Tarif PCR Naik dalam 24 jam, Said Didu: Kebijakan `Merampok` Rakyat!

Selasa, 17/08/2021 19:10 WIB
Postingan Said Didu tentang kenaikan tarif PCR dalam 24 jam oleh Kimia Farma (Ist)

Postingan Said Didu tentang kenaikan tarif PCR dalam 24 jam oleh Kimia Farma (Ist)

Jakarta, law-justice.co - Presiden Joko Widodo memerintahkan Menteri Kesehatan untuk menurunkan batas harga tes RT PCR corona di Indonesia.

Presiden Joko Widodo memerintahkan harga tes RT PCR corona di Indonesia maksimal Rp 550.000 rupiah per tes.


"Salah satu cara untuk memperbanyak testing adalah dengan menurunkan harga tes PCR. Saya sudah bicara dengan menteri kesehatan mengenai hal ini dan saya minta biaya tes pcr ada di ksiaran Rp 450.000 - Rp 550.000," kata Presden Joko Widodo dalam video yang diunggah di akun Sekretariat Kabinet, Minggu (15/8/2021) lalu.

Selain itu Presiden memerintahkan agar hasil tes RT PCR corona di Indonesia bisa diketahui selama maksimal 24 jam.

"Kita butuh kecepatan," terang Presiden joko Widodo.


Said Didu melalui cuitannya di twitter memposting surat edaran Kimia Farma yang terlihat melaksanakan perintah Presiden untuk menurunkan tarif dengan surat edaran nomor 148/YN 000/KFD/20221 menyebutkan bahwa tarif Rp.500 ribu. Berselang 24 jam, tiba-tiba ada surat edaran lagi dengan nomor 149/YN 000/KFD/VIII/ 2021 memberitahukan bahwa tarif kembali ke Rp.900 ribu lagi.


"Apakah seperti ini lelucon mengelola negara, padahal kebijakan ini `merampok` uang rakyat lewat aturan yang dibuat pemerintah. harga naik lagi dalam waktu 24 jam" cuitnya, Selasa (17/8/2021)

Sebelumnya, Mantan Sekretaris Badan Usaha Milik Negara (BUMN) itu menilai pematokan harga tes PCR yang ditetapkan oleh Kemenkes telah menunjukkan bahwa selama ini rakyat sudah diperas menggunakan aturan pemerintah.

Said Didu pun juga membeberkan bahwa tes Covid-19 yang disediakan di Indonesia lebih 70 persen dikuasai pihak swasta.

"Turunnya harga test covid-19 (PCR, Swab dll) yg sangat jauh spt ini menunjukkan bhw sktr 2 tahun pandemi, rakyat sdh "diperas" oleh pengusaha lewat aturan pemerintah,"kata Said Didu melalui akun Twitter pribadinya yang dikutip Seputartangsel.com pada Selasa, 17 Agustus 2021.

"Sebagai info bahwa lebih 70% test covid-19 dikuasai oleh swasta. Berapa trilyun uang rakyat disedot oleh mereka ?" imbuhnya.


Said Didu juga mengatakan bahwa di tengah krisis yang melanda Indonesia dengan adanya pandemi Covid-19 yang telah memakan ratusan ribu korban, ternyata di balik semua itu kekayaan para pebisnis di bidang kesehatan semakin bertambah.

"Pandemi Covid-19 telah mengorbankan ratusan ribu nyawa, habiskan APBN , menyedot dan memiskinkan rakyat, namun dibalik itu sepertinya memperkaya pebisnis pebisnis di bidang kesehatan," ujarnya.

 

 

(Devi Puspitasari\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar