Gempa Susulan Disebut Terjadi 32 Kali di Banten, Warga Mengungsi

Sabtu, 15/01/2022 15:50 WIB
Salah satu rumah rusak akibat gempa M 6,6 di Provinsi Banten (Dok. BNPB)

Salah satu rumah rusak akibat gempa M 6,6 di Provinsi Banten (Dok. BNPB)

Jakarta, law-justice.co - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat ada 32 gempa susulan usai gempa Banten berkekuatan magnitudo 6,6, Jumat (14/1/2022) kemarin.

Koordinator Mitigasi Gempabumi dan Tsunami BMKG Daryono mengatakan gempa susulan terjadi dengan kekuatan bervariasi. Ia menyebut gempa susulan paling kuat berkekuatan magnitudo 5,7.

"Hingga hari Sabtu, 15 Januari 2022 pukul 12.00 WIB, hasil monitoring BMKG menunjukkan telah terjadi 32 kali aktivitas gempa susulan (aftershock), dengan magnitudo terbesar 5,7 dan magitudo terkecil adalah 2,5," kata Daryono lewat keterangan tertulis yang diterima pada Sabtu (15/1/2022).

Mengutip data BPBD Pandeglang, Daryono menyebut gempa Banten mengguncang 113 Kelurahan di 17 Kecamatan di Kabupaten Pandeglang. Akibat gempa itu, lebih dari 700 rumah dan 30 fasilitas umum rusak.

Gempa itu juga tak hanya dirasakan di daerah Banten. Warga di DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Lampung ikut merasakan guncangan kuat.

"Guncangan gempa ini terasa sangat kuat di Jakarta disebabkan karena adanya efek tapak lokal (local site effect) lapisan tanah lunak dan tebal di wilayah Jakarta yang memicu terjadinya resonansi gelombang gempa," ucap Daryono.

Dia menjelaskan episenter gempa berada di laut, 132 kilometer dari Pandeglang. Gempa ini adalah gempa dangkal karena memiliki hiposenter 40 kilometer.

Sementara itu, masyarakat Desa Tamanjaya, Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang, Banten, mengungsi ke hunian tetap (huntap) yang dahulu mereka gunakan usai tsunami Selat Sunda tahun 2018.

Ade Sutoni, Kepala Desa (Kades) Tamanjaya, menyebut hanya sebagian warga yang bertahan di kampung untuk ronda dan menjaga rumah masyarakat.

"Setelah saya survei dari Kampung Paniis sampai Kampung Tamanjaya, itu rata-rata pada ngungsi. Hanya beberapa saja [yang bertahan], itu juga yang berjaga di tiap kampung biar rumah enggak sampai kosong," kata dia, saat dihubungi, Sabtu (15/1/2022).

Menurutnya, warga mengungsi ke huntap atas inisiatif sendiri lantaran sudah memiliki kebiasaan langsung pergi ke huntap yang berada di dataran tinggi jika ada gempa besar.

 

(Devi Puspitasari\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar