Komentari Respons Hasto PDIP, Waketum Partai Golkar Bilang Begini

Senin, 15/11/2021 06:30 WIB
Sekjen PDIP, Hasto Kristiyanto. Foto: Dok. PDIP

Sekjen PDIP, Hasto Kristiyanto. Foto: Dok. PDIP

Jakarta, law-justice.co - Wakil Ketua Umum (Waketum) Partai Golkar, Nurdin Halid, mengaggap respons Sekjen PDI Perjuangan (PDIP), Hasto Kristiyanto soal Partai Golkar terbuka untuk Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, seperti reaksi `kebakaran jenggot`.

Dia menegaskan membantah pernah beberapa kali membujuk Ganjar.

"Reaksi Hasto saya kira agak berlebihan, tidak tepat dan tidak faktual. Mungkin kalau saya katakan reaksi itu semacam kebakaran jenggot. Kenapa? Satu, ngapain membujuk-bujuk. Setahu saya, apalagi saya pribadi, tidak pernah membujuk daripada Saudara Ganjar. Pernyataan tersebut adalah kutipan dari diskusi teman-teman di DPR," kata Nurdin seperti melansir detik.com, Minggu (14/11/2021).

Nurdin mengklaim bahwa Golkar pasca-reformasi merupakan partai dengan kaderisasi kepemimpinan terbaik. Buktinya, banyak kader Golkar yang sukses mendirikan partai baru.

"Contohnya adalah banyak kader-kader Golkar yang handal, yang duduk di legislatif dan eksekutif, di tingkat nasional dan daerah. Bahkan, tidak bisa dipungkiri bahwa banyak kader Golkar yang sukses mendirikan partai dan berhasil, misalnya Pak Surya Paloh dengan NasDem, Pak Prabowo Gerindra, dan Pak Wiranto Hanura, dan juga banyak kader Golkar berpartisipasi di partai lain, termasuk di PDIP," kata Nurdin.

Lebih lanjut, Nurdin setuju dengan pernyataan Hasto yang menyebut kepemimpinan lahir dari proses kaderisasi yang sistemik. Namun, Nurdin mengingatkan pasca reformasi tak ada partai yang bisa berdiri sendiri.

"Contohnya, Pemilu 2004 Ibu Mega kan berpasangan dengan Pak Prabowo dari Gerindra, bukan berpasangan dengan kader PDIP sendiri. Di tahun 2014 berpsangan dengan Pak JK, mantan Ketua Umum Golkar, kader Golkar," ujarnya.

Mantan Ketua Umum PSSI itu menjelaskan bahwa tujuan berpolitik adalah kekuasaan. Kekuasaan, harus dicapai dengan komunikasi yang strategis.

"Jadi, dalam era multi partai, dalam proses demokrasi, ini soal kepentingan, kepentingan bangsa dan negara. Seorang politisi adalah tujuannya kekuasaan, kekuasaan itu harus dicapai dengan komunikasi politik yang strategis. Jadi saya katakan, Golkar tidak bujuk membujuk daripada Ganjar," kata Nurdin.

Selain itu, Nurdin Halid juga merespons pernyataan salah seorang pengamat politik terkait pernyataan Golkar terbuka untuk Ganjar. Dia menegaskan Golkar percaya dengan figur Airlangga Hartarto.

"Saking percaya dirinya Partai Golkar, bahkan (menetapkan Airlangga sebagai capres) dari awal. Kenapa? Agar mampu menciptakan soliditas dan konsoliditas daripada seluruh kader Partai Golkar untuk bahu-membahu memenangkan calonnya," sambung dia.

Nurdin menjelaskan penetapan Airlangga sebagai capres dilakukan melalui proses berjenjang, mulai dari aspirasi di tingkat desa hingga ke rapimnas. Kepercayaan diri Golkar terhadap Airlangga semakin bulat, dipengaruhi juga oleh kepercayaan Presiden Joko Widodo (Jokowi) kepada Airlangga.

"Kenapa? Karena Pak Airlangga itu adalah figur yang sangat mumpuni, memiliki kapasitas dan kapabilitas. Buktinya, sebagai Menko Perekonomian beliau mampu mengatasi kesulitan ekonomi di tengah pandemi dan mendapat kepercayaan penuh dari Bapak Presiden," ujar Nurdin.

"Jadi pengamat itu harus arif dan bijaksana memberikan pendidikan politik ke masyarakat. Kenapa? Karena pendidikan politik itu sangat penting bagi demokrasi. Jadi pengamat Yunarto itu sangat dangkal nalarnya dalam memberikan pandangan terhadap pernyataan saya," imbuh dia.

(Annisa\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar