Mahasiswa BEM SI Aksi di KPK Diduga Diretas, Alami Kejadian Aneh ini

Senin, 27/09/2021 22:40 WIB
Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) menggelar aksi demonstrasi di depan Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi. Mereka meminta agar Jokowi melantik 57 pegawai yang tak lolos TWK. BEM SI menganggap para pegawai itu telah disingkirkan dengan dalih TWK. BEM SI memberikan waktu 3x24 jam agar Jokowi mengambil sikap itu. Robinsar Nainggolan

Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) menggelar aksi demonstrasi di depan Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi. Mereka meminta agar Jokowi melantik 57 pegawai yang tak lolos TWK. BEM SI menganggap para pegawai itu telah disingkirkan dengan dalih TWK. BEM SI memberikan waktu 3x24 jam agar Jokowi mengambil sikap itu. Robinsar Nainggolan

Jakarta, law-justice.co - Dua mahasiswa anggota Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) yang menggelar aksi di depan Gedung KPK, Jakarta diduga mengalami peretasan akun WhatsApp hingga doxing di media sosial.


Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), Abid Hanifi mengaku akun WhatsApp sudah tak bisa diakses sejak pagi tadi. Selain itu, akun Tokopedia miliknya juga diduga diretas dengan pesanan celana sejumlah Rp2 juta.

Jumlahnya (pesanan di Tokopedia) dua juta (rupiah), saya jadi kaget kan," kata Abid yang juga aktif di BEM UMP, Senin (27/9/2021).

Abid mengaku baru menyadari akun WhatsApp diduga diretas saat akan absen kuliah daring pukul 07.00 WIB. Akunnya sudah tidak bisa diakses.

Tidak hanya itu, Abid menyebut rumahnya didatangi oleh orang tak dikenal yang menanyakan keberadannya.

"Yang nemuin adek saya, tapi belum jelas juga (ceritanya) karena saya belum bisa menghubungi orang rumah," ujar Abid.

Saat berada di tengah aksi, Abid menyadari bahwa muncul unggahan Instagram yang memuat foto dan data dirinya. Unggahan tersebut menandai akun Instagram Abid hingga muncul banyak komen yang bermuatan ujaran kebencian pada dirinya.

"Caption post-nya bilang `orang ini dicari, tangkap saja`," katanya.

 

Data Diri Disebar di Medsos

Serupa dengan Abid, aktivis BEM Universitas Soedirman Muhammad Ihtisamuddin data dirinya juga disebarkan melalui sosial media hingga pemesanan tak dikenal melalui ojek online.

Pada unggahan di Instagram yang memuat foto dirinya tertulis data diri seperti alamat rumah, jurusan dan angkatan dirinya, juga nomer handphone.

Unggahan tersebut diawali dengan kalimat, "Pak Polisi kalau mau cari otak perusuh nih aku bantuin salah satunya". Setelah ia menonaktifkan akunnya, terdapat notifikasi bahwa ada upaya peretasan terhadap akun Instagramnya.

"Ada yang berusaha log in (akun Instagram), lokasinya dari Bekasi," ujar Ihsam.

Sedangkan pemesanan tak dikenal tersebut datang ke rumah Ihsam berupa makanan senilai Rp100 ribu. Makanan tersebut dikirimkan ke rumahnya daerah Cawang, Jakarta Timur.

"Awalnya dikirim ke rumah nenek saya, lalu diarahkan ke rumah saya," ujar Ihsam.

Ihsam menemukan terdapat akun anonim di twitter yang menyebarkan data dirinya. Akun tersebut juga mengunggah grup WhatsApp tempatnya berkomunikasi perihal pergerakan mahasiswa.

"Saya sampai ganti nomer di telegram, shopee, line, bahkan linkedin juga," katanya.

Sebelumnya, delapan pegawai KPK yang dipecat diduga mengalami peretasan pada akun WhatsApp dan Telegram. Mereka antara lain Waldy Gagantika, Qurotul Aini Mahmudah, Farid Andhika, Damanik, Christie Afriani, Tri Artining Putri, Rieswin Rachwell, dan Nita Adi Pangestuti.

 

 

(Devi Puspitasari\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar