Menko Mahfud Bantah Rumor Covid Buatan China untuk Hancurkan Islam

Minggu, 25/07/2021 13:58 WIB
Menkopolhukam Mahfud MD saat memberikan arahan persiapan Pilkada Tahun 2020 di depan para Ketua KPU, Ketua Bawaslu, dan Forkopimda se-DIY di Kecamatan Purwosari, Kabupaten Gunung Kidul, Sabtu (7/11). (Foto: Humas Kemenkopolhukam)

Menkopolhukam Mahfud MD saat memberikan arahan persiapan Pilkada Tahun 2020 di depan para Ketua KPU, Ketua Bawaslu, dan Forkopimda se-DIY di Kecamatan Purwosari, Kabupaten Gunung Kidul, Sabtu (7/11). (Foto: Humas Kemenkopolhukam)

Jakarta, law-justice.co - Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamamanan (Menko Polhukam), Mahfud MD menegaskan kepada para tokoh agama dan pengasuh pondok pesantren se-Jawa Barat bahwa pandemi Covid-19 bukan konspirasi agama tertentu.

Mahfud membantah klaim yang menyatakan bahwa Covid-19 merupakan virus buatan China atau Amerika untuk memusnahkan umat Islam.

Ia lantas menyebutkan beberapa negara yang warganya didominasi oleh penganut agama selain Islam dan meninggal karena Covid-19.

Beberapa negara tersebut seperti, China; India yang mayoritas Hindu; Amerika, Jerman, dan Prancis yang didominasi Krosten Katolik; serta Jepang yang banyak menganut agama Sinto.

"Oleh sebab itu saudara, ini bukan konspirasi dari satu agama satu ke agama tertentu karena semua agama kena," kata Mahfud dalam silaturahmi dengan tokoh agama Jawa Barat yang digelar secara virtual, Minggu (25/7).

Mahfud juga membantah klaim yang menyatakan bahwa Covid-19 merupakan tentara Allah yang dikirim untuk membunuh orang-orang kafir. Sementara, umat Islam yang rajin salat dan berwudhu akan tehindar dari Covid-19.

Menurut Mahfud, virus Covid-19 tak pandang bulu dan bisa menginfeksi baik orang yang rajin beribadah dan yang tidak.

Ia mencontohkan, Covid-19 juga merenggut ulama terkemuka Syekh Ali Jaber yang tidak diragukan ketaatannya. Ali Jabeer, kata Mahfud, terkenal dengan konsistensinya menjaga wudhu. Ulama asal Kota Madinah itu juga percaya Covid-19 dan menggunakan masker.

"Ulama-ulama kita banyak juga, yang habis salat, yang rajin salat, yang tidak kita ragukan kesucian badannya selalu menjaga wudu juga wafat karena Covid," jelas Mahfud.

Contoh lain yang Mahfud ajukan adalah warga Iran yang banyak terular Covid-19 setelah menggelar salat berjemaah. Menurut Mahfud, hal itu karena mereka menggunakan sajadah yang sama bergantian.

Hal ini mengakibatkan virus menular di antara orang-orang yang salat tersebut. Setelah terinfeksi, tidak sedikit dari jemaah tersebut meninggal dunia.

"Bukan soal orang rajin beribadah atau tidak karena rajin beribadah atau tidak itu kena," ujar Mahfud.

Mahfud juga menekankan bahwa saat ini tak lagi penting soal aliran Jabbariyyah yang meyakini bahwa kejadian atas kehendak Tuhan dan Qodiriyyah yang meyakini semua yang terjadi atas kehendak manusia.

Sebab menurutnya, hadits Nabi Muhammad memerintahkan agar umat Islam harus berusaha menghindari bahaya dan menjaga keselamatan.

"Nabi sudah jelas, pisahkan antara unta yang sakit dan yang sehat. Karena yang sakit itu bisa menular," jelas Mahfud.

"Kalau di suatu kampung ada wabah, yang di luar kampung jangan masuk ke kampung itu, kata nabi. Tapi yang di dalam juga jangan keluar agar tidak saling menulari," kata Mahfud.

 

(Ade Irmansyah\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar