Harga Kripto Mulai Naik, Bitcoin Masih di Level Terendah

Rabu, 11/05/2022 11:14 WIB
Harga bitcoin masih berada pada level terendah (ist)

Harga bitcoin masih berada pada level terendah (ist)

Jakarta, law-justice.co - Harga aset Kripto beberapa hari terakhir mengalami penurunan drastis, khususnya bitcoin. Namun, kini harganya mulai merangkak naik dan masuk ke zona hijau, meski bitcoin masih terperangkap di zona terendah.

Mengutip coinmarketcap.com, Rabu (11/5), bitcoin menguat 2,93 persen dan kini dibanderol US$31.110 per koin. Harga ini membaik ketimbang kemarin yang jatuh di level terendahnya, yakni US$29 ribu.

Ethereum juga demikian, berhasil menanjak 5,73 persen setelah rontok 15,49 persen dalam sepekan terakhir. Saat ini, sekeping ethereum dihargai US$2.352.

BNB melesat 9,24 persen ke posisi US$320,57 per keping. Selanjutnya, XRP mendaki 6,38 persen ke posisi US$0,517 per keping, dan solana lompat 8,53 persen ke posisi US$67,39.

Sementara, cardano berhasil meningkat 6,51 persen menjadi US$0,6354 per keping, dan dogecoin loncat 7,68 persen ke posisi US$0,1096 per keping.

Binance dan USD coin masih suam-suam kuku dengan pertumbuhan tipis masing-masing 0,29 persen dan 0,06 persen. Beruntung lah keduanya tidak meradang seperti tether, satu-satunya mata uang digital yang betah di zona merah.

Beberapa hari terakhir, kripto terjun bebas. Harganya terpangkas hingga lebih 30 persen dalam sepekan. Mengutip Forbes, kripto merosot karena `ketakutan ekstrem` tengah mengintai para pedagang setelah kenaikan suku bunga terbesar bank sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve atau The Fed.

The Fed mengumumkan menaikkan suku bunga acuan 50 basis poin atau 0,5 persen sebagai upaya lanjutan mengatasi inflasi tertinggi selama empat dekade. Kenaikan 0,5 persen merupakan peningkatan tertinggi yang pernah dilakukan The Fed sejak Mei 2000 silam.

Selain itu, para pedagang juga masih tetap memperhatikan kondisi perang antara Rusia dan Ukraina.

"Selama seminggu terakhir, fundamental telah memasukkan ekspektasi suku bunga dan tidak ada yang bisa mengabaikan perang yang sedang berlangsung yang terus memberi tekanan pada kendala pasokan, terutama untuk komoditas," ungkap Analis DailyFX Tammy Da Costa.

Menurutnya, tekanan pasar membebani pergerakan kripto dan ekuitas, termasuk kekhawatiran atas melonjaknya inflasi. "Masa depan koin atau token individu tetap meragukan," tandasnya.

Di Indonesia, kripto masih dilarang sebagai alat bayar. Namun, kripto termasuk komoditas bursa berjangka, sehingga tak masalah selama digunakan sebagai investasi maupun komoditas yang diperjualbelikan oleh para pelaku pasar.

Uang kripto diatur oleh Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Kementerian Perdagangan lewat Peraturan Bappebti No 2 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Pasar Fisik Komoditi di Bursa Berjangka.

Selain itu, aturan kripto juga tercantum dalam Peraturan Bappebti Nomor 8 Tahun 2021 tentang Pedoman Penyelenggaraan Perdagangan Pasar Fisik Aset Kripto (Crypto Asset) di Bursa Berjangka.

 

(Gisella Putri\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar