Walau Nilai Valuasi Mahal, IPO Bukalapak Oversubscribed 4 Kali

Kamis, 22/07/2021 00:01 WIB
RUPS Bukalapak memutuskan Bambang Brodjonegoro dan Yenny Wahid jadi Komisaris (Investor Daily)

RUPS Bukalapak memutuskan Bambang Brodjonegoro dan Yenny Wahid jadi Komisaris (Investor Daily)

Jakarta, law-justice.co - Walau banyak pihak menilai nilai valuasi saham Bukalapak terlalu mahal, penilaian ini tak lantas membuat initial public offering e-commerce tersebut sepi peminat. Ternyata IPO Bukalapak dikabarkan mengalami kelebihan permintaan atau oversubscribed.

Sumber di bursa menyebut, harga pelaksanaan ditetapkan di level Rp 850 per saham. Ini batas kanan dari rentang harga IPO yang sebelumnya ditetapkan, paling rendah Rp 750 per saham.

Pada level harga pelaksanaan tersebut, IPO Bukalapak oversubscribed hingga empat kali. Dengan kata lain, Bukalapak meraup dana segar optimal, hingga Rp 21,9 triliun. Bursa Efek Indonesia (BEI) juga belum merinci terkait perkembangan penyesuaian teknis pencatatan saham di papan perdagangan.

Dalam perhelatan IPO, Bukalapak melepas 25,76 miliar saham baru. Jumlah tersebut setara 25% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO. Sekitar 66% dana IPO akan digunakan sebagai modal kerja. Kemudian, sisanya akan dimanfaatkan untuk modal kerja sejumlah anak usaha Bukalapak.

Secara rinci, sekitar 15% diperuntukkan bagi PT Buka Mitra Indonesia dan sekitar 15% untuk PT Buka Usaha Indonesia. Sementara, masing-masing 1% akan dialokasikan untuk Buka Investasi Bersama, Buka Pengadaan Indonesia, Bukalapak Pte Ltd, dan Five Jack.

IPO Bukalapak sebelumnya membuat  investor terpecah setidaknya menjadi dua golongan. Pertama, golongan futuris yang rela membeli saham meski startup masih merugi lantaran mempertimbangkan prospek dan kaum tradisional yang enggan membeli saham mahal tapi masih merugi.

Silva Halim, Managing Director Mandiri Sekuritas menjelaskan, startup terutama yang sudah berskala big tech sudah tidak lagi bisa menggunakan valuasi konvensional. Jika perusahaan tradisional menggunakan valuasi seperti price to earning ratio, big tech salah satunya menggunakan perbandingan antara gross merchandise value dengan EBITDA (GMV/EBITDA).

Kerugian bahkan merupakan hal yang wajar demi membentuk ekosistem yang kuat. Kalau sudah jadi, monetize bisa cepat. Oleh karena itu, pilih big tech yang sudah dominan di ekosistemnya," lanjut Silva.

Beberapa analis saham menilai valuasi Bukalapak terlampau mahal jika menggunakan basis GMV lantaran hanya sekitar 1%-2% dari GMV yang bisa dikonversi menjadi pendapatan. Dengan metode ini, valuasi Bukalapak sekitar 1,5, kali, tiga kali lipat di atas Alibaba yang hanya 0,5 kali.

"Akan lebih fair bagi investor jika menggunakan valuasi perbandingan market cap dengan pendapatan," ujar Robertus. Jika menggunakan metode ini, valuasi Bukalapak di level Rp 850 sekitar 64,8 kali. Namun porsi saham bagi investor ritel saat IPO ini bsa semakin membesar. (PR)

 

(Warta Wartawati\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar