Menko Luhut Tawarkan Investasi di Ibu Kota Nusantara ke Singapura

Selasa, 22/03/2022 11:06 WIB
Menko Marves Luhut Panjaitan. (Foto: Tangkapan layar YouTube Kemenko Marves).

Menko Marves Luhut Panjaitan. (Foto: Tangkapan layar YouTube Kemenko Marves).

Jakarta, law-justice.co - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marvest), Luhut Binsar Pandjaitan menawarkan kesempatan investasi di ibu kota baru (IKN Nusantara) kepada Perdana Menteri Singapura, Lee Hsien Loong di Istana Negara.

Hal sama juga dia sampaikan kepada Menteri Koordinator Keamanan Nasional Singapura Teo Chee Hean dalam pertemuan resmi di Singapura, Senin (21/3).

Dia menilai keterlibatan Singapura akan memberikan manfaat bagi kedua negara karena akan mengoptimalkan sumber daya yang dimiliki kedua bangsa.

Terkait pembangunan IKN, Luhut membenarkan pertanyaan PM Lee bahwa Presiden Joko Widodo (Jokowi) sudah menginap di tempat yang akan menjadi ibu kota baru kelak.

Dia pun menekankan kalau pembangunan IKN bukan program jangka pendek hingga 2024, tetapi akan dilakukan secara bertahap hingga perayaan 100 tahun kemerdekaan Indonesia pada 2045.

Dia mengatakan pada tahap pertama hingga 2024, Indonesia akan membangun kebutuhan infrastrukturnya. Tapi, kemudian untuk membangun kota secara keseluruhan dimungkinkan investasi dari luar negeri.

"Kami tentunya berharap nantinya Singapura akan ikut ambil bagian seperti halnya Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan China yang akan melakukan investasi di ibu kota negara yang baru," ungkap Luhut lewat rilis, Senin (21/3).

Selain IKN, Luhut juga membahas potensi Singapura mengembangkan food estate atau lumbung pangan yang tersebar di beberapa wilayah di Indonesia.

Agenda lain Luhut dengan pejabat Singapura ialah membahas kelanjutan kerja sama dalam mengantisipasi perubahan iklim.

Dia menjelaskan bahwa Indonesia dan Singapura sepakat melakukan riset mengenai teknologi bersih yang ramah lingkungan serta menjalankan beberapa proyek percontohan yang berkaitan dengan pengelolaan ekosistem baik di darat maupun di laut.

Adapun empat bidang pengembangan yang disepakati meliputi penetapan harga dan pasar untuk karbon, solusi berbasis alam dan pendekatan berbasis ekosistem, teknologi bersih dan solusinya, serta green and blended finance.

"Saya mengusulkan untuk dibentuk gugus tugas yang akan mendalami pengembangan baterai lithium untuk mobil listrik dan riset untuk pengembangan food estate. Indonesia memiliki banyak sumber daya untuk kedua hal itu, sementara Singapura memiliki R&D dan juga kekuatan finansial," terang dia.

Luhut menambahkan kebutuhan baterai lithium akan semakin meningkat ketika semua negara berupaya untuk mengurangi emisi gas buang. Sementara untuk menjaga keamanan pangan dibutuhkan pembangunan pertanian yang berbasis riset dan teknologi agar bisa meningkatkan produktivitas.

"Indonesia bukan baru berencana tetapi sudah memulainya. Kami memiliki ribuan hektare lahan di Sumatera Selatan dan juga Sulawesi Tengah untuk dijadikan food estate. Kalau Singapura mau ikut terlibat, mari kita kembangkan sama-sama," tandasnya.

 

 

 

 

(Annisa\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar