LQ Indonesia Tepis Kabar Kibul Natalia Rusli Soal Bela Korban Fikasa

Jum'at, 24/09/2021 13:50 WIB
LQ Indonesia Lawfirm dan Natalia Rusli. (Foto: Diolah dari google).

LQ Indonesia Lawfirm dan Natalia Rusli. (Foto: Diolah dari google).

law-justice.co - LQ Indonesia Lawfirm menepis kabar bohong yang dihembuskan oleh advokat Natalia Rusli dalam pembelaan sejumlah klien atas kasus investasi bodong Fikasa Group.

Dua hari lalu, Natalia Rusli mengklaim para nasabah Fikasa Group telah mencabut kuasa dari LQ Indonesia Lawfirm dan mengalihkan kuasanya kepada Master Trust Law Firm. Menurut dia, pencabutan kuasa itu dilakukan para nasabah pada 17 Maret 2021 dan diberikan kuasa kepada pihak Natali pada 19 Maret 2021.

Klaim tersebut dibantah telak oleh para nasabah sendiri. Mereka kompak menyatakan tak pernah mencabut kuasa hukum dari LQ Indonesia Lawfirm apalagi menyerahkannya kepada Natalia Rusli. Bahkan para nasabah juga mengaku tak mengenali sosok Natalia.

Dalam pernyataan tertulisnya, Kepala Bidang LQ Indonesia Lawfirm, Sugi, mengatakan peralihan kuasa justru semula dilakukan para nasabah dari Natalia Rusli melalui kantor hukumnya bernama Firma Hukum Rumah Keadilan kepada LQ Indonesia Lawfirm.

Mereka mencabut kuasa hukum dari Natalia karena dia tak dianggap kompeten menangani kasus investasi bodong sejumlah perusahaan. Sugi pun menyatakan Natalia telah menyebarkan kabar bohong.

"Itu Advokat dengan Ijazah tidak terdaftar dikti, tahu apa tentang klien-klien LQ. Natalia kan bukan anggota LQ, cari sensasi ikut-ikut urusan LQ. Kami tegaskan, justru klien yang dibilang cabut surat kuasa LQ itu, dari semula adalah klien Firma Hukum Rumah Keadilan (RK) milik Natalia Rusli, dengan mengunakan nama Bryan Mahulae, anak buah Natalia Rusli," ungkap Sugi.

Ia melanjutkan, saat itu Ketua Pengurus LQ Indonesia Lawfirm Alvin Lim memutuskan tidak ingin bekerja sama dengan Natalia mengingat orang tersebut kerap bermasalah secara etika.

Alvin Lim bahkan memutuskan hubungan kerja sama yang sebelumnya sempat dibangun dengan Natalia Rusli. Alvin meminta Natalia bersama timnya keluar dari Rumah Keadilan di kantor Belleza. Alasannya, karena Natalia tidak mampu membayar sewa kantor Rumah Keadilan.

"Makanya Natalia Rusli kesel dan membuat berita bohong," ujar Sugi.

Pengakuan serupa juga datang dari para nasabah. Salah satu klien LQ Indonesia Lawfirm dalam kasus Fikasa Group, berinisial H, membantah pernyataan Natalia atas pencabutan kuasa seluruh klien dari LQ Indonesia Lawfirm ke Master Trust Lawfirm.

"Saya berikan kuasa ke LQ Indonesia Lawfirm dengan SKK No 369/SKK-PID/LQI-KOP/VII/2020 dan hingga hari ini tidak pernah mencabut kuasa saya dan tidak ada indikasi Advokat Alvin Lim main dua kaki. Justru sudah ada Restorative Justice dan kami dipersulit untuk kepengurusan SP3. Saya tegaskan pernyataan Natalia Rusli bahwa Semua klien LQ perkara Fikasa cabut SKK itu tidak benar," ujarnya.

Klien lain dalam kasus yang sama, AS, juga tegas membantah tegas pernyataan Natalia Rusli di media yang belakangan melontarkan isu pencabutan kuasa hukum dari LQ Indonesia Lawfirm.

"Saya klien LQ dalam perkara Fikasa hingga detik ini tidak pernah cabut kuasa No 371/SKK-PID/LQI-KOP/VII/2020 dari LQ apalagi memberikan kuasa ke Natalia Rusli. Natalia Rusli itu siapa, enggak kenal tapi memberikan pernyataan mewakili saya dan klien LQ lainnya?

AS mengaku hingga kini dia masih berstatus sebagai klien LQ dalam perkara investasi bodong Fikasa Group yang ditangani oleh Unit 4 Subdirektorat Fisikal, Moneter, dan Devisa (Fismondev) Polda Metro Jaya.

Bantah Balik Tudingan Natalia Soal Pemerasan Rp 500 Juta

Dalam pernyataannya, Natalia Rusli juga menyoal rekaman oknum penyidik Polda Metro Jaya yang meminta uang Rp 500 juta yang beberapa waktu lalu dibongkar LQ Indonesia Lawfirm dan diunggah di Channel YouTube LQ Lawfirm.

Menurut Natalia, LQ merekayasa rekaman tersebut untuk menjatuhkan reputasi korps Bhayangkara. Dia beralasan tidak mungkin Polda Metro Jaya meminta uang kepada pelapor sembari mengaku sebagai kuasa hukum nasabah Fikasa Group.

Tudingan Natalia tersebut ditanggapi nasabah berinisial S dan N yang merupakan klien LQ Indoneaia Lawfirm. "Apakah Natalia Rusli sudah dengar rekaman lengkap satu jam? Kenal Natalia saja tidak. Untuk apa dia komentar dalam kasus kami yang ditangani LQ? Kami para klien LQ sudah dengar langsung suara dalam rekaman di putar di kantor pusat LQ, dan oknum polisi dalam rekaman sama suaranya, karena kami pernah ketemu dan bicara diruangan oknum polisi tersebut ketika di BAP," ujar mereka.

Kepala Bidang Humas LQ Indonesia Lawfirm, Sugi, sebelumnya menyatakan dalam isi rekaman tersebut, oknum penyidik meminta uang Rp 500 juta untuk biaya mengeluarkan Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) atas kasus investasi bodong.

Parahnya lagi, kata dia, oknum polisi ini dengan mudah mengatasnamakan Direktur Kriminal Khusus PMJ. Ia merinci bahwa biaya ratusan juta itu diperuntukkan sebagai biaya mendapatkan tandatangan pengajuan SP3 dari panit, kanit, kasubdit hingga Dirkrimsus.

"Di sini terjadi gratifikasi secara terstruktur, sistematik dan masif. Patut diperiksa semua lini dari panit sampai Direktur, apakah benar perkataan oknum yang berbicara bahwa dari bawah ke atas minta dan dapat setoran dari kasus?," kata Sugi dalam keterangan tertulis, Rabu (15/9/2021).

(Muhammad Rio Alfin\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar