Soal Nasib TWK Pegawai KPK, Azyumardi Azra: Jokowi Diam Seribu Bahasa

Kamis, 12/08/2021 15:10 WIB
Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Azyumardi Azra. (Foto: Muslim Obsession).

Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Azyumardi Azra. (Foto: Muslim Obsession).

law-justice.co - Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta, Azyumardi Azra menilai tak ada keseriusan dari Presiden Jokowi terhadap kelanjutan nasib pegawai KPK yang tak lulu Tes Wawasan Kebangsaan (TWK).

Ia pesimis Jokowi akan mengambil sekap adil dalam polemik TWK ini. “Presiden Jokowi tidak melakukan apa-apa, diam seribu bahasa,” kata Azyumardi dalam diskusi Indonesia Corruption Watch, Kamis (12/8/2021).

Azhumay memprediksi babak akhir polemik TWK ini akan berakhir dengan menyedihkan. Pasalnya, ia belum melihat tanda-tanda bahwa Jokowi akan mengambil langkah mengangkat 75 pegawai yang dinyatakan tidak lolos menjadi ASN.

“Proyeksinya gloomy, mendung, gelap,” ujarnya.

Menurutnya, jika dianalogikan lorong gelap, belum ada titik terang dari masalah TWK ini. “Saya tidak melihat ada celah terang di situ,” kata dia.

Sejak pertama kali Jokowi menanggapi polemik TWK, Azyumardi mengatakan sejak saat itu tak pernah terdengar lagi suara Jokowi ke publik menyikapi masalah ini.

Padahal dulu Jokowi meminta hasil tes wawasan kebangsaan tidak dijadikan satu-satunya dasar memberhentikan pegawai.

Jokowi juga menyatakan setuju dengan pertimbangan putusan Mahkamah Konstitusi yang mengatakan alih status tak boleh merugikan pegawai.

Namun, kata Azyumardi, pernyataan Jokowi itu diabaikan oleh pimpinan KPK. Sejak itu Jokowi tak pernah lagi bersuara tentang TWK.

Bahkan, setelah Ombudsman RI menyatakan terjadi potensi maladministrasi berlapis dalam pelaksanaan alih status pegawai di KPK.

Meski begitu, sejarawan ini berharap Jokowi akan mengambil sikap. Dia mengatakan bila tidak, pelemahan KPK ini akan menjadi warisan negatif dari masa kepemimpinannya.

Azyumardi menilai pelemahan KPK sudah terlihat akibatnya, salah satunya banyaknya hukuman koruptor yang dikorting oleh pengadilan.

(Muhammad Rio Alfin\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar