Sorot Food Estate, Faisal: Uang Tanam Singkong Triliunan, Kan Goblok!

Minggu, 24/10/2021 07:19 WIB
Ekonom Senior INDEF, Faisal Basri (Monitor.id)

Ekonom Senior INDEF, Faisal Basri (Monitor.id)

Jakarta, law-justice.co - Ekonom senior dari Universitas Indonesia (UI), Faisal Basri menyoroti program Pemerintahan Joko Widodo tentang food estate atau perkebunan pangan di beberapa daerah.

Seperti diketahui, food estate merupakan program Jokowi yang diharapkan bisa menjaga ketahanan pangan Nasional.

Komoditi yang ditanam dalam program food estate ini selain padi, juga singkong. Faisal Basri menilai, proyek food estate ini hanya untuk membuang anggaran negara.

“Food Estate waduh ini ugal-ugalan, kata Tempo. Ugal-ugalan bener. Jadi untuk menghasilkan singkong, uangnya triliunan, kan goblok. Dan singkong itu bisa ditanam oleh rakyat di manapun. Tidak membutuhkan tanah yang subur,” ujar Faisal Basri dalam sebuah diskusi dari kanal YouTube FNN TV, Sabtu (23/10/2021).

Faisal Basri mengatakan, food estate ini sangat dibanggakan pemerintah. Pemerintah klaim, singkong yang akan ditanam akan diolah menjadi mie instan. Kemudian dijual dengan harga yang berbeda di pasaran.

“Dibangga-banggakan untuk hasilkan mie instan. Satu bungkus Mie Instan Rp9000, nggak ada yang beli rakyat. Wong Indomie cuma Rp3000,” ucap Faisal Basri.

Lebih parah lagi, kata Faisal Basri, Kementerian Pertahanan yang dipercayai jadi komandan food estate singkong ini.

“Dan yang jadi komandannya bukan Menteri Pertanian, tapi Menteri Pertahanan. Ini udah salah, kacau luar biasa. Akhirnya dimobilisasi tentara aktif. Kan udah nggak benar nih negara kayak begini,” ujarnya.

“Jadi yang dirusak Jokowi adalah Institusi, pondasi, ini yang bahaya” imbuhnya.

Dia menyinggung food estate di Kalimantan yang diharapkan bisa meramaikan pelabuhan Kuala Tanjung di Kecamatan Sei Suka Sumatera Utara sebagai jalur ekspor.

“Jadi agar pelabuhannya ramai, dibikin Food Estate. Dicari tanahnya, nggak ada, semua udah Sawit. Beginilah cara mengelola megara ini? Saya tahu karena saya diundang oleh konsultannya orang Belanda. Jadi pantaslah hutang menggelembung karena pendapatan turun terus,” tutur Faisal Basri.

(Annisa\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar