Gerindra: Tarif Tes PCR Sebenarnya Masih Bisa di Bawah Rp 100 Ribu

Minggu, 05/12/2021 09:54 WIB
Warga RW 09 dan 10 Kelurahan Kayu Putih kembali menjalani tes usap PCR guna mengantisipasi penyebaran virus di wilayah mereka yang kini tengah dalam status Zona Merah atau karantina wilayah sejak 4 Juni kemarin usai 22 orang terkonfirmasi positif Covid-19. Robinsar Nainggolan

Warga RW 09 dan 10 Kelurahan Kayu Putih kembali menjalani tes usap PCR guna mengantisipasi penyebaran virus di wilayah mereka yang kini tengah dalam status Zona Merah atau karantina wilayah sejak 4 Juni kemarin usai 22 orang terkonfirmasi positif Covid-19. Robinsar Nainggolan

Jakarta, law-justice.co - Anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi Partai Gerindra, Andre Rosiade menyatakan bahwa harga tes Covid-19 dengan metode PCR masih terlalu mahal.

Hal itu dia sampaikan di hadapan Menteri BUMN Erick Thohir, meskipun kini pemerintah sudah menurunkan batas harga tes PCR menjadi Rp275 ribu.

Andre menjelaskan bahwa harga tes PCR itu seharusnya bisa di bawah Rp 200 ribu.

"Kalau kita mau jujur itu dibawah Rp 100 ribu pun bisa dan kami sudah meminta dalam RDP itu bahwa BUMN Farmasi kita untuk mengevaluasi harga PCR kita yang dikelola oleh BUMN Farmasi," ujarnya.

Andre menjelaskan, fungsi dan peran BUMN selain menyetorkan deviden ke negara, juga menjadi agent of development yang harus dirasakan kehadirannya dan manfaatnya oleh masyarakat.

"Untuk itu, saya mendorong kepada Pak Menteri BUMN agar harga tes PCR yang dilakukan oeh Lab-lab BUMN maupun rumah sakit BUMN yang dikelola oleh BUMN itu bisa dibawah Rp 200 ribu," katanya.

Menurutnya, dengan harga dibawah Rp200 ribu saja klinik atau laboratorium yang melakukan uji tes PCR tersebut sudah mendapatkan untung.

Karena itulah, dia berharap Erick dapat menurunkan harga tes PCR di laboratorium, klinik, dan rumah sakit milik BUMN.

"Karena memang itu sudah untung, modalnya cuma Rp 100 ribu, harapan kita Pak Menteri mendorong itu, sehingga BUMN kita benar-benar hadir dan dirasakan manfaatnya dibawah kepemimpinan Pak Erick sebagai menteri BUMN, jadi saya rekomendasikan Harga PCR segera diatur dibawah Rp 200 ribu," Pintanya.

Sebelumnya, Andre mengkritisi harga PCR yang kerap berubah-ubah sejak awal pandemi hingga saat ini.

Setidaknya, ada beberapa kali perubahan harga PCR dari semula jutaan rupiah, kemudian turun menjadi Rp900 ribu rupiah. Lalu, turun lagi ke angka Rp495 ribu.

Harga PCR saat ini ada di angka Rp275 ribu.

Padahal, mesin PCR harganya ada di kisaran Rp250 juta.

Namun, saat ini, ia bilang banyak pabrik-pabrik mesin PCR itu menggratiskan mesinnya.

Dengan kondisi itu, dia mengatakan laborarium yang ada cukup beli alat ujinya atau kit saja sehingga, harga tes PCR seharusnya sudah dibawah Rp 200 ribu.

(Annisa\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar