Tak Lagi Penghasil Minyak, Arab Saudi Rencana Buat Pantai Bikini

Senin, 25/10/2021 20:10 WIB
Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (CNN)

Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (CNN)

Arab Saudi, law-justice.co - Mengejutkan, Putra mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman, Pewaris Raja Salman itu mengatakan negerinya ingin  nol emisi di 2060 lebih dari dua kali lipat target tahunannya.


Dalam pidato di Saudi Green Initiative, MBS- begitu ia disapa, berharap untuk menyepakati lebih dalam pengurangfn emisi untuk mengatasi pemanasan global. Target pengurangan emisi karbon saat ini adalah 130 juta metrik ton dan naik menjadi hampir 280 juta metrik ton.


"Kerajaan Arab Saudi bertujuan untuk mencapai emisi nol-bersih pada tahun 2060 di bawah program ekonomi karbon, sesuai dengan rencana pembangunan kerajaan ... sambil mempertahankan peran utama kerajaan dalam memperkuat keamanan dan stabilitas pasar minyak global," kata MBS dikutip Reuters, Senin (25/10/2021).

Pernyataan ini merupakan kelanjutan dari komentar negeri kaya minyak itu, Maret 2021. Arab Saudi pada bulan itu berjanji untuk mengurangi emisi karbon lebih dari 4% dari kontribusi global melalui inisiatif termasuk menghasilkan 50% dari kebutuhan energinya dari EBT tahun 2030 dan menanam miliaran pohon di negara bagian gurun.

Sebelumnya Arab Saudi dituding lambat bergerak. Climate Action Tracker, sebuah lembaga nirlaba, bahkan memberi peringkat terendah untuk negeri itu.


Sementara itu, ekonomi kerajaan memang bergantung pada pendapatan minyak. Karena diversifikasi ekonomi menjadi ambisi baru MBS.

Pemimpin de facto Arab Saudi yang berkuasa di 2017 itu, mulai fokus mengembangkan pariwisata. Ini akan menjadi salah satu pilar ekonomi di masa yang akan datang, penyokong PDB kedua setelah minyak.

Ini bahkan tertuang dalam visi 2030. Ini juga langkah antisipasi dari perkembangan energi dunia yang mengarah meninggalkan minyak.

Kocek US$500 miliar juga lebih digelontorkan untuk proyek-proyek besar. Seperti pengembangan Laut Merah, Qiddiya, Diriyah, AlUla dan Neom, yang akan merevolusi pariwisata kerajaan kepada khalayak nasional dan internasional.

Reformasi yang dirancang untuk membuka diri terhadap dunia termasuk aturan untuk mengakomodasi investasi di sektor pariwisata. Terobosan lain adalah e-visa dapat dikeluarkan untuk pelancong hanya dalam waktu lima menit.

Terbaru, sebagaimana dikutip AFP, Arab Saudi yang dikenal sangat konservatif kini membuat aturan cukup mengejutkan dengan memberi izin pantai bikini, Pure Beach. Ini adalah pantai privat yang terletak di King Abdullah Economic City, sekitar 125 kilometer dari kota internasional Jeddah.

Pantai ini memiliki taman terapung yang membentuk tulisan "Arab Saudi" dalam bahasa Inggris, jika dilihat dari atas. Untuk masuk ke sini, tiap orang harus mengeluarkan kocek 300 riyal Saudi atau sekitar Rp 1,1 juta (asumsi Rp 3,772/riyal), untuk menikmati musik dan tarian sekaligus bermain air.

 

(Devi Puspitasari\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar