WHO Pastikan Belum Ada Kematian Akibat Covid-19 Varian Omicron

Minggu, 05/12/2021 11:58 WIB
Varian baru B.1.1.529 atau Omicron terdekteksi dari Afsel (PA Media)

Varian baru B.1.1.529 atau Omicron terdekteksi dari Afsel (PA Media)

Jakarta, law-justice.co - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan bahwa belum ada laporan kasus kematian yang berkaitan dengan Covid-19 varian Omicron pada Jumat (3/12).

"Saya belum menerima laporan kematian yang berkaitan dengan Omicron," ujar juru bicara WHO, Christian Lindmeier, kepada reporter di Jenewa seperti dilansir dari cnnindonesia.com.

WHO mengaku telah mengumpulkan bukti terkait varian itu, selagi negara-negara di dunia berusaha menghentikan laju penyebaran Omicron.

"Kami tengah mengumpulkan bukti dan kami akan menemukan lebih banyak bukti selagi bisa," imbuh jubir itu.

Lindmeier kemudian meminta seluruh negara untuk tetap melakukan pengujian dan menganalisis secara khusus varian Omicron.

"Kami juga akan menemukan kasus yang lebih, informasi yang lebih dan berharap, semoga tidak, tapi juga kemungkinan kematian," ucap dia.

Varian Omicron pertama dilaporkan oleh Botswana, Afrika Selatan pada November lalu. Varian itu kini menyebar di hampir seluruh negara.

Demi mencegah penularan lebih luas, beberapa negara memutuskan menutup perbatasan internasional, utamanya dari Afrika. Jepang, bahkan menutup pintu bagi warga asing dan menghentikan penjualan tiket pesawat.

Sementara itu pihak berwenang Afrika Selatan merasa dihukum oleh sejumlah negara yang menutup perbatasan bagi mereka lantaran mendeteksi varian baru.

Padahal mereka sudah membagikan informasi baru, dengan pengurutan genom yang canggih dan kemampuan mendeteksi varian baru lebih cepat.

Omicron kini menjadi ancaman baru bagi dunia di tengah banyak negara yang berangsur menerapkan hidup normal dan berusaha bangkit dari keterpurukan ekonomi.

WHO juga memasukkan varian tersebut ke dalam kategori varian of concern atau varian yang mengkhawatirkan.

Badan itu juga menyatakan varian Omicron memiliki tingkat penularan yang lebih tinggi dibanding varian lain dan dapat memicu reinfeksi atau infeksi ulang Covid-19. Namun penelitian lebih lanjut tetap diperlukan untuk informasi yang lebih komprehensif.

(Ade Irmansyah\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar