Soroti Kinerja Airlangga, Langkah GMPG Temui Elit Golkar Dinilai Tepat

Sabtu, 15/01/2022 07:40 WIB
Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto (Foto: Istimewa)

Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto (Foto: Istimewa)

[INTRO]
Pengamat Politik dari Paramadina Public Policy Institute Septa Dinata berpandangan, rencana roadshow Generasi Muda Partai Golkar (GMPG) ke elit-elit beringin merupakan hal positif sebagai bentuk gerakan politik yang menandakan adanya regenerasi tokoh politik di partai tua ini. 
 
"Artinya, muncul tokoh-tokoh muda," ujar Septa melalui keteranganya, Jumat (14/01/2022).
 
Septa meyakini bahwa elit-elit Golkar adalah politisi-politisi ulung yang akan menempatkan kepentingan partai di atas kepentingan pribadi. Golkar memang diuntungkan dengan kematangan elit-elitnya. "Tindakan-tindakan yang di luar dugaan mungkin saja terjadi," ujarnya.
 
"Kalau lah elit-elit ini bersepakat untuk menurunkan Airlangga, nanti lah siapa yang menjadi Ketum baru, nah itu saya kira akan lebih mudah," ujarnya.
 
Tapi Septa menegaskan, menurunkan dan mengganti Ketum adalah dua hal berbeda di Golkar yang membutuhkan energi luar biasa. Golkar, harus bisa cermat melihat opsi-opsi.
 
Seperti diketahui, GMPG tengah berencana menggelar roadshow ke elit-elit Golkar untuk menyampaikan hasil evaluasi mereka atas kepemimpinan Airlangga Hartarto selama lebih dari dua tahun menjabat Ketum.
 
Beberapa catatan evaluasi mereka meliputi:
 
1) Citra Partai Golkar Rusak
GMPG mencatat, kepemimpinan Airlangga menegasikan citra Golkar yang eksklusif, oligarkis dan birokratis. Golkar bersih hanya menjadi wacana dan retorika karena banyak kader partai baik di eksekutif maupun legislatif terjerat kasus korupsi.
 
2) Elektabilitas Golkar Menurun
GMPG mencatat, elektabilitas Golkar saat ini tak lebih tinggi dari elektabilitas 2017 lalu saat Golkar masih dipimpin Setya Novanto. Kala itu Golkar tembus 10.9 persen, sementara pada survey terbaru saat ini Golkar hanya mencapai angka tertinggi sebesar 10.8 persen.
 
Penurunan juga terjadi pada kolektibilitas kursi hasil Pemilu dari 14,75 persen pada 2014 menjadi 12,31 persen pada 2019.
 
3) Elektabilitas Airlangga Cuma Nol Koma
Selain elektabilitas Golkar yang menurun, elektabilitas Airlangga juga hanya sebatas nol koma. Baliho-baliho yang Airlangga yang tersebar sebagai instruksi DPP Partai terbukti tak memberi dampak siginifikan pada Airlangga, terlebih pada Golkar.
 
4) Sepi Konsolidasi
GMPG mengenang petuah mantan Ketua Umum Golkar Abu Rizal Bakri bahwa elektabilitas partai adalah buah dari tertibnya konsolidasi. Tapi di masa kepemimpinan Ketum Airlangga, Golkar sepi konsolidasi bahwa konsolidasi yang ada pun tak berjalan baik.
 
Di era Airlangga ini, untuk pertama kalinya musyawarah daerah (Musda) terpecah menjadi dua. Ini menunjukkan tata kelola partai yang buruk.
 
5) Mesin Partai Mogok
Di tengah gaung politik 2024, GMPG menyebut mesin beringin tak berjalan dengan baik saat ini; Tak ada meritokrasi dalam manajemen kerja internal Golkar; Program kerakyatan Golkar tak berjalan; Kaderisasi pun tak berlangsung maksimal.
 
Golkar Institute bahkan disebut tak lebih dari sebagai lembaga pelatihan yang bersifat komersil. Setiap peserta Golkar Institute harus membayar biaya yang tak sedikit.
 
6) Golkar Tidak sedang Baik-baik Saja
GMPG menyebut, imbauan Dewan Pakar dan Dewan Pertimbangan Golkar agar kader menjaga soliditas sebagai penanda bahwa internal Golkar dalam keadaan rentan.
 
Salah seorang inisiator GMPG Sirojudddin Abdul Wahab mengatakan pada wartawan, Kamis (13/1/2022) bahwa, Airlangga terbukti sebagai sosok yang tidak mampu memimpin Golkar. Karenanya, demi menjaga eksistensi Partai Golkar, GMPG akan menggelar roadshow ke sejumlah elit beringin.

(Givary Apriman Z\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar