Ada Varian Baru Covid-19 yang Bisa Melawan Kekebalan Tubuh Manusia

Kamis, 25/11/2021 18:15 WIB
Varian baru virus corona (Pixabay)

Varian baru virus corona (Pixabay)

law-justice.co - Beberapa negara di dunia sedang bangkit dari keterpurukan pandemi Covid-19, menyusul vaksinasi dan kekebalan bersama yang sudah tercapai. Tapi ilmuan mengingatkana adanya varian baru yang bisa melawan kekebalan tubuh manusia.

Itu adalah Varian B.1.1.529 yang bisa membawa mutasi dalam jumlah yang besar. Varian dengan tingkat mutasi yang tinggi bisa mendorong perlawanan terhadap kekebalan tubuh manusia dan menyebabkan risiko fatal terhadap penyakit mematikan.

Varian B.1.1.529 sejauh ini hanya terdeteksi di 3 negara, tapi memicu kekhawatiran serius di antara beberapa peneliti karena sejumlah mutasi dapat membantu virus menghindari kekebalan.

Sebagaimana dikutip dari The Guardian, varian B.1.1.529 memiliki 32 mutasi pada lonjakan protein, bagian dari virus yang digunakan sebagian besar vaksin untuk memperkuat sistem kekebalan tubuh melawan Covid. Mutasi pada protein lonjakan dapat mempengaruhi kemampuan virus untuk menginfeksi sel dan menyebar, tapi juga mempersulit sel kekebalan untuk menyerang patogen.

Varian B.1.1.529 pertama kali terlihat di Botswana. Ada enam kasus terdeteksi di Afrika Selatan dan satu kasus di Hong Kong.

Ahli virologi di Imperial College London Dr Tom Peacock menyebut bahwa jumlah lonjakan mutasi tinggi berpotensi menyebabkan dampak yang serius.

"Sangat banyak yang harus dipantau karena profil lonjakan yang mengerikan itu", tulis Peacock di akun Twitternya.

Direktur insiden Covid-19 di Badan Keamanan Kesehatan Inggris Dr Meera Chand mengatakan, lembaga tersebut terus berkolaborasi dengan lembaga serupa di seluruh dunia untuk memantau perkembanga mutasi varian Covid-19.

“Karena sifat virus sering bermutasi dan acak, tidak jarang sejumlah kecil kasus muncul dengan serangkaian mutasi baru. Setiap varian yang menunjukkan bukti penyebaran dinilai dengan cepat,” katanya.

Kasus pertama dari varian dikumpulkan di Botswana pada 11 November, dan yang paling awal di Afrika Selatan dicatat tiga hari kemudian.

Kasus yang ditemukan di Hong Kong adalah seorang pria berusia 36 tahun yang memiliki tes PCR negatif sebelum terbang dari Hong Kong ke Afrika Selatan, tempat ia tinggal dari 22 Oktober hingga 11 November.

 

(Januardi Husin\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar