Mencekam! Kudeta di Guinea, Presiden Diculik dan Pemerintah Dibubarkan

Minggu, 05/09/2021 21:52 WIB
Presiden Guinea Alpha Konde (Reuters)

Presiden Guinea Alpha Konde (Reuters)

Guinea, law-justice.co - Kudeta terjadi di Guinea oleh tentara pemberontak yang menculik presiden dan membubarkan pemerintah pada Minggu (5/9/2021).

Dalam video yang dikirim ke AFP, tentara pemberontak di negara Afrika Barat itu berkata telah menangkap Presiden Alpha Conde. Namun, situasi di lapangan belum jelas karena pemerintahan Conde sebaliknya menyatakan bahwa serangan di istana presiden bisa dihalau.

Pada Minggu pagi suara tembakan keras terdengar di pusat ibu kota Guinea, Conkary, dan tentara terlihat di jalan-jalan. Seorang diplomat Barat di kota menggambarkan peristiwa itu sebagai upaya kudeta. Guinea - salah satu negara termiskin di dunia meskipun memiliki sumber daya mineral yang signifikan - telah lama dilanda ketidakstabilan politik.

Pada Minggu, penduduk yang dihubungi melalui telepon di semenanjung Kaloum Conakry - daerah pemerintah - melaporkan mendengar suara tembakan yang berkelanjutan.

Berbicara dengan syarat anonim demi keselamatan, mereka melaporkan melihat sejumlah tentara di jalan-jalan yang meminta warga kembali ke rumah dan tinggal di dalam. Seorang warga berkata, dia telah melihat barisan kendaraan militer dengan tentara yang bersemangat di dalamnya, menuju pusat kota. "Mereka menembak ke udara dan meneriakkan slogan militer mereka sendiri," tambahnya.

Seorang diplomat Barat di Conakry, yang juga menolak disebutkan namanya, berujar bahwa tidak diragukan lagi kerusuhan itu adalah percobaan kudeta. Dia mengatakan, kerusuhan dimulai setelah pemerintah mencoba memberhentikan seorang komandan senior di pasukan khusus, sehingga memicu beberapa anggotanya yang sangat terlatih untuk memberontak dan menduduki istana presiden.

Akan tetapi, AFP belum bisa mengonfirmasi klaim itu secara independen. Gejolak serupa kudeta Guinea juga pernah terjadi di sana sebelumnya. Tahun lalu, militer memblokade akses ke Kaloum setelah dugaan pemberontakan militer di timur ibu kota sehari sebelum pemilihan presiden. Conde (83) juga selamat dari upaya pembunuhan pada 2011.

 

(Devi Puspitasari\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar