Ini Sejumlah Aturan yang Membuat Arab Saudi Dianggap Semakin Sekuler

Senin, 17/01/2022 11:25 WIB
Warga Arab Saudi (Arab News)

Warga Arab Saudi (Arab News)

Jakarta, law-justice.co - Penilaian soal Arab Saudi yang dahulu disebut konservatif kini terlihat mulai tersekularasi.

Sejumlah kebijakan sekuler diterapkan mulai dari diizinkannya gelaran tari samba hingga pencabutan peran polisi syariat.

Sejak Putra Mahkota Mohammed bin Salman memimpin Arab Saudi, muncul sejumlah gebrakan baru yang mengarah ke modernisasi hingga sekularisasi.

Berikut deret kebijakan sekuler di Arab Saudi seperti melansir cnnindonesia.com:

1. Gelaran Tari Samba

Pada pekan lalu, tari samba muncul di Festival Musim Dingin Jazan di Arab Saudi. Di era MbS, Kerajaan memang mengizinkan pagelaran konser, festival dan pembukaan bioskop.

Dalam video yang beredar di media sosial, terlihat tiga orang asing penari samba menampilkan gerakan mereka di jalan utama Jazan. Perempuan penari itu mengenakan kostum tradisi Brasil yang penuh warna dengan tangan, kaki dan perut yang terbuka.

Gelaran itu memicu polemik lantaran sejumlah warga menilai penari samba tersebut berpakaian terlalu minim. Pihak Saudi kemudian melakukan investigasi.

2. Saudi Cabut Peran Polisi Syariat

Otoritas Saudi mencabut semua hak prerogatif polisi syariat, sehingga kini mereka tak punya peran yang jelas.

Sebelum dicabut, para polisi syariat itu bertugas menegakkan aturan hukum yang sesuai dengan ajaran Islam. Mereka juga kerap memantau perilaku sosial termasuk pembatasan terhadap laki-laki dan perempuan. Pembatasan itu kini disebut mulai dilonggarkan, utamanya hak-hak perempuan.

Sejumlah mantan polisi syariat Arab Saudi mengeluhkan aturan baru yang dicanangkan Kerajaan.

Salah satu eks polisi itu, Faisal, merasa Arab Saudi kini bertolak belakang dengan kultur dan nilai-nilai yang dulu.

"Apa pun yang harus saya larang sekarang diizinkan, jadi saya berhenti," ujar Faisal dikutip AFP pekan lalu.

3. Perayaan Natal secara Terbuka

Sejumlah warga asing yang tinggal di Arab Saudi mengatakan perayaan Natal yang semakin semarak di negara itu di bawah pimpinan Putra Mahkota Mohammed bin Salman.

Natal Desember lalu tampak kafe hingga restoran berubah menjadi negeri musim dingin, manusia salju berhiaskan berlian, dekorasi, dan ornamen untuk dijual. Para ekspatriat di Kerajaan juga merayakan natal secara bersama.

Menurut pengakuan salah satu warga asing di Saudi, di tahun-tahun sebelumnya perayaan natal senyap, ketat dan tertutup.

4. Bebas Pakai Bikini di Pantai Tertentu

Salah satu wilayah di Arab Saudi, di kawasan King Abdullah City disebut melonggarkan aturan salah satunya bebas memakai bikini.
Kawasan pesisir di King Abdullah Economic City juga dibuka untuk turis yang datang berpasangan.

Selain itu, para wisatawan juga disebut boleh mengenakan pakaian renang bahkan bikini di kompleks hotel atau jalanan.

5. Perempuan Boleh Hidup Sendiri tanpa Wali

Arab Saudi berencana mengizinkan perempuan yang belum menikah, bercerai atau janda hidup sendiri tanpa mendapat persetujuan dari wali laki-laki.

Di hadapan pengadilan Syariah Saudi, otoritas Kehakiman menghapus pasal 169 dalam Hukum Acara negara tersebut.

Menurut UU Saudi terbaru, seorang perempuan dewasa memiliki hak untuk memilih tempat tinggal. Selain itu, wali dari seorang perempuan hanya dapat melaporkan jika mereka miliki perempuan tersebut melakukan kejahatan.

Selain itu, jika perempuan yang sudah bebas dari penjara tidak akan diserahkan kepada wali.

6. Ganti Nama tanpa Izin Wali

Pada 2021 Januari lalu, Saudi juga mengizinkan perempuan yang berusia di atas 18 tahun mengubah nama mereka tanpa mengantongi izin wali.

Pihak berwenang juga mencabut pembatasan perjalanan bagi perempuan saat 2019 lalu. Dalam aturan itu pula, perempuan di atas 21 tahun diizinkan mengajukan paspor dan bepergian dengan bebas.

7. Izinkan Perempuan Setir Mobil

Arab Saudi, di bawah kepemimpinan MBS, juga melakukan terobosan mengakhiri kebijakan kontroversial dengan mengizinkan perempuan menyetir mobil pada 2017.

8. Perempuan Masuk Militer

Pada Februari lalu, pemerintah Saudi membuka pendaftaran Angkatan Bersenjata bagi perempuan. Mereka yang berusia 21 hingga 40 tahun boleh mendaftar.

Kemudian dua bulan lalu, Kerajaan meluluskan angkatan pertama tentara perempuan dari Pusat Pelatihan. Kelulusan ini dianggap menjadi sejarah sebagai upaya reformasi pemberdayaan perempuan yang dicanangkan pemerintah.

Itulah sejumlah kebijakan sekuler di Arab Saudi.

(Annisa\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar