Agar Lapas Tidak Penuh, Mahfud Ingin Napi Narkotika Diseleksi

Kamis, 09/09/2021 13:47 WIB
Menkopolhukam Mahfud MD saat mengunjungi napi yang menjadi korban kebakaran Lapas Kelas 1A Tangerang, Rabu (8/9/2021). (Foto: Instagram @mohmahfudmd).

Menkopolhukam Mahfud MD saat mengunjungi napi yang menjadi korban kebakaran Lapas Kelas 1A Tangerang, Rabu (8/9/2021). (Foto: Instagram @mohmahfudmd).

law-justice.co - Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud Md mengatakan pemerintah ingin mengurangi kapasitas Lembaga Pemasyarakatan (lapas) dengan menyeleksi narapidana (napi) narkotika.

Rencana ini disimpulkan menyusul peristiwa kebakaran besar yang melanda Lapas Kelas 1A Tangerang dan menewaskan 41 napi di sana. Semua korban yang meninggal merupakan napi narkotika.

“Saya berdiskusi dengan Menkumham, kami bicarakan yang bandar-bandar tetap hukum sesuai vonis. Tapi korban yang jadi pengguna, kami pikirkan apakah itu harus masuk lapas semua,” kata Mahfud lewat konferensi video, Kamis (9/9/2021).

Rencana menyeleksi napi narkotika tak lepas dari banyaknya kasus narkoba yang mendominasi tingkat hunian di seluruh lapas.

Menurut Mahfud, jumlah napi narkoba bisa melebihi 50 persen dari total kapasitas lapas. Mereka yang terjerembab ke jeruji besi umumnya pengguna dan korban yang dijebak.

“Bawa tas, ada orang masukan barang, tangkap di sana, itu banyak. Ada orang dititipi karena enggak ngerti, kena, masuk penjara,” ungkap Mahfud.

Tersebab banyaknya kasus seperti itu, Mahfud mengatakan pemerintah ingin menyeleksi napi narkoba. Mereka yang merupakan pengguna akan dipilih dan direhabilitasi agar penjara tidak penuh.

Mahfud menyinggung pergantian istilah penjara dengan lembaga pemasyarakatan. Istilah ini bertujuan untuk memanusiakan manusia melalui pembinaan.

Mahfud mengklaim pembinaan terhadap napi selama ini telah dijalankan. Namun karena jumlah mereka terlalu banyak, pembinaan menjadi tidak fokus dan tidak terbagi dengan beban fungsinya.

Akibatnya, ujar dia, terjadi insiden kebakaran seperti di Lapas Kelas I Tangerang. “Tentu ada soal lain, tapi itu salah satu akibat akumulasi permasalahan tadi,” kata Mahfud.

(Muhammad Rio Alfin\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar