Kecewa dengan Australia, Perancis Dekati Indonesia untuk Apa?

Kamis, 25/11/2021 20:15 WIB
Menlu Prancis Jean-Yves Le Drian (kiri) disambut Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka, hari Rabu (24/11/2021). (AFP)

Menlu Prancis Jean-Yves Le Drian (kiri) disambut Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka, hari Rabu (24/11/2021). (AFP)

Jakarta, law-justice.co - Menteri Luar Negeri Perancis Jean-Yves Le Drian pada Selasa (23/11/2021) lalu berkunjung ke Indonesia.

Dia bahkan ingin menjadi "jembatan" antara negara-negara Indo-Pasifik dan Uni Eropa, dan bahwa kerja sama strategis adalah salah satu prioritasnya untuk kepresidenan Uni Eropa.

"Inti dari komitmen ini adalah visi kami tentang Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka, berdasarkan supremasi hukum, dan menghormati kedaulatan setiap negara,” kata Le Drian di Jakarta, mengutip Kompas.com pada Rabu (24/11/2021).

Kunjungan dua hari Menlu Perancis ke Indonesia tersebut dilakukan saat negara itu gencar melakukan pendekatan untuk meningkatkan hubungannya di Asia, menyusul sengketa diplomatik Perancis-Australia.

September lalu, Australia secara sepihak mendadak membatalkan pembelian kapal selam dari Perancis yang sudah disepakati sejak lama.

Mengintensifkan hubungan Perancis-Indonesia
"Perjalanan ini adalah tentang menegaskan kembali komitmen Perancis untuk Indo-Pasifik dan untuk mengintensifkan hubungan dengan Indonesia," kata seorang sumber diplomatik Perancis kepada wartawan dalam briefing menjelang kunjungan dua hari Jean-Yves Le Drian.

Kunci untuk mengembangkan hubungan itu antara lain kerja sama militer yang lebih erat.

Indonesia ingin meningkatkan kemampuan pertahanannya, termasuk dengan kemungkinan pembelian kapal selam, pesawat tempur, dan kapal perang, di tengah ketegangan yang sedang berlangsung dengan China di Laut China Selatan yang disengketakan.

Paris telah bernegosiasi dengan Jakarta selama beberapa bulan untuk penjualan 36 jet tempur Rafale. Sebuah Letter of Intent telah ditandatangani pada Juni, meskipun para pejabat tidak mengharapkan kesepakatan itu terpenuhi sebelum akhir tahun karena masalah pembiayaan.

Kecewa berat dengan Australia

Menlu Jean-Yves Le Drian juga mengatakan Perancis telah setuju untuk melakukan investasi senilai 500 juta euro dalam proyek-proyek transisi energi di Indonesia. Namun, dia tidak memberikan rincian lebih lanjut.

Dia berbicara dengan Menlu Retno Marsudi setelah sebelumnya bertemu dengan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto. Le Drian juga melakukan pertemuan dengan Presiden Joko Widodo pada Rabu malam waktu setempat.

Perancis menuduh Australia melakukan "pengkhianatan", setelah memilih membeli kapal selam yang dibangun dengan teknologi AS dan Inggris, sekalipun sudah ada kesepakatan sebelumnya dengan Perancis.

Australia membatalkan pembelian itu untuk memulai aliansi keamanan trilateral dengan Inggris dan Amerika Serikat, AUKUS. Aliansi keamanan itu dimaksudkan untuk mengantisipasi pengaruh militer China di kawasan Pasifik.

 

(Tim Liputan News\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar