Covid-19 Varian Omicron Disebut Banyak Serang Usia Muda Belum Vaksin

Senin, 29/11/2021 08:30 WIB
Varian baru virus corona (Pixabay)

Varian baru virus corona (Pixabay)

Jakarta, law-justice.co - Pakar Epidemiologi dari Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman menyatakan bahwa mayoritas kasus warga yang terinfeksi varian virus corona (covid-19) B.1.1.529 atau yang disebut varian Omicron berasal dari mereka yang belum menerima vaksin Covid-19.

Kata Dicky, varian yang pertama kali ditemukan di Afrika Selatan ini juga lebih banyak menginfeksi usia muda, sehingga menurutnya varian ini cukup berbahaya.

Apalagi kata dia, Badan Kesehatan Dunia (WHO) sudah mengklasifikasikan varian ini sebagai variant of concern (VoC) alias varian yang diwaspadai.

"Varian Omicron ini kasusnya lebih banyak terjadi pada orang yang belum divaksinasi, tapi usia muda. Nah, ini yang berbahaya namun ini memberi isyarat bahwa vaksin masih efektif," kata Dicky seperti melansir cnnindonesia.com.

Namun demikian, Dicky menjelaskan bahwa tingkat efektif vaksin terhadap varian ini kemungkinan hanya meminimalisir gejala klinis yang dialami sehingga tidak mengalami gejala memburuk atau bahkan kematian.

Sementara efektivitas vaksin untuk pencegahan terinfeksi dan meminimalisir penularan Covid-19 antarmanusia menurutnya masih belum dipastikan, dan masih perlu penelitian lebih mendalam lagi.

"Nah itu yang akan menjadi masalah. Namun yang perlu diketahui potensi gelombang tiga itu jelas ada, dan menjadi satu hal yang sangat menguat saat ini," kata dia.

Dicky kemudian menilai bahwa pandemi Covid-19 di 2022 mendatang akan menjadi tahun yang sulit diprediksi. Ia menyebut, potensi munculnya gelombang akan sulit diprediksi secara presisi lantaran varian-varian baru memiliki kemampuan yang kadang tidak diduga-duga.

Layaknya varian Omicron, Dicky mewanti-wanti bahwa varian ini berbahaya lantaran menjadi satu-satunya varian Covid-19 yang langsung dikategorikan VoC.

Padahal, biasanya status varian Covid-19 dinyatakan secara bertahap sesuai dengan tingkat keparahannya dalam mempengaruhi kondisi pengendalian pandemi di suatu negara.

"Dan bicara secara klinis dan gejala, ini yang masih harus kita tunggu. Yang jelas potensi kecepatan penularannya kalau diibaratkan, Delta itu kan 100 persen kecepatannya lebih cepat daripada virus liar yang di Wuhan. Ini kemungkinan bisa 500 persen dari dari varian Wuhan, ini masih potensi ya," jelasnya.

Untuk itu, Dicky mendorong agar Indonesia semakin memperbanyak laporan sampel whole genome sequencing (WGS) kepada lembaga Global Initiative on Sharing All Influenza Data (GISAID). GISAID adalah sebuah lembaga bank data yang saat ini menjadi acuan untuk data genom virus corona SARS-CoV-2.

Dicky juga mewanti-wanti bahwa pemeriksaan WGS bukan hanya berbicara mengenai virus corona, melainkan juga ancaman virus-virus lain yang juga dapat mengancam Indonesia.

Untuk itu, ia mendesak agar pemerintah mengalokasikan anggaran lebih agar pemeriksaan WGS di Indonesia semakin agresif dan masif.

Ia juga meminta agar pemerintah fokus menyasar sejumlah kategori yang `wajib` diambil sampelnya untuk kemudian dilakukan pemeriksaan WGS. Yang pertama adalah mereka yang sudah menerima vaksin covid-19 lengkap namun masih terpapar covid-19.

Kedua, kasus-kasus klaster level komunitas yang perlu dicari tahu penyebabnya. Ia menyebut, dalam kondisi seperti itu, pemerintah cukup mengambil sampel acak seperti pada kasus klaster di sekolah dan lain-lain.

"Nah yang ketiga, WGS dilakukan pada setiap hasil positif tes PCR di pintu masuk negara, terutama kedatangan dari negara yang masuk daftar merah atau juga WNA maupun WNI yang memiliki gejala klinis covid-19. Itu menurut saya dalam konteks saat ini sangat perlu dilakukan," ujar Dicky.

Sementara itu, Kementerian Kesehatan sebelumnya mengklaim varian Omicron belum terdeteksi di Indonesia untuk sementara ini berdasarkan pemantauan hasil pemeriksaan WGS.

Sejauh ini, varian Omicron sudah ditemukan di sejumlah negara selain Afrika, seperti Belgia, Belanda, Ceko, Inggris, Jerman, Italia, dan Hongkong. Beberapa negara juga sudah membatasi perjalanan internasional itu, seperti Brasil, Inggris, Israel, Jepang, dan Indonesia.

Sementara itu, Pemerintah Afrika Selatan mengeluh dan merasa mereka `dihukum` karena mendeteksi varian baru Covid-19 Omicron. Hal itu lantaran sejumlah negara di seluruh dunia sudah menutup akses penerbangan dari Afrika Selatan.

Indonesia juga sudah mulai melarang masyarakat asing yang pernah tinggal atau berkunjung ke Afrika Selatan masuk ke wilayah Indonesia. Larangan ini berlaku mulai Senin (29/11) besok.

Ketentuan itu termaktub dalam Surat Edaran Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia RI Nomor IMIM-0269.GR.01.01 Tahun 2021.

Selain Afrika Selatan, pemerintah sementara juga melarang kunjungan dari masyarakat luar negeri yang berasal dari Botswana, Namibia, Zimbabwe, Lesotho, Mozambik, Eswatini, dan Nigeria.

Tak hanya itu, Indonesia juga menangguhkan sementara pemberian visa kunjungan dan visa tinggal terbatas bagi warga negara Afrika Selatan, dan beberapa negara lain yang disebutkan sebelumnya. Kendati demikian, aturan ini tak berlaku bagi warga negara asing yang akan mengikuti pertemuan G20 pada 2022 mendatang.

(Annisa\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar