Dunia Isolasi Afrika Selatan Akibat Varian Omicron, PBB Khawatir

Selasa, 30/11/2021 18:25 WIB
Sekjen PBB Antonio Guterres pada jumpa pers di New York, Amerika Serikat (Reuters)

Sekjen PBB Antonio Guterres pada jumpa pers di New York, Amerika Serikat (Reuters)

New York, Amerika Serikat, law-justice.co - Puluhan negara telah berlomba-lomba menerapkan pembatasan hingga larangan perjalanan ke sejumlah negara di selatan Afrika seperti Afrika Selatan dan Botswana yang pertama kali mendeteksi Covid-19 varian Omicron.

Melihat keadaan itu, Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Antonio Guterres, mengaku sangat khawatir soal potensi dunia mengisolasi negara di selatan Afrika akibat kemunculan Covid-19 varian Omicron.

"Saya minta untuk pemerintah di seluruh negara agar mempertimbangkan tes ulang bagi pengunjung, bersama dengan langkah-langkah lain yang tepat dan betul-betul efektif," ujar Gutteres seperti dikutip Reuters, Selasa (30/11/2021)

Aturan yang tepat dan efektif, menurutnya, bisa menghindari risiko penularan sehingga mengizinkan perjalanan dan melibatkan sektor ekonomi.

Guterres juga memperingatkan akan bahaya kesenjangan vaksin dan rata-rata inokulasi yang rendah menjadi tempat varian Covid-19 berkembang biak.

Penduduk Afrika, lanjutnya, tidak bisa disalahkan atas rendahnya tingkat vaksinasi Covid-19 di kawasan itu.

Afrika menjadi salah satu wilayah dengan tingkat vaksinasi yang rendah lantaran akses terhadap pasokan dosis vaksin yang minim.

"Dan mereka tidak boleh dihukum karena mengidentifikasi dan berbagi pengetahuan penting dan informasi kesehatan bagi dunia," katanya.

Afrika Selatan sebelumnya mengeluhkan bahwa negaranya merasa dihukum oleh sejumlah negara yang segera menutup perbatasan bagi warga mereka tak lama setelah mendeteksi Covid-19 varian Omicron yang disebut lebih mudah menular dari pada varian Delta.

Keputusan itu, menurut Kementerian Luar Negeri Afrika Selatan, sama saja menghukum negara tersebut karena keberhasilannya mendeteksi varian baru Covid-19 lebih cepat.

"Ilmu yang luar biasa harus diapresiasi dan tak dihukum," demikian pernyataan Kemlu Afsel seperti dikutip AFP.

Sejauh ini, 32 negara negara menutup perbatasan pendatang dari Afrika Selatan. Mereka diantaranya, Inggris, Jerman, Spanyol, Israel, Indonesia, Maroko, Australia, Singapura, hingga Hong Kong.

Selain di negara Afrika, varian tersebut juga sudah terdeteksi di sejumlah negara seperti Australia, Belanda, Inggris, Hong Kong, Belgia, Jerman, dan Italia.

WHO bahkan memasukkan varian Omicron ke dalam kategori varian of concern atau varian yang mengkhawatirkan.

Badan tersebut juga menyatakan varian Omicron memiliki tingkat penularan yang lebih tinggi dibanding varian lain dan dapat memicu reinfeksi atau infeksi ulang Covid-19.

 

(Devi Puspitasari\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar