Pemerasan via Call Sex Sasar Wabub Hingga Pejabat Daerah di Bulukumba

Sabtu, 23/10/2021 19:00 WIB
Wakil Bupati Bulukumba Edy Manaf (Dok. Pemkot Bulukumba)

Wakil Bupati Bulukumba Edy Manaf (Dok. Pemkot Bulukumba)

Bulukumba, Sulawesi Selatan, law-justice.co - Modus kejahatan online makin ganas, kali ini Wakil Bupati Bulukumba, Edy Manaf diduga menjadi korban pemerasan dengan modus video call seks (VCS). Tak cuma Edy, ternyata banyak pejabat daerah yang mengalami hal yang serupa, hanya saja karena merasa tabu, hingga saat ini kasus ini belum dilaporkan ke kepolisian.

Pihak kepolisian hingga saat ini belum menerima laporan terkait kejadian yang menimpa orang nomor di Bulukumba, Sulawesi Selatan ini.


Kepala Satuan Reserse Kriminal (Kasatreskrim) Polres Bulukumba, AKP Bayu Wicaksono membenarkan jika pihaknya belum menerima laporan dari Wakil Bupati Bulukumba soal kasus pemerasan tersebut.

"Belum ada laporannya," kata Bayu dilansir dari CNNIndonesia.com, Sabtu (23/10/2021).

Bayu mengatakan, pihaknya belum dapat melakukan penyelidikan terkait kasus pemerasan yang dialami oleh politikus Partai Amanat Nasional (PAN) ini. Sebab, pihak kepolisian belum menerima laporan korban.

"Iya belum ada saya terima laporannya. Kalau ada laporannya pasti kami segera proses," jelasnya.

Kasatreskrim Polres Bulukumba pun meminta untuk setiap warga yang menjadi korban pemerasan dengan modus video call seks tersebut agar dapat langsung melaporkan kejadian itu.

Sebelumnya, Wakil Bupati Bulukumba, Edy Manaf, menjadi salah satu korban kasus pemerasan dengan modus video call seks (VCS) yang tengah marak terjadi di kabupaten di Sulawesi Selatan tersebut.

Edy menjelaskan dirinya menjadi korban pemerasan setelah mendapatkan panggilan melalui aplikasi Facebook Messenger sekitar dua minggu lalu. Edy yang mengangkat panggilan tersebut kaget saat melihat tampilan gambar yang tak senonoh.

"Dia ajak berkomunikasi dan langsung tindis itu (screenshot) dan yang muncul foto tidak senonoh," kata Edy saat dikonfirmasi, Sabtu (23/10).

Politisi Partai Amanat Nasional itu mengaku langsung menutup telepon karena kaget. Namun, pelaku lebih cepat melakukan tangkapan layar pada saat video call.

"Kebetulan (saat panggilan) itu kepala aku kelihatan. Begitu kelihatan, dia langsung mengancam akan menyebarkan screenshot tersebut," ujarnya.

Mantan anggota DPRD Sulsel ini menyebut VCS itu sangat berbahaya karena bisa menjadi sebagai alat untuk melakukan pemerasan. Apalagi, kata dia, kejadian itu dialami banyak pihak.

"Banyak pejabat juga yang menjadi korban. Cuma tidak berani menyampaikan," katanya.

(Devi Puspitasari\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar