Hasilkan Kekayaan dari Opium, Dapatkah Taliban Bikin Afghanistan Maju?

Selasa, 05/10/2021 21:40 WIB
Ladang Opium Taliban (NBC)

Ladang Opium Taliban (NBC)

Afghanistan, law-justice.co - Ketika padang kecokelatan Afghanistan berubah warna menjadi perpaduan merah muda, putih, dan ungu tiap musim semi, para petani gembira karena opium mereka siap panen. Namun, Amerika Serikat panik melihat pemandangan ini.


"Ketika saya melihat ladang opium, saya melihatnya berubah menjadi uang, kemudian menjadi IED [alat peledak], [senapan] AK, dan granat roket," ujar komandan Pasukan Bantuan Keamanan Internasional di Afghanistan, Dan McNeill, kepada CNN, dikutip Selasa (5/10/2021)

Opium memang menjadi sumber pendapatan utama Taliban. Uang dari penjualan opium itu pula lah yang disinyalir digunakan untuk membeli senjata agar dapat melawan pasukan Afghanistan yang dibantu AS.

Hingga akhirnya, perlawanan Taliban berhasil dan kini mereka menjadi penguasa Afghanistan. Ketika sudah merebut takhta, Taliban berjanji kepada dunia bahwa mereka tak akan menjadikan Afghanistan sebagai negara narkoba.

"Afghanistan tak akan menjadi tempat penggarapan narkotik sehingga komunitas internasional harus membantu kami agar kami dapat memiliki alternatif [untuk para petani opium]," ujar juru bicara Taliban, Zabiullah Mujahid.

Kini, Taliban pun harus putar otak untuk mencari sumber pendapatan lain. Hingga saat ini, strategi Taliban untuk mencapai tujuan itu masih menjadi misteri.

 

Ekonomi opium

Sementara Taliban berpikir, sejumlah pakar mulai meragukan kemampuan Afghanistan keluar dari jerat "ekonomi opium" selama ini.

Beberapa dekade belakangan, Afghanistan dikenal sebagai salah satu produsen opium terbesar dunia. Merujuk pada data Perserikatan Bangsa-Bangsa, Afghanistan memproduksi sekitar 85 persen dari seluruh opium di dunia pada 2020.

Pada 2018, PBB memperkirakan ekonomi opium merengkuh 11 persen dari GDP Afghanistan. Namun, tak diketahui pasti keuntungan yang dikantongi Taliban dari keseluruhan pendapatan opium tersebut.

"Yang jelas, narkoba merupakan aspek penting dalam profit Taliban," ucap peneliti senior dari Brookings Institution, Vanda Felbab-Brown.

Felbab-Brown kemudian menjelaskan bahwa kebanyakan kelompok pemberontak di Afghanistan biasanya mengambil keuntungan dari penarikan "pajak" segala aspek dalam rantai penjualan opium.

 

Sistem pajak Taliban


Seorang pakar yang mempelajari ekonomi narkoba lebih dari dua dekade, David Mansfield, mengatakan bahwa dunia meyakini Taliban menarik 10 persen dari harga narkoba. Namun menurutnya, jika dipraktikkan, hitungan itu mustahil.

Ia mengambil contoh, margin keuntungan dari satu kilogram heroin biasanya berkisar antara US$80-120 per kilogram. Untuk methamphetamine, margin profitnya sekitar US$30-50 per kilogram.

Jika Taliban menarik pajak 10 persen untuk harga akhir sebelum ekspor, keuntungan sekitar US$1.800 per kilogram heroin akan menguap begitu saja setelah dihitung dengan segala biaya lainnya.

Mansfield menganggap hitungan ini mustahil karena di lapangan, kelompok pemberontak dan para petani tentu tak mau kehilangan uang sebegitu besar hanya untuk pajak.

Meski tak diketahui pasti, yang jelas para pakar memperkirakan Taliban menyedot keuntungan antara puluhan hingga ratusan juta dollar dari ekonomi opium ini.

Mansfield mengakui bahwa opium memang merupakan salah satu sumber pemasukan penting bagi Taliban. Namun berdasarkan risetnya, pajak dari opium sebenarnya jauh lebih rendah ketimbang tarif yang ditarik Taliban untuk barang-barang lain.


Ia kemudian membahas salah satu riset di Provinsi Nimruz menunjukkan bahwa Taliban mengeruk sekitar US$5,1 juta dari industri narkoba, jauh lebih kecil ketimbang pendapatan dari pajak untuk bahan bakar dan transit barang yang mencapai US$40,9 juta.

Meski demikian, Taliban tak dapat meremehkan kekuatan industri narkoba untuk kepentingan politik mereka. Jika salah langkah, popularitas mereka di tengah masyarakat bisa merosot.

Secara turun-temurun, para petani Afghanistan sejak lama sudah menanam opium dan ganja, dua tanaman yang menyelamatkan mereka dari perang berkepanjangan.

Layaknya negara lainnya yang dilingkupi gunung, iklim Afghanistan memang bagus untuk pertumbuhan opium. Menurut profesor ahli konflik dan pembangunan di SOAS University of London, Jonathan Goodhand, opium juga digunakan sebagai obat dan keperluan kultural.

Komoditas opium mulai menjadi bisnis besar sekitar medio 1980-an, ketika kucuran uang internasional di tengah perang antara Uni Soviet dan Amerika Serikat terus mengalir.

Goodhand mengatakan bahwa di masa inilah para komandan mulai mengembangkan modal untuk membangun jaringan produksi, pemrosesan, hingga penyelundupan opium.

Ketika Uni Soviet hengkang dan Taliban muncul serta akhirnya merebut kekuasaan pada 1996, opium menjadi "komoditas legal defacto" di Afghanistan.

Namun, Taliban mulai putar haluan pada 2000 dengan melarang produksi opium karena dianggap tidak Islami. Sejak saat itu, produksi opoium merosot 90 persen.

Goodhand dan sejumlah pakar lainnya saat itu berhipotesis bahwa Taliban mengambil langkah itu sebenarnya untuk menarik perhatian internasional. Namun ternyata, keputusan itu malah menjadi bumerang untuk mereka.

Afghanistan masuk ke dalam krisis pengangguran. Para petani opium yang awalnya mendukung Taliban, akhirnya membangkang karena terlilit utang.

Larangan produksi opium itu kemudian dicabut pada 2001, bersamaan dengan kejatuhan kepemimpinan Taliban. Sejak saat itu, produksi opium meroket dan mencapai puncaknya pada 2017 dengan produksi sekitar 9.900 ton.

Kantor PBB untuk urusan Narkoba dan Kejahatan (UNODC) memperkirakan bahwa industri opium ini bernilai sekitar US$1,4 miliar saat itu, yang berarti setara 7 persen dari GDP Afghanistan.

Para pakar pun ragu Taliban bakal mengambil langkah drastis untuk melarang penanaman opium seperti ketika mereka pertama kali berkuasa.

Selain itu, Felbab-Brown juga melihat faktor lain, yaitu potensi popularitas opioid sintetis, seperti fentanyl, yang menjadi komoditas besar di China dan India.

Jika Afghanistan tak lagi mengekspor opium, produk-produk China dan India itu akan merajai pasar Eropa, Afrika, dan Kanada. Opium Afghanistan pun terancam tak mendapatkan tempat lagi di pasaran.

Tak hanya itu, pelarangan opium juga dapat memicu potensi kekerasan. Felbab-Brown mengatakan bahwa saat ini ada sekitar 100-500 ribu mantan personel militer Afghanistan yang tak lagi bekerja. Ladang opium disebut-sebut dapat menjadi sumber pendapatan bagi keluarga mereka.

"Kalian mengambil itu semua, maka akan ada 150 ribu orang yang menjadi musuh kalian yang tak punya makanan," tutur Felbab-Brown.

 

(Devi Puspitasari\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar