Nasional setip tanggal 20 Mei. Semangat Harkitnas itu pun dinilai masih relevan untuk kehidupan bangsa Indonesia saat ini dan Presidensi G20 Indonesia.

"Semangat Boedi Oetomo masih relevan untuk kita kontekstualisasikan pada kehidupan berbangsa saat ini. Semangat cita-cita kebangkitan nasional tersebut sejalan dengan gelaran Konferensi Tingkat Tinggi G20 yang tahun ini dipimpin oleh Indonesia," ujar Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G. Plate, Jumat (20/5/2022).

Karena itu, dia mengajak seluruh elemen bangsa kembali memahami esensi sejarah Kebangkitan Nasional. "Mari sejenak kita telaah sisi historis di balik peringatan Hari Kebangkitan Nasional," ajaknya.

Menurut Menkominfo itu, hari lahir perkumpulan Boedi Oetomo ditetapkan Presiden Soekarno pada tanggal 20 Mei 1948 sebagai Hari Bangkitnya Nasionalisme Indonesia. Penetapan itu merupakan upaya pemimpin bangsa dalam mencegah ancaman perpecahan antargolongan dan ideologi di tengah perjuangan bangsa Indonesia mempertahankan kemerdekaan bangsa.

"Kita telaah sisi historis di balik peringatan Hari Kebangkitan Nasional. Di masa itu, terdapat ancaman perpecahan antargolongan dan ideologi di tengah perjuangan Indonesia mempertahankan kemerdekaan dari Belanda yang ingin kembali berkuasa. Kelahiran Boedi Oetomo mempelopori terciptanya organisasi pergerakan di masa selanjutnya seperti Indische Partij, Perhimpunan Indonesia dan Muhammadiyah," jelasnya.

Menteri Johnny menyatakan semangat persatuan yang digagas oleh Boedi Oetomo diharapkan menjadi spirit dalam menghimpun kekuatan dan mencegah perpecahan bangsa. "Organisasi yang menyatukan pergerakan di Indonesia dari yang bersifat kedaerahan menjadi nasional dengan tujuan akhir kemerdekaan," tandasnya. 

Lebih lanjut dia menyatakan Boedi Oetomo yang didirikan Dr. Sutomo beserta para mahasiswa STOVIA (School tot Opleiding van Indische Artsen) pada tahun 1908, juga memiliki tujuan mengejar ketertinggalan bangsa Indonesia dari bangsa-bangsa lain di dunia.

"Boedi Oetomo merupakan organisasi pertama di Indonesia yang bersifat nasional dan modern dalam sejarah pergerakan kemerdekaan. Tujuan didirikannya Boedi Oetomo yang tercetus dalam kongres pertamanya ialah untuk menjamin kehidupan sebagai bangsa yang terhormat dengan fokus pergerakan di bidang pendidikan, pengajaran, dan kebudayaan," jelasnya.

Bahkan, Boedi Oetomo telah meletakkan tiga cita-cita bagi kebangkitan nasional yakni memerdekakan cita-cita kemanusiaan, memajukan nusa dan bangsa, serta mewujudkan kehidupan bangsa yang terhormat dan bermartabat di mata dunia. "Kiranya, semangat Boedi Oetomo masih relevan untuk kita kontekstualisasikan pada kehidupan berbangsa saat ini," tegas Menteri Johnny.

Menurut Menkominfo, semangat cita-cita kebangkitan nasional tersebut sejalan dengan gelaran Konferensi Tingkat Tinggi G20 yang tahun ini dipimpin oleh Indonesia.
"Pada Presidensi G20 tahun ini, Indonesia mengusung tema “Recover Together, Recover Stronger”, dengan tujuan dapat memberikan spirit baru dalam mewujudkan tatanan dunia yang dapat memberikan kesejahteraan dan kemakmuran yang inklusif, serta menjamin keberlanjutan kehidupan di masa depan," jelasnya.

Menteri Johnny menyatakan pertemuan G20 yang dipimpin oleh Indonesia tahun ini mengusung tiga isu prioritas, yaitu Arsitektur Kesehatan Global yang Inklusif, Transformasi berbasis Digital dan Transisi Energi Berkelanjutan.

"Indonesia terus mendorong negara-negara anggota G20 untuk melakukan aksi-aksi nyata dan siap berkolaborasi serta menggalang kekuatan, sehingga masyarakat dunia dan kemanusiaan dapat merasakan dampak nyata dari kerja sama ini," tuturnya.

 

(Gisella Putri\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar