Polisi Didesak Usut Ayah Tiri Cabuli Anak Hingga Hamil di Gunungkidul

Rabu, 13/10/2021 20:55 WIB
Ilustrasi Pencabulan (Net)

Ilustrasi Pencabulan (Net)

DI Yogjakarta, law-justice.co - Anggota Komisi X DPR RI Daerah Pemilihan (Dapil) DIY, Esti Wijayati menyesalkan terjadinya pencabulan terhadap anak di bawah umur di Gunungkidul yang dilakukan oleh ayah tirinya. Apalagi korban kini masih berstatus pelajar yang memiliki masa depan panjang.

Oleh karena itu, siapapun pelakunya apakah ayah tirinya atau bukan menurutnya harus ditindak. Aparat kepolisian didesak bisa bertindak tegas dalam menangani kasus ini. Ia menandaskan hukum harus ditegakkan demi melindungi korban yang masih remaja.


DPR RI menandaskan jika kasus hukum dugaan pencabulan yang dilakukan oleh AD terhadap anak tirinya yang masih berusia 16 tahun di Kalurahan Semanu Kapanewon Semanu Gunungkidul harus tetap dilanjutkan.


"Ini sangat-sangat memprihatinkan karena ibu korban telah salah memilih lelaki menjadi pendampingnya," tandas Esti.


Seharusnya seorang ibu bisa memilih pendamping yang bisa mengayomi dan melindungi keluarga bukan malah merusak masa depan anak. Oleh karena itu, meskipun ayah tiri bocah tersebut selama ini menghidupi keluarga namun apa yang dilakukan tetap melanggar hukum.

"Proses hukum harus dilanjutkan," tandas Esti.

Pihaknya mendorong kepada aparat kepolisian untuk sesegera mungkin memproses terduga pelaku pencabulan terhadap anak di bawah umur tersebut. Agar ada ketetapan hukum terhadap pelaku yang telah tega merusak masa depan anak.


Jika ada kabar ibu korban meminta kasus tersebut dihentikan karena ayah tirinya merupakan tulang punggung keluarga, maka menurut Esti perlu adanya pemahaman terhadap ibu korban. Bahwa apa yang dilakukannya tersebut adalah salah.


"Harus ada pemahaman kepada ibunya atau keluarganya, anak jangan dikorbankan," tegas dia.


Ketika alasan yang digunakan adalah ekonomi di mana keluarga bergantung kepada pelaku maka pemerintah harus memimbing ibu korban agar bisa mandiri secara ekonomi. Karena tidak perlu mengorbankan masa depan anak karena alasan ekonomi.

Terhadap pendidikan anak, Esti meminta kepada pihak sekolah untuk memberikan kebijakan yang memihak ke siswa. Karena ada kekhawatiran nanti akan di-bully di sekolah maka siswa bisa diberi alternatif untuk cuti selama 1 semester atau 1 tahun terlebih dahulu.

"Jadi anak tetap harus mendapatkan haknya. Pemerintah kalurahan ataupun padukuhan harus melakukan pendekatan bagaimana agar proses hukum terhadap pelaku pencabulan tersebut dilanjutkan," ujar dia.


Dukuh tempat tinggal korban mengatakan, warga setempat sebenarnya sangat menginginkan agar kasus tersebut berlanjut proses hukumnya. Sejak awal justru masyarakatlah yang mendorong kasus tersebut dilaporkan ke polisi. Karena awalnya pihak keluarga pernah menginginkan agar kasus tersebut diselesaikan secara kekeluargaan, "Warga itu pernah menggeruduk kediaman pelaku yang serumah dengan korban. Terus mediasi di Balai Padukuhan dan akhirnya dilaporkan polisi tanggal 21 September 2021 lalu oleh ibunya. Jadi itu desakan warga," terangnya.

Dan hingga saat ini, ia mencoba selalu memantau perkembangan bocah remaja tersebut melalui keluarga dan juga tetangganya. Komunikasi terus ia jalin agar kesehatan dan mental remaja tersebut tidak down. Diketahui jika korban saat ini sedang hamil.

 

 

(Devi Puspitasari\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar