Krisis Energi Serius, Warga China Panic Buying Bikin Stok Pasar Habis

Senin, 08/11/2021 20:25 WIB
Warga China panic buying akibat krisis energi (CNN)

Warga China panic buying akibat krisis energi (CNN)

Beijing, Tiongkok, law-justice.co - Dalam suatu video yang tersebar di media sosial China, Weibo nampak warga China tengah dilanda panic buying. Mereka memborong belanjaan untuk keperluan sehari-hari.


Bahkan mengundang antrean yang mengeluar di suatu supermarket di Changzhou, China. Troli warga yang belanja juga diketahui penuh dan rak-rak di toko pun sampai kosong.

Dikutip dari CNN, Senin (8/11/2021) kepanikan itu didorong karena pengumuman dari Kementerian Perdagangan yang mendesak warganya untuk `menimbun` keperluan makanan. Pemerintah dalam pengumumannya mendorong keluarga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Asisten Profesor di Departemen Sejarah di Chinese University of Hong Kong, Willy Lam mengungkap ada beberapa hal yang mendorong pemerintah mengimbau hal tersebut. Salah satunya, krisis energi tahun ini memaksa pabrik untuk menangguhkan beberapa produksi dan memicu pemadaman listrik rumah.

"Ini juga mencerminkan kecemasan orang-orang tentang kenaikan drastis lebih lanjut dalam [biaya] makanan dan juga ketidakpercayaan terhadap pemerintah," tambah Lam.

Lam juga mengatakan karena pemerintah juga tengah menekan kasus COVID-19, besar kemungkinan akan ada lockdown yang cukup lama agar kasus COVID-19 tetap rendah.

"Ini sebagai persiapan kondisi lockdown ini akan terus berlanjut, meski secara garis besar jumlah untuk China sebenarnya sangat rendah dibandingkan negara lain," tuturnya.

Melihat kepanikan warga China, Pemerintah China dan beberapa media pemerintah telah mencoba menghilangkan kekhawatiran tentang kekurangan pangan. Seorang pejabat Kementerian Perdagangan Zhu Xiaoliang memastikan stok persediaan bahan makanan cukup.

Departemen Manajemen Darurat Jiangsu, mengatakan setiap rekomendasi untuk penimbunan merupakan hal yang normal dan dimaksudkan untuk mencegah hal yang tidak diinginkan ke depannya. Selain itu, negara-negara di seluruh dunia dibuka kembali dan belajar untuk hidup dengan COVID-19, juga diprediksi menjadi salah satu faktor.

 

(Devi Puspitasari\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar