Pengakuan Warga Kaltim PPU Jadi IKN: Khawatir Alam Rusak!

Sabtu, 19/03/2022 16:00 WIB
Proyek pembangunan IKN di PPU Kaltim dikhawatirkan merusak alam (INews)

Proyek pembangunan IKN di PPU Kaltim dikhawatirkan merusak alam (INews)

Kalimantan Timur, law-justice.co - Warga Penajam Paser Utara (PPU), Kalimantan Timur menuturkan kekhawatiran ketika mengetahui daerahnya dibangun menjadi Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara oleh pemerintahan Joko Widodo.


Syifa, pedagang cendera mata mengatakan dirinya khawatir jika Ibu Kota sudah pindah, maka akan ada demonstrasi dan kemacetan di daerahnya.

"Ada enggak senengnya karena kita bakal ada yang macet, yang tadi saya bilang ada demo gitu-gitu," ujar Syifa seperti dikutip YouTube Sekretariat Presiden, Sabtu (19/3/2022).

Namun begitu ia tak memungkiri pindahnya IKN ke Kaltim bisa mendongkrak wisata di daerahnya. Syifa juga mengaku senang ketika mendengar pemindahan itu.

"Pas tahu Ibu Kota pindah ke sini kita senang, kalau Kalimantan kan untuk wisata tidak sebanyak di Jakarta gitu," pungkasnya.

Terpisah, Yanto seorang pedagang buah berharap kehadiran Ibu Kota di Kaltim nantinya tidak merusak alam dan adanya penghijauan. Hal itu disampaikan lantaran suhu udara di Kaltim sudah mulai panas imbas hutan gundul di sejumlah wilayah.

"Saya berharap kehadiran bapak di sini terlepas pro kontra yang ada sekarang yang pasti jangan merusak alam, gitu aja," tuturnya.

"Karena ini udah mulai panas hari ini berharap penghijauan lebih keren. Karena hutan gundul semua, berharap lebih dihijaukan kembali," sambung Yanto.

Pemindahan ibu kota negara merupakan ambisi Jokowi usai terpilih kembali pada Pilpres 2019. Jokowi memilih PPU sebagai lokasi Ibu Kota Negara baru bernama Nusantara.

Rencana pemindahan ibu kota negara telah mendapat persetujuan DPR melalui Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2022. Pemindahan ibu kota negara pun tinggal menunggu Jokowi menerbitkan keputusan presiden.

Ia beserta 34 Gubernur se-Indonesia Senin (14/3) menjalani ritual adat yang disebut Kendi Nusantara di titik nol kilometer IKN. Ritual itu dilakukan dengan membawa tanah dan air dari seluruh provinsi.

 

(Devi Puspitasari\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar