Djono W Oesman, Wartawan Senior

Soal Dokter Terawan Vs IDI Ternyata Bisa Dipolisikan

Selasa, 29/03/2022 12:08 WIB
Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto mengikuti rapat kerja dengan komisi IX di Komplek Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (24/11/2020). (Foto: BeritaSatu Photo/Ruht Semiono)

Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto mengikuti rapat kerja dengan komisi IX di Komplek Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (24/11/2020). (Foto: BeritaSatu Photo/Ruht Semiono)

Jakarta, law-justice.co - Dokter Terawan Agus Putranto dipecat IDI. Heboh. Sampai, dipolisikan Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad. "Polisi kami minta mengusut. Karena di muktamar ada oknum IDI pembuat gaduh," katanya ke pers, Senin (28/3).

Pemecatan Terawan dari anggota IDI (Ikatan Dokter Indonesia) diumumkan di Muktamar ke-31 IDI di Banda Aceh, 22 hingga 25 Maret 2022.

Sufmi Dasco: "Di muktamar itu ada oknum IDI membuat kegaduhan, karena membacakan surat dari majelis etik (tentang pemecatan Terawan) itu forum yang tidak sah."

Tidak sah, karena pengurus IDI sudah demisioner. Sedangkan, kepengurusan PB IDI yang baru, belum dikukuhkan.

Dasco: "Kemudian oleh oknum ini, dicolong di forum itu, untuk memecat Terawan, gitu lho. Sehingga gaduh. Padahal di situ bukan hak oknum itu untuk mengumumkan soal rekomendasi majelis etik kedokteran ini."

Dilanjut: "Saya akan minta polisi menyelidiki oknum pembuat kegaduhan ini dan diproses hukum. Karena, kejadian-kejadian seperti ini tidak boleh terulang di mana hal-hal yang seharusnya dilakukan oleh sebuah organisasi dilakukan oleh per orang-orang."

Ditanya wartawan, dikenakan pasal apa? Dijawab: "Pembuat gaduh."

Pemecatan dr Terawan diketahui dari surat edaran yang tersebar di media sosial, berisi hasil keputusan MKEK (Majelis Kehormatan Etik Kedokteran) pasca Rapat Pleno MKEK, IDI pada 8 Februari 2022.

Dalam surat itu, MKEK IDI menilai, Terawan melakukan pelanggaran etik berat (serious ethical misconduct), serta tidak melakukan itikad baik sepanjang 2018-2022.

Terawan pembuat cuci otak atau DSA (Digital Subtraction Angiography). Juga vaksin Nusantara. Keduanya belum teruji, tapi sudah dipromosikan.

Namun, terapi cuci otak sudah diterapkan pada banyak orang penting Indonesia. Semua merasakan hasil yang positif. Berikut komentar para tokoh yang dicuci otak metode Terawan.

1) Aburizal Bakrie, pengusaha yang mantan Ketua Umum Partai Golkar.

Lewat Instagram, April 2018 Aburizal mengaku, merasakan manfaat metode cuci otak gagasan Terawan.

Aburizal: "Saya sendiri termasuk yang merasakan manfaatnya, juga Pak Try Sutrisno, SBY, AM Hendropriyono, dan banyak tokoh/pejabat, juga masyarakat luas."

2) Prabowo Subianto, Menteri Pertahanan RI.

Prabowo kepada pers, 5 April 2018, mengatakan: "Saya ini sudah tiga kali diterapi oleh Terawan. Saya tiga kali, mau yang keempat kali."

Dilanjut: "Saya dulu vertigo, setelah itu periksa ke beliau, disarankan, bersihkan. Alhamdulillah, sekarang saya bisa tiga jam pidato."

3) Mahfud MD, Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan RI.

April 2018 Mahfud MD menjalani terapi cuci otak lantaran mengalami gejala stroke. Ia diterapi tiga jam.

Setelahnya, Mahfud mengaku kondisinya jauh membaik. "Tiga jam selesai, langsung pulang. Kalau pengalaman saya bagus," katanya.

4) Agus Hermanto, Wakil Ketua DPR RI periode 2014-2019.

"Saya pernah menjadi pasiennya Dokter Terawan dan hasilnya cukup bagus, cukup menggembirakan," terangnya kepada pers, Jumat, 6 April 2018.

5) Ani Yudhoyono, almarhumah, isteri mantan Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono.

Saat Ani Yudhoyono dirawat di Singapura, Presiden Joko Widodo mengirim Terawan untuk memantau dan membantu perawatan Ani.

Kepala Staf Kepresidenan, Moeldoko, kepada pers, Rabu, 13 Februari 2019 mengatakan: "Beliau (Terawan) langsung berangkat ke Singapura."

Ani meninggal 1 Juli 2019, Terawan lah yang memberi pernyataan mengenai kondisi almarhumah. “Dalam kondisi tidak sadar, karena beliau sebelumnya memang ditidurkan,” ujar Terawan kepada pers, waktu itu.

6) Hendropriyono, mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN).

Hendropriyono kepada pers, Jumat, 13 April 2018 mengatakan: "Saya sebagai pasien. Buat saya sebagai pasien yang penting sembuh. Masa bodoh itu teori diakui atau tidak, itu persoalan di sekolah."

7) Dahlan Iskan, mantan Menteri BUMN yang juga begawan media massa.

Setelah menjalani metode cuci otak Terawan, Dahlan menulis berjudul Membersihkan Gorong-gorong Buntu di Otak.

Dahlan mengaku, otak dan mulutnya terasa plong seperti sesudah memakan permen mint. "Di otak dan mulut saya terasa pyar yang lembut disertai rasa Mentos yang ringan."

"Itulah rasa yang ditimbulkan oleh cairan pembasuh yang disemprotkan ke saluran darah di otak," tulis Dahlan.

Pembelaan terhadap Terawan meluas. Bahkan, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin berkomentar:

"Kementerian Kesehatan akan memulai dan membantu proses mediasi antara IDI dan anggota-anggotanya agar komunikasinya baik, sehingga situasi yang terbangun akan kondusif," kata Menkes dalam konferensi pers, Senin (28/3/2022).

Para politikus, juga ramai. Dari PKB, PAN, Nasdem semua membela Terawan.

Sedangkan, Terawan, mengeluarkan keterangan tertulis berjudul `Terawan Anggap IDI Sebagai Rumah Kedua dan Para Dokter Saudara Kandung`. Keterangan disampaikan Andi, mantan Tenaga Ahli saat Terawan jadi Menteri Kesehatan. Keterangan disebarkan Senin, 28 Maret 2022.

Isinya: "Sampai hari ini saya masih sangat bangga dan merasa terhormat berhimpun di sana (IDI)."

Terawan mengatakan, IDI tempatnya bersama saudara-saudara sejawat lain bernaung.

"Teman-teman sejawat dan yang lain agar bisa menahan diri untuk tidak menimbulkan kekisruhan publik, karena kita masih menghadapi pandemic Covid-19, kasihan masyarakat dan saudara-saudara sejawat yang di daerah, puskesmas, Rumah sakit dan lain-lain ikut terganggu."

Tapi, Terawan menyatakan, bakal tetap praktik, meski sudah dipecat IDI. Padahal, dipecat IDI otomatis Terawan dilarang praktik.

Terawan: "Saya sudah disumpah akan selalu membaktikan hidup saya guna perikemanusiaan, mengutamakan kesehatan pasien dan kepentingan masyarakat."

Maka, pemecatan IDI terhadap Terawan tidak efektif. Keputusan IDI tidak punya unsur pemaksa.

Belum diketahui, apakah keputusan IDI itu bakal dianulir, atau tetap berlaku? Kalau dianulir jadi preseden buruk. Jika diberlakukan, tidak efektif.

 

(Tim Liputan News\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar