BIN Perjelas Penangkapan 3 Ulama oleh Densus Bukan Kriminalisasi

Sabtu, 20/11/2021 00:35 WIB
Ustaz Farid Okbah, Ahmad Zain An-Najah, dan Anung Al-Hamad Jadi Tersangka Kasus Terorisme,foto jateng.tribunnews.com

Ustaz Farid Okbah, Ahmad Zain An-Najah, dan Anung Al-Hamad Jadi Tersangka Kasus Terorisme,foto jateng.tribunnews.com

law-justice.co -  

Prihatin atas penangkapan beberapa ulama dan aktifis dakwah Islam seperti Ustaz Zain An Najih (Komisi Fatwa MUI), Farid Ahmad Okbah (Ketua Bidang Dakwah PARMUSI (Persaudaraan Muslimin Indonesia, Ustaz  Anung Al-Hamad . 

Deputi VII Komunikasi dan Informasi BIN Wawan H Purwanto mengatakan, penangkapan Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Ahmad Zain An-Najah (AZ) oleh Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror bukan bentuk kriminalisasi. Begitu juga kata dia dengan dua ustaz lainnya yang ditangkap yaitu Ustaz Anung Al Hamat (AA) dan Ketua Umum Partai Dakwah Indonesia (PDRI) Ustaz Ahmad Farid Okbah.

Mereka ditangkap terkait dugaan tindak pidana terorisme di Indonesia. "Sudah dipantau lama sejak 2014 sudah dilakukan pemantauan. Kita tidak menyudutkan lembaganya dan kriminalisasi ulama. Itu penangkapan orang perorang. Dan saat ini sedang disidik. Yang jelas terjadi terkait penggalangan dana," kata Wawan Purwanto dalam acara diskusi Trijaya Hot Topic Petang bertema "Menyoal Penangkapan Teroris JI” pada Jumat, 19 November 2021. Menurutnya, Polri sudah melakukan penyidikan yang sesuai standar operasional prosedur (SOP) dalam penangkapan ketiga terduga terorisme.

Artinya dalam penangkapan tersebut Densus 88 Antiteror sudah memiliki alat bukti yang jelas. "Kita melihat apa yang dilakukan Densus itu on the track dan jangan sampai ketidak-adilan dalam penangkapan itu. Kalau sudah ada alat bukti dan saya kira bagaimana prosesnya itu kita ikuti secara cermat," ujarnya.

Tidak menutup kemungkinan kata dia bahwa Jamaah Islamiyah (JI) ke MUI karena JI diduga telah bermetamorfosis mengubah pola aksinya dengan menginfiltrasi lembaga lain. “Di antaranya infiltrasi ke ormas dan organisasi sosial hingga ke lembaga pendidikan dan yang terkait dengan politik. Ini mencerminkan paham radikal telah masuk ke berbagai lini kehidupan masyarakat,” tuturnya.

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Sekjen Bidang Hukum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Ikhsan Abdullah secara pribadi mengaku sangat kaget dengan penangkapan anggota Komisi Fatwa MUI tersebut. "Saya secara pribadi sangat kaget. Malu dan berbagai macam perasaan, dan mengapa ada orang-orang seperti ini ada di MUI. Saya sama sekali tidak kenal dan anggota Komisi Fatwa dan merupakan utusan dari Ormas yang ada 70 orang di MUI," ujar Ikhsan.

Dia lalu menegaskan, apa yang dilakukan oleh Ahmad Zain itu urusan pribadi dan diluar institusi MUI. Atas penangkapan itu, yang bersangkutan pun sudah langsung dinonaktifkan. "Perbuatannya itu di luar kolerasi dan institusi di MUI. Kita tidak tahu seribu pengurus MUI itu kita tahu. Tidak tahu juga karena tidak pantau itu. Paham radikal tidak ada tempat di MUI. Kalau ada hama itu musibah dalam suatu tenda besar yang harus disingkirkan," kata dia.

Oleh karena itu berharap agar Densus dapat melaksanakan tugasnya secara profesional dan berintegritas tanpa ada kepentingan politik kekuasaan atau pesanan dari pihak tertentu, kata Nasrullah di Jakarta beberapa waktu lalu. 

(Patia\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar