Soal Figur Biseksual dalam Komik DC, Demokrat: Masyarakat Harus Kritis

Kamis, 14/10/2021 19:30 WIB
Ilustrasi Komik DC dan Anggota Komisi I DPR RI Fraksi Demokrat, Riski Aulia Rahman Natakusumah. (Foto: Diolah dari Google).

Ilustrasi Komik DC dan Anggota Komisi I DPR RI Fraksi Demokrat, Riski Aulia Rahman Natakusumah. (Foto: Diolah dari Google).

law-justice.co - Fraksi Partai Demokrat (FPD) mengajak masyarakat bersikap kritis menyikapi polemik seputar komik DC terbaru yang menampilkan sosok Superman sebagai seorang biseksual.

Anggota Komisi I DPR RI Fraksi Partai Demokrat, Rizki Aulia Rahman Natakusumah, mengatakan komik merupakan salah satu media modern yang turut memengaruhi corak budaya dan tingkah laku masyarakat, terutama anak muda.

‘’Ketika ada komik luar negeri yang membawa cerita yang bersinggungan dengan norma yang hidup di masyarakat Indonesia, nalar pembaca generasi sekarang harus kritis,’’ kata Rizki dalam keterangan tertulis, Kamis (14/10/2021).

Sudah menjadi rahasia umum bahwa kreativitas DC menciptakan figur-figur pahlawan telah menjadi patokan industri komik populer dunia. Di sisi lain, Indonesia sendiri sebenarnya kaya akan budaya heroik legendaris yang keren untuk menjadi bahan pembuatan komik.

‘’Hanya perlu sedikit polesan dan narasi yang menarik agar komik buatan Indonesia bisa asyik dinikmati seluruh penggemar komik di dunia. Maka ini adalah tantangan bagi kreator komik Indonesia untuk bisa belajar dari DC dalam menciptakan cerita yang diterima pembaca, tanpa mengorbankan riwayat panjang kisah lokal,’’ jelas Rizki.

Rizki mengatakan juga ada peran pemerintah untuk memberikan ‘haven’ bagi pekerja kreatif, khususnya bagi komikus. Jangan ada restriksi berupa pajak atau lapisan izin birokrasi yang berbelit-belit yang dibebankan ke komikus Indonesia.

Jangan pula sampai jiwa-jiwa seni mereka yang menekuni dunia ini dipenjara dengan restriksi administrasi yang membuat frustrasi.

Legislator dari daerah pemilihan Banten I ini mengimbuhkan, dalam kasus munculnya tokoh fiksi yang memiliki sifat yang tidak sesuai dengan norma lokal, kita harus mempertanyakan kesiapan pembaca Indonesia.

‘’Apakah cerita tersebut bisa diterima masyarakat yang sudah memiliki karakter kepercayaan tersendiri? Kami percaya pembaca Indonesia memiliki filter sensorship mandiri tentang objek bacaan yang pantas mereka konsumsi,’’ paparnya.

Bagi Rizki, spektrum kreativitas juga sangat luas sehingga tidak perlu menabrakkan kreativitas dan norma masyarakat.

‘’Mengapa harus menabrakkan kreativitas dan norma masyarakat? Bukankah karakter kreativitas yang fleksibel seharusnya bisa terus tumbuh dalam koridor tata krama serta kesantunan sosial?,’’ ucapnya retoris.

Ia mengajak masyarakat untuk melihat isu ini dengan objektif dan proporsional. Selain itu, masyarakat harus mampu mengadaptasi pelajaran positif dan mengelola implikasi negatif dari fenomena yang menjadi sorotan publik belakangan ini.

"Pemerintah juga harus realistis, jika supply komik tersebut bisa masuk ke Indonesia, maka pasti ada demand yang cukup besar dari pasar di negara ini. Bisa apa pemerintah jika hal ini terjadi? Kejadian ini bisa menjadi momen untuk meninjau kembali sesolid dan serelevan apa sistem sensorship publik di Indonesia sehingga dampak buruk dari komik semacam ini bisa dikendalikan,’’ tandas Rizki.

Diketahui penerbit serial komik populer DC Comics mengumumkan bahwa tokoh Superman terbaru, Jon Kent, akan digambarkan sebagai pria biseksual.

Dalam komik yang akan terbit pada November mendatang, Jon, yang merupakan anak dari Clark Kent–yang sebelumnya juga menjadi pahlawan super Superman–diceritakan menjalin hubungan romantis sesama jenis dengan temannya, Jay Nakamura.

DC Comics mengumumkan munculnya Superman sebagai pria biseksual, pada hari Senin (11/10), bertepatan dengan National Coming Out Day, hari kesadaran LGBT tahunan yang dimulai di AS.

(Muhammad Rio Alfin\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar