Kabar Baik, FDA Izinkan Obat Antibodi Agar Umur Kucing Lebih Panjang

Senin, 17/01/2022 22:10 WIB
Kucing (Ulin Nuha/law-justice)

Kucing (Ulin Nuha/law-justice)

Jakarta, law-justice.co - Ada kabar baik bagi pecinta kucing di Amerika. Pada Kamis, Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) menyetujui pengobatan pertamanya untuk mengendalikan rasa sakit yang terkait dengan osteoartritis pada kucing, yang juga merupakan obat antibodi monoklonal pertama yang disetujui untuk spesies hewan apa pun.


"Kemajuan dalam kedokteran hewan modern telah berperan dalam memperpanjang kehidupan banyak hewan, termasuk kucing," kata Steven Solomon, direktur Pusat Kedokteran Hewan FDA, dalam sebuah pernyataan.

"Tetapi dengan umur yang lebih panjang, datanglah penyakit kronis, seperti osteoartritis," tambahnya.

Osteoarthritis terjadi ketika tulang rawan pelindung yang menjadi bantalan ujung tulang menipis. Akhirnya tulang-tulang dalam sendi bergesekan satu sama lain, menyebabkan rasa sakit dan mengurangi gerakan sendi.

Kondisi ini diperkirakan mempengaruhi 60 persen kucing berusia enam tahun ke atas, dan 90 persen kucing yang lebih tua dari 12 tahun.

Protein yang dikembangkan di laboratorium ini telah menjadi berita utama selama pandemi untuk mencegah orang berisiko tinggi dengan Covid agar tidak sakit parah.

Namun, tidak semua antibodi monoklonal menargetkan patogen. Beberapa yang disetujui untuk manusia dengan kanker melakukan fungsi lain, seperti menandai sel kanker sehingga sistem kekebalan dapat mengenalinya dengan lebih baik dan melawannya.

Mengutip AFP, obat suntik baru yang disetujui untuk kucing yang dikenal dengan nama solensia ini bekerja dengan menempelkan dirinya ke protein yang disebut faktor pertumbuhan saraf (NGF) yang terlibat dalam pengaturan rasa sakit.

Ketika frunevetmab, bahan aktif dalam Solensia, berikatan dengan NGF, ini mencegah sinyal rasa sakit mencapai otak.

Efek samping obat yang disuntikkan di bawah kulit oleh dokter hewan sebulan sekali, antara lain muntah, diare, nyeri tempat suntikan, koreng di kepala dan leher, dermatitis, dan pruritus (kulit gatal).

 

(Devi Puspitasari\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar