Paul Zhang :Tukang Becak Juga Bisa Menyidang ,Modal Dadu.

Minggu, 05/12/2021 00:32 WIB
Jejak Kondisi tersangka kasus penodaan agama, Muhammad Kece sebelum dan sesudah dianiaya di Rutan Sept 2021 dan saat selesai Sidang kemarin

Jejak Kondisi tersangka kasus penodaan agama, Muhammad Kece sebelum dan sesudah dianiaya di Rutan Sept 2021 dan saat selesai Sidang kemarin

law-justice.co -  

Jozeph Paul Zhang kembali berulah , mengatakan bahwa persidangan kasus dugaan penistaan agama dengan terdakwa Muhammad Kece alias M Kace alias Kosman Kosasih Bin Suned, di Pengadilan Negeri (PN) Ciamis saat ini, adalah retorika belaka dan sudah disetting sedemikian rupa.

Bahkan menurut pria bernama asli Shindy Paul Soerjomoelyono, dalam persidangan yang digelar di Pengadilan Negeri (PN) Ciamis, vonis yang akan diberikan terhadap Muhammad Kece sudah ditentukan dan disepakati.

Hal itu dikatakan Jozeph Paul Zhang dalam akun YouTubenya Jozeph Paul Zhang dan Hagios Europe Sabtu (4/12/2021).

 "Ini semua pengadilan M Kace sekarang ini ya cuman retorika doang. Dia masih sakit juga lagi. Pengacaranya kerjanya cuma beretorika doang. Kalau cuma gitu gak usah sekolah tinggi jadi pengacara, tukang becak juga bisa," kata Paul Zhang.

Menurut Paul Zhang, sebelum dipastikan persidangan Muhammad Kece digelar di PN Ciamis, pihaknya sudah memberitahukan hal itu ke pengacaranya, namun tidak digubris dan tak dipercaya.

"Coba ya sebelum jadi pindah ke Ciamis, kita kan sudah bilang ini pengadilan di Ciamis gak di Bali, kita udah bilang toh. Info yang kasih dari Bandung ya yang ngomong sama kita. Karena kebetulan yang nangkep Kace itu masih kerabatnya sumber kita. Intinya nya begitu ya," kata Paul Zhang.

Bahkan kata Paul Zhang saat timnya ingin menemui Muhammad Kece, untuk diselamatkan, tim pengacara tidak memperbolehkan bertemu.

 

"Makanya sekarang telat, udah di Ciamis. Kajian hukum gak perlu dikaji lagi. Kace kena 5 tahun saja udah bagus itu," kata Paul Zhang.

Menurut Paul Zhang karena dari awal pihaknya sudah tahu pengadilan akan digelar di PN Ciamis, artinya vonisnya pun sudah diketahui.


"Artinya vonisnya sudah ditetapkan, artinya apa lagi berarti sidangnya ini cuman retorika doang. Karena kita sudah tahu, Hakim dan pendakwanya serta pelapornya sudah setting, sudah meeting, sudah lempar dadu sama-sama. Nanti vonisnya sekian tahun ya," kata Paul Zhang.

 Selain itu, Paul juga menjelaskan alasannya mengganti nama dari Shindy Paul Soerjomoelyono menjadi Jozeph Paul Zhang. Dia mengaku mengganti nama itu pada 2016.

"Ya itu nama baru saya setelah saya melayani Tuhan, tetapi saya tidak berarti memungkiri masa lalu yang tidak baik, kebetulan saya ini terlalu salah," katanya.

Sidang M Kace Tertidur


Sementara itu sidang kasus dugaan penistaan agama dengan terdakwa Muhammad Kosman alias Muhammad Kece alias M Kace, digelar di Pengadilan Negeri Kelas 1 B Ciamis, Kamis (2/12/2021).

Agenda sidang kedua ini adalah pembacaan dakwaan oleh Jaksa Penuntut Umum.

Berkas dakwan setebal 385 halaman, dibaca bergantian

Sidang dimulai tepat pukul 09.00 WIB. Jaksa penuntut umum menyiapkan 385 halaman berkas dakwaan. Sejumlah jaksa bergantian membaca berkas dakwaan mengingat jumlahnya yang cukup banyak. 

Sidang dimulai pukul 09.00 hingga sore hari dengan skors untuk makan siang dan istirahat. Sementara terdakwa Muhammad Kece beberapa kali tertidur saat sidang pembacaan dakwaan.

Hal tersebut dibenarkan oleh kuasa hukum M Kace, Martin Lukas Simanjuntak. Martin mengatakan terdakwa beberapa kali tertidur di persidangan. Bukan hanya majelis hakim, bahkan Martin menegurnya beberapa kali.


Menurut Martin saat itu kondisi M Kace sedang tidak sehat. Sehingga, membuatnya mengantuk mendengar pembacaan dakwaan yang jumlah halamannya sapai 300 an tersebut.

Surat Sehat padahal tidak Sehat

"Klien kami sedang dalam kondisi yang tidak sehat, kadar gula darahnya tinggi," jelas Martin. Sehari sebelum sidang kata dia, kadar gula darah M Kace sebesar 291 mg/dL. Sedangkan sesaat sebelum sidang, saat dicek kadar gulanya 441 mg/dL. "nilai yang tidak Normal  ,sampai  Dua kali batas normal manusia," kata Martin. Tetapi surat sehat tetap dikeluarkan. 

 
Dia mengaku heran, dengan kadar gula darah tinggi, namun Muhammad Kece dinyatakan sehat oleh dokter.  "Ini aneh, kadar gula dalam tubuh tinggi seperti itu bisa keluar surat keterangan sehat dan bisa melanjutkan persidangan," ucap Martin. Dengan kondisi seperti itu, lanjut dia, membuat terdakwa beberapa kali tertidur di persidangan.

Martin bahkan harus menegurnya.

"Majelis hakim juga menegur agar (terdakwa) bisa kembali fokus mendengarkan dakwaan," katanya.

Persidangan dengan kondisi terdakwa sakit, menurut Martin, seharusnya tidak boleh dilakukan karena agenda saat ini penting.

Meskipun sudah memberi kuasa kepada pengacara, lanjutnya, namun terdakwa tetap mempunyai hak untuk mendengar langsung secara jelas dan terang benderang berkas dakwaan jaksa penuntut umum.

Terlebih, kata Martin, dakwaan dari jaksa penuntut umum yang jumlahnya sebanyak 385 halaman.

Kata dia, tidak memungkinkan orang dengan kadar gula darah tinggi harus mendengar dakwaan setebal itu.

"Itu yang saya bilang seharusnya dikedepankan hak-hak manusia sesuai hak azasi manusia yang didasarkan dengan hak-hak secara hukum juga yang sudah diatur KUHP," kata Martin.

Penjagaan Ketat

 

Muhammad Kece diancam Pasal 14 ayat 2 Undang-undang RI nomor 1 tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana juncto Pasal 64 ayat 1 KUHP. Kemudian, Pasal 45 A ayat 2 juncto Pasal 28 ayat 2 Undang-undang nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan Undang-undang No 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Undang-undang nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik juncto pasal 64 ayat 1 KUHP.

Penjagaan di area pengadilan cukup ketat. Anggota Satuan Sabhara Polres Ciamis siaga di halaman pengadilan.

Persidangan kemarin  dipimpin hakim ketua Vivi Purnamawati SH MH, dengan anggota Indra Muharam SH, dan anggota satu Rika Emilia SH MH. Kuasa hukum Muhammad Kece yang hadir di persidangan yakni Martin Lukas SH dan Mansyur.

 Tersangka kasus penistaan agama yang kini belum juga bisa ditangkap Polri,

 

 

(Patia\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar