Apa Itu Algoritma dan Risiko Mengandalkannya

Sabtu, 27/11/2021 09:45 WIB
Ilustrasi algoritma. (CNBC)

Ilustrasi algoritma. (CNBC)

Jakarta, law-justice.co - Pergerakan kita di dunia maya diikuti oleh sistem bernama algoritma. Namun sistem yang dikenal memberikan rekomendasi pada pengguna, ternyata memiliki risiko bagi pengguna dan pembuatnya itu sendiri.

Algoritma dikenal sebagai yang akan menentukan konten yang akan dilihat pengguna, seperti video apa yang selanjutnya kita tonton di Tiktok.

Apa itu algoritma?

Algoritma merupakan seperangkat pengaturan atau perekaman langkah pengguna yang diikuti oleh komputer untuk menghasilkan sesuatu.

Mengutip CNNIndonesia, algoritma tidak hanya ada di ponsel, namun digunakan hampir dalam semua jenis proses. Dari membantu mengerjakan pekerjaan rumah hingga `membimbing` vakum robot untuk menghindari kotoran hewan.

Cara kerja algoritma, dan sistem kesimpulan yang dihasilkan, dianggap menghasilkan pola yang misterius, terutama karena penggunaan teknik Artificial intelligence (AI) membuatnya semakin kompleks.

Hasil AI dianggap tidak selalu bisa dipahami, atau akurat dan konsekuensinya bisa menjadi bencana bagi pengguna.

Saat ini, algoritma membantu memudahkan proses yang mulanya rumit. Saat Anda mengunjungi e-commerce dan melihat piyama, algoritma akan memetakan model yang termurah hingga termahal.

Cara tersebut kerap digunakan oleh Facebook, Instagram, dan Twitter untuk membantu mempersonalisasi umpan pengguna berdasarkan minat dan aktivitas masing-masing individu.

Risiko mengandalkan algoritma

Meta, perusahaan yang sebelumnya dikenal sebagai Facebook sebelumnya mendapat sorotan karena mengubah algoritmanya yang dituding membantu mendorong lebih banyak konten negatif di jejaring sosial.

Ada konsekuensi yang mengubah hidup dari algoritma, terutama di tangan polisi. Kita tahu, misalnya bahwa beberapa pria kulit hitam pernah ditangkap, karena penggunaan sistem pengenalan wajah.

Seringkali hanya ada sedikit penjelasan dasar dari perusahaan teknologi tentang cara kerja sistem algoritma mereka, dan untuk apa algoritma digunakan.

Para ahli teknologi dan hukum teknologi mengatakan bahwa mereka yang membangun sistem ini juga tidak mengetahui apa kesimpulan perusahaan menggunakan algoritma.

Itulah alasan mengapa algoritma kerap disebut sebagai `kotak hitam` menurut laporan Science Focus.

"Ilmuwan komputer, ilmuwan data, pada tahap saat ini mereka tampak seperti penyihir bagi banyak orang karena kami tidak mengerti apa yang mereka lakukan," kata Gilliard. "Dan kami pikir mereka selalu melakukannya, dan itu tidak selalu terjadi."

Saat ini Amerika Serikat diketahui tidak memiliki aturan federal tentang bagaimana perusahaan tersebut dapat dapat menggunakan algoritma secara umum, atau memanfaatkan AI.

Tetapi Kongres AS saat ini sedang mempertimbangkan undang-undang yang dijuluki Filter Bubble Transparency Act, yang akan memaksa perusahaan Internet besar seperti Google, Meta, TikTok, dan lainnya untuk "memberi alasan pengguna terlibat dengan platform tanpa dimanipulasi oleh algoritma data khusus pengguna".

 

(Tim Liputan News\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar