Bunga Selangit, Jusuf Hamka Sebut Bank Syariah Swasta Lintah Darat

Sabtu, 24/07/2021 15:30 WIB
Jusuf Hamka dalam Podcast Deddy Corbuzier, Sabtu (24/7/2021).

Jusuf Hamka dalam Podcast Deddy Corbuzier, Sabtu (24/7/2021).

law-justice.co - Pengusaha jalan tol, Jusuf Hamka, tak habis pikir dengan pola bisnis yang diterapkan bank syariah swasta di Bandung. Ia mengaku ditipu karena miliaran uang yang dipergunakan untuk membayar utang ditilap oleh Bank Syariah tersebut.

Cerita ini berawal ketika anak angkat Buya Hamka itu melakukan negosiasi utang dengan salah satu bank syariah swasta. Tersebab pandemi yang membuat kinerja perusahaannya menurun, ia meminta bank memberikan relaksasi bunga, namun ditolak.

Adapun Jusuf sebelumnya sudah meneken perjanjian utang dengan pihak bank syariah senilai Rp800 miliar. Pihak bank mematok bunga sebesar 11 persen, angka yang melebihi bunga pada bank konvensional.

Jusuf tak menyebut apa nama bank tersebut. Tapi ia telah meminta pihak bank syariah untu menurunkan bunga tersebut menjadi 8 persen.

“Mereka enggak mau, berkelit, berbelit, segala macam,” kata Jusuf dalam wawancara di YouTube Podcast Deddy Corbuzier, Sabtu (24/7/2021).

Dikenakannya bunga padabutang tersebut membuat Jusuf heran. Sebab, bank syariah tidak mengenal konsep bunga karena dianggap riba. Bank syariah, menurut ketentuan, menerapkan sistem bagi hasil bagi nasabah yang disebut sebagai biaya sewa modal.

“Tapi ini bagi hasil kalau untung dibagi, kalau buntung disuruh telan sendiri. Ini terjadi di perusahaan saya di Jawa Barat,” ujarnya.

Karena permintaannya ditolak, pada Maret 2021, Jusuf bertemu dengan manajemen bank secara virtual melalui aplikasi Zoom. Jusuf mengungkapkan niatnya untuk melunasi utang bila pihak bank tidak memberikan kelonggaran bunga.

“Ini kan sindikasi. Saya sudah nyatakan kalau bapak-bapak tidak memberikan penurunan (bunga), kemungkinan saya akan lunasi. Kemudian mereka sudah oke,” kata Jusuf.

Selanjutnya pada 22 Maret, Jusuf memasukkan saldo sebesar Rp 795 miliar ke bank swasta syariah itu dengan surat instruksi untuk pelunasan utang. Namun, bukannya utang lunas, ia mengatakan uangnya justru menggantung di rekening. Manajemen disebut sengaja menahan saldo Jusuf tanpa memprosesnya.

“Mereka hold uang saya dan bunga berjalan terus selama dua bulan. Mereka tidak ambil uang saya untuk lunasi utang, tapi uang saya diambil untuk bunga,” ujar Jusuf.

Jusuf telah meminta pihak bank untuk mengembalikan uangnya lantaran tak ada kemajuan yang menunjukkan bahwa permintaannya untuk melunasi utang diproses. Tak dibayar penuh senilai saldo awal Rp 795 miliar, bank hanya mengembalikan Rp 690 miliar. Bank beralasan sisa uang senilai Rp Rp 105 miliar dipakai untuk pembayaran bunga dan lain-lain.

Lebih jauh Jusuf menganggap perilaku bank tersebut mirip lintah darat. Ia menyayangkan bank syariah yang semestinya memperoleh kepercayaan masyarakat justru melakukan praktik-praktik yang tak sesuai.

“Bank syariah cukup baik, tapi ada oknum-oknum yang memanfaatkan syariah. Saya khawatir bank bagi hasil sebetulnya bukan bagi hasil, tapi lebih lintah darat dari bank konvensional,” tuturnya.

Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia atau MUI Anwar Abbas mengatakan seharusnya bank syariah menjunjung tinggi nilai-nilai kebersamaan dan keadilan. Anwar menyoroti bank syariah yang tidak memberikan keringanan bunga.

“Yang menjadi pertanyaan bagi saya, bagaimana mungkin sebuah bank syariah yang jelas-jelas mengharamkan bunga (interest) kok menerapkan dan mempergunakan suku bunga dalam transaksinya?” kata Anwar.

Anwar menyarankan Jusuf Hamka membuka nama bank tersebut ke publik. Ia khawatir semua perbankan syariah di Tanah Air akan tercoreng akibat peristiwa ini. “Akan membuat citra dan kepercayaan masyarakat terhadap perbankan syariah akan rusak dan jatuh,” kata Anwar.

(Muhammad Rio Alfin\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar