Akio Toyoda Ungkap Alasan Toyota Ogah Pindah ke Mobil Listrik

Sabtu, 25/09/2021 21:00 WIB
Presdir Toyota, Akio Toyoda (Net)

Presdir Toyota, Akio Toyoda (Net)

Jakarta, law-justice.co - Melakukan perpindahan ke mobil listrik demi mengurangi emisi dan menuju netralitas karbon bukanlah sebuah solusi yang tepat, terutama untuk Jepang. Demikian yang dikatakan oleh Presiden Direktur Toyota Motor Corporation, Akio Toyoda.


Pemerintahan Jepang berencana mengurangi emisi gas pembuangan Jepang pada tahun 2030 dan mampu mencapai netralitas karbon pada tahun 2050 dengan melakukan perpindahan sepenuhnya ke mobil listrik (BEV).


Namun, Bos Toyota itu merasa road map tersebut harus disesuaikan dengan kondisi ekonomi dan industri di Jepang. Karena jika tidak, ini akan memiliki dampak yang sangat besar terutama pada kesejahteraan masyarakat, seperti pengangguran.

 

Memiliki dampak yang lebih luas


Akio mengatakan, Jepang merupakan negara yang bergantung pada ekspor, dengan melakukan perpindahan ke mobil listrik dan menghentikan penggunaan mesin pembakaran internal justru akan berdampak pada hal yang lebih luas.


Ia mencatat Jepang memproduksi sekitar 10 juta unit kendaraan per tahunnya, yang mana 5 juta unitnya di ekspor ke berbagai negara.

Jika mesin pembakaran internal dilihat sebagai “musuh” ini berarti pabrikan tak bisa memproduksi kebanyakan mobil saat ini. Bahkan, mobil ramah lingkungan pun tak akan bisa mencapai produksi 2 juta unit pada tahun 2030. Sehingga produksi 8 juta unit kendaraan hilang begitu saja. “Jika ini terjadi, meskipun industri otomotif berhasil menambah 120 ribu pekerjaan di masa pandemi, sekitar 5,5 juta pekerja akan kehilangan pekerjaannya,” pungkasnya.


Akio merasa bahwa industri otomotif bertanggung jawab terhadap kehidupan masyarakat Jepang. Ini sudah menjadi kewajiban untuk meneruskan kesejahteraan masyarakat Jepang. Maka dari itu harus ada solusi lain untuk menghindari hal tersebut.


Solusi melawan karbon


Jepang merupakan negara yang sangat berbeda, tidak bisa disamakan negara-negara di Eropa yang mampu mengaplikasikan rencana karbon netralitas yang pada tahun 2050 semua mobil sudah menjadi listrik penuh.


“Dalam mengejar netralitas karbon, karbon adalah musuh besar kita, bukan mesin pembakaran internal. Untuk mengurangi karbon, saya rasa harus ada solusi yang praktis dan berkelanjutan yang sesuai dengan kondisi setiap negara,” ujar Akio Toyoda.

Akio menegaskan apabila ingin mengejar netralitas karbon, memperbanyak mobil listrik bukanlah sebuah solusi yang ampuh. Penggunaan mobil hybrid bisa menjadi salah satu upaya yang bisa dipertimbangkan, mengingat teknologinya semakin baik dan harganya masih terjangkau.


“Apa yang harus kita lakukan beberapa tahun kedepan yaitu memanfaatkan perkembangan teknologi yang sudah kita kembangkan dan mengambil langkah untuk mengurangi karbon dioksida menggunakan kendaraan ramah lingkungan yang kita miliki saat ini,” tutur Akio Toyoda.

Presiden Direktur Yamaha Motor Company, Yoshihiro Hidaka mengatakan solusi lain dari mobil listrik yakni bahan bakar alternatif, seperti hidrogen dan bahan bakar sintetis yang masih bisa dimanfaatkan untuk mencapai netralitas karbon.


Selama 20 tahun ini, industri otomotif Jepang justru berhasil memangkas emisi karbon sebesar 23 persen. Angka tersebut bisa dibilang sangat tinggi dalam standar internasional.

(Devi Puspitasari\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar