Inggris Kembali Diamuk Covid-19, Varian Delta Plus Jadi Penyebabnya?

Selasa, 19/10/2021 08:53 WIB
Ilustrasi virus corona. (Foto: Pixabay/Gerd Altmann)

Ilustrasi virus corona. (Foto: Pixabay/Gerd Altmann)

Jakarta, law-justice.co - Baru-baru ini, Inggris kembali menjadi sorotan usai kembali diamuk COVID-19, kasus harian mencetak rekor tertinggi sejak pertengahan Juli 2021, tembus di atas 40 ribu kasus Corona per Minggu (17/10/2021), sementara di Senin melaporkan 49.156 kasus berdasarkan laporan Reuters.

Mantan komisaris Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA), Scott Gottlieb khawatir peningkatan kasus ada kaitannya dengan temuan varian Delta Plus yang meningkat.

"Kami membutuhkan penelitian mendesak untuk mengetahui apakah varian Delta Plus ini lebih menular, memiliki penghindaran kekebalan parsial," cuit Gottlieb dalam akun Twitternya.

"Sejauh ini tidak ada indikasi yang jelas bahwa itu jauh lebih menular, tetapi kita harus bekerja untuk lebih cepat mengetahui karakter virus ini dan varian baru lainnya. Kami punya alatnya."

Hingga saat ini, Inggris telah mencatat hampir 140.000 kematian akibat COVID-19.

"Inggris melaporkan peningkatan kasus COVID-19, tertinggi sejak 3 bulan, saat varian delta baru AY.4 dengan mutasi S:Y145H meningkat, mencapai 8 persen dari hasil genome sequencing di Inggris," kata dia.

Strain atau varian Delta Plus memiliki mutasi K417N. Mutasi yang memicu kekhawatiran, karena ditemukan pula pada varian Beta dengan peningkatan risiko infeksi ulang.

Peneliti Inggris pada akhir Juni kemarin menegaskan bahwa belum ada bukti yang menunjukkan mutasi tambahan pada varian Delta lebih mengkhawatirkan.

Sebuah makalah Jerman yang dimuat awal bulan ini menemukan kesimpulan sementara, varian Delta dan Delta Plus menginfeksi sel paru-paru lebih efisien daripada jenis virus Corona asli.

Namun, varian Delta Plus tampaknya tidak secara signifikan lebih berbahaya daripada varian Delta sebelumnya.

(Ade Irmansyah\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar